Ada yang mengatakan ruang kita terlalu padat.

Perlu jeda dan butuh jarak.

Advertisement

Lalu, masing – masing kita sudah melakukan itu.

Kini, jeda dan jarak yang kita buat berhasil.

.Asing.

Advertisement

Aku membuka surat yang masih tersimpan pada kotak bekas yang kini sudah usang.

Sama seperti rasa yang kini juga telah usang. Surat-surat ini ada karena sebuah sesak yang tak kunjung selesai. Sesak, karena ruang yang kita buat terlalu padat. Keseringan kita akan sebuah temu nyatanya membuat kita semakin terbiasa melontar kata, setiap hari saling menatap di atap yang sama dengan kuantitas waktu yang lama seperti membuat kata “rindu” tidak punya tempat. Lalu, kala itu kita membuat keputusan untuk menciptakan rindu. Bagaimana jika kita membuat jarak ?

Sepakat. Tidak main-main jarak yang kita buat benar-benar signifikan. Berpindah di tempat yang bahkan tidak satu daratan. Laut yang biasanya menjadi tempat kita mencipta tawa, kini menjadi tanda tempat yang tak lagi sama, yang tak satu atap (lagi). Laut ialah pemisah kita untuk mencipta rindu. 

Seminggu pertama, kita berkomunikasi lewat kemajuan teknologi telfon, chat, dan videocall. Kita mencoba hal baru untuk mencoba tak beri kabar di minggu ke dua. 

Aku mengeluhkan tapi katamu “Tak apa, kita tak saling sapa memberi kabar untuk beberapa waktu, bukankah kita pernah sama-sama bilang juga bahwa mempertanggungjawabkan sebuah pilihan adalah yang utama. Baik- baik di sana”.

“Be my self”, saya mempergunakan kesempatan ini untuk benar- benar menjadi diri sendiri. Melakukan hal- hal yang diinginkan ketika tak bersamanya, travelling, juga menulis. I’am feel free.

Benar- benar menikmati.

Aku menemukan sebenar- benarnya aku.

Minggu ke 3, kutemukan jejak digital lewat teknologi yang kini bisa dilihat siapa saja. Jejak digital yang seharusnya membuat ku terisak namun nyatanya tidak. Sebuah foto tubuh dengan pundak yang menjadi senderan. Juga kening yang terkena bibir mungil yang tak ku kenal. Berhasil. Jarak kita berhasil. Hanya jarak yang berhasil dibuat tetapi tujuan mencipta “rindu” sama sekali tidak.

Aku hanya menggertak dan kau minta maaf.

“Maaf” sebuah kata yang menjadi tanda koma, dan titik untuk kita.

Untuk kata “maaf”, yang terlalu banyak kau ucapkan. Bolehkah aku mengembalikan maafmu dengan kata “maaf, aku sudah terlanjur asing. Sampai rasanya menjadi usang. Mari kita cukupkan saja, dengan mengganti kata “kita” menjadi kau dan dan aku “.

Saya patah tetapi mengubahnya menjadi sebuah tulisan yang kini bisa dinikmati banyak orang.  Membuat jejak-jejak dengan tidak menjadi sejarah diri sendiri. Terimakasih sudah menjadi pelajaran, membuat patah naik tingkat menjadi ambisi. Menamparmu dengan cara yang elegan, dengan membuatmu terharu.

Ini surat yang kini ada di kotak usang,

 

Surat ini dibuat dengan backsound lagu Kultusan – Sal Priadi yang liriknya terngiang-ngiang.


Pada kening yang kini dingin

Pada raga yang tetiba kaku

Atau genggam yang sedang merenggang

Pun tanpa jari mengisi sela

Tanpa bibir yang pulang pada kening

Tanpa tubuh erat dalam dekap

Kini hanya kaki yang berada di sisi kanan atau kiri

Melangkah masing- masing. 

Atas patah yang kau beri

Terimakasih.

Atas kecewa yang ditinggalkan

Seharusnya diakhirkan.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya