Menikah adalah sebuah keputusan besar antara seorang pria dan wanita yang telah berkomitmen untuk membentuk sebuah keluarga. Tidak mudah mengambil keputusan bahwa kita memilih pasangan yang akan kita jadikan sebagai pasangan hidup selamanya. Karena menikah bukanlah lagi perkara aku dan kamu, ataupun semata-mata raga yang sudah diikat dalam suatu ikatan. Sebelum akhirnya kita berani mengatakan Yes, I do sebaiknya ada beberapa hal yang harus kita ketahui dari pasangan kita, supaya nantinya setelah menikah tidak akan ada lagi penyesalan yang membuat seseorang akhirnya memutuskan berpisah (cerai) seperti yang saat ini banyak dilakukan kebanyakan orang.

Apa yang mendasarinya sepakat untuk berkomitmen?

Advertisement

Salah satu hal yang mendasari seseorang untuk menikah adalah cinta. Meskipun terlihat gombal tapi inilah hal penting yang harus dimiliki antara pria dan wanita yang ketika memutuskan untuk menikah. Mereka harus memiliki cinta yang memang yang berasal dari hatinya. Artinya mereka menikah atas dasar saling mencintai bukan karena paksaan karena orang tua, karena umur sudah matang, dan tuntutan-tuntutan yang lain.

Ada banyak orang yang mengatakan, cinta bisa dipupuk, cinta bisa dibangun seiring berjalannya waktu. Seperti pepatah Jawa yang mengatakan “witing tresno jalaran soko kulino”. Memang benar bahwa cinta bisa dipupuk, tapi tetap saja dibutuhkan cinta sebagai dasar, minimal kita sudah mencintai terlebih dahulu untuk kemudian dapat membangun cinta itu menjadi lebih besar dan lebih kuat. Tanpa cinta sebuah pernikahan hanya akan menjadi sesuatu yang hambar. Hal inilah yang kemudian sering memicu terjadinya cekcok atau pertengkaran dalam rumah tangga di kemudian hari. Memang sih pertengkaran dalam suatu hubungan pasti terjadi tapi jika kita mempunyai cinta yang kuat, pertengkaran hanya akan menjadi bumbu yang mewarnai dalam suatu rumah tangga.

Bagaimana masa lalu pasangan?

Advertisement

Masa lalu adalah bagian hidup dari seseorang, tidak ada salahnya jika kita mengetahui bagaimana masa lalu dari pasangan kita. Hal ini bertujuan supaya kita tahu bagaimana latar belakang masa lalunya, seperti apa kegagalan di masa lalunya, gaya pacarannya, seperti apa teman-teman maupun pergaulannya. Dengan begitu kita bisa menilai seperti apa orang yang akan mendampingi kita ini.

Jika kita telah bersepakat menerima pasangan kita untuk menjadi teman hidup, konsekuensi yang kita terima adalah kita harus siap menerima semua masa lalunya seburuk apapun itu. Meskipun demekian bukan berarti pasangan dengan sesuka hati bisa membandingkan kita dengan masa lalunya ataupun sengaja mengaitkan dirinya dengan masa lalunya.

Sudahkah kita bersikap jujur dalam keadaan apapun?

Kejujuran merupakan kunci awal dalam membina relasi yang baik dengan pasangan. Suatu hubungan yang dimulai dari ketidakjujuran pasti akan selamanya dipenuhi pertengkaran karena tidak adanya kepercayaan satu sama lain. Hal ini kemudian memicu rasa curiga yang berlebih, cemburu dan adanya sikap yang merasa bahwa dirinyalah yang paling benar. Untuk itu kejujuran merupakan point penting yang harus diawali bahkan ketika masih pacaran.

Mulailah membiasakan diri jujur terhadap pasangan sekalipun itu hal-hal kecil. Ada beberapa orang yang dengan terpaksa mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenarannya dengan tujuan untuk membuat pasangan senang. Biasanya orang sering menyebutnya dengan berbohong untuk kebaikan. Apapun alasannya berbohong demi kebaikan tidak baik dilakukan. Jika kita terbiasa untuk melakukan kebohongan-kebongan kecil, hal ini tidak menutup kemungkinan jika suatu saat akan ada kebohongan besar yang pasti akan dilakukan. Untuk itulah lebih baik kita mengatakan kejujuran sekalipun itu menyakitkan dari pada mengatakan hal yang tidak sesuai dengan dengan hati kita.

Masih adakah hal yang disembunyikan?

Sebagai pasangan yang sudah saling berkomitmen untuk menuju jenjang pernikahan, seharusnya sudah tidak ada lagi hal yang disembunyikan dari pasangan. Dibutuhkan sikap keterbukaan dari keduanya agar dapat saling mengenal satu sama lain. Hal yang biasa disembunyikan dari pasangannya adalah media sosial dan penghasilan.

Penghasilan merupakan sesuatu yang bersifat pribadi, namun terbuka terhadap pasangan termasuk tentang gaji yang kita punya adalah hal wajib. Mungkin ada yang merasa tabu membicarakannya selagi belum berkeluarga. Jika kita berani terbuka terhadap pasangan tentang hal ini artinya kita sudah berada pada tahap kenyamanan karena tidak ada lagi yang disembunyikan.

Ada juga pasangan yang belum mau terbuka tentang keberadaan media sosialnya. Bahkan ada yang sengaja tidak berteman di media sosial. Jika hal demikian yang terjadi kemungkinan besar ada yang masih disembunyikan pasangan, entah itu tentang teman-temannya, pergaulannya, bahkan masa lalunya. Biasanya tipe orang seperti ini akan lebih memproteksi media sosialnya dengan memberi password, termasuk handphone. Hayo ada nggak yang berani buka handphone pasangannya?

Berani meminta maaf.

Dalam suatu hubungan pasti akan ada yang namanya pertengkaran. Bukan pertengkarannya yang harus digaris bawahi melainkan bagaimana kita menghadapi pertengkaran tersebut. Hubungan yang dewasa bukan dinilai berdasarkan usia keduanya, bukan juga berapa usia hubungan yang dijalani. Melainkan lebih kepada bagaimanakah sikap yang dimiliki dari keduanya untuk berani meminta maaf terlebih dahulu terlepas siapa yang salah dan siapa yang benar.

Biasanya saat masih pacaran hal ini akan membuat gengsi, karena keduanya masih sama-sama memiliki ego yang besar. Tak jarang pertengkaran akan terjadi selama kurun waktu beberapa hari dengan sikap saling menghindar satu sama lain. Tetapi dalam sebuah hubungan yang sudah mulai menuju ke arah pernikahan, hal demikian tidak berlaku. Dibutuhkan hati yang lapang untuk mau memaafkan, menerima segala kekurangan pasangan. Jadi biasakanlah untuk mengatakan maaf jika terjadi pertengkaran terlepas dari siapa yang salah dan benar.

Nah demikian tadi beberapa hal yang harus diketahui dari pasangan sebelum akhirnya kita memutuskan untuk menikah. Supaya nantinya pernikahan yang dijalani dapat langgeng meskipun banyak cobaan yang akan dihadapi. Karena pada prinsipnya, pernikahan yang bahagia membutuhkan dua orang yang sama untuk saling jatuh cinta secara terus menerus.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya