Kita pernah melalui suatu perjalanan yang panjang bersama.


Tidak menancap gas, tidak pula melambatkan kecepatan. Sesekali mogok tetapi tetap bergerak maju. Kadang  menggores senyum, juga menorehkan luka. Kita berdua sempat tertatih-tatih mendaki puncak bahkan tergelincir bersama di penurunan. Dihentak oleh gundukan bahkan jatuh dalam lubang. Bahagianya adalah; kita tetap berjalan bersama.

Advertisement

Seolah tahu akan berujung dimana, kita memaksakan banyak hal untuk tetap menapak dialur yang sama. Merakit kenangan-kenangan, berharap ini tak akan ada ujungnya. Walau sejujurnya berharap-harap cemas menanti jawaban semesta diakhir kisah kita.

Hari-hari berlalu bahkan menghabiskan lima tahun bersama. Aku sudah terjerat dan terikat sangat dalam. Kugantungkan kebahagiaanku pada manusia lain selayaknya percayaku telah sampai di titik puncak.

Kubangun rumah dalam hati itu, bermaksud ingin menikmatinya sampai tua kelak. Tempat pulang saat lelahnya dunia menyesakkan dada. Pula tempat berbagi cerita saat tulang dan raga telah rapuh.

Advertisement

Kubiarkan hatiku tertambat sebab telah yakin akhirnya inilah titik terakhir pencarianku. Tempatku melabuhkan banyak angan dan asa tentang memiliki dan dimiliki. Tempatku menemui teduh dunia dari dua binar bola mata yang bisa kupandangi setiap membuka mata dipagi hari.

Kutanam banyak cinta, agar berbunga saat nantinya kita benar-benar siap untuk hidup bersama. Diapun tak lupa menyirami setiap saat. Katanya agar tak layu.


Walau sebenarnya  yang mekar juga bisa gugur satu persatu.


Mungkin ini masanya untuk meyakinkan hati bahwa semesta memang merestui kita. Tidak ingin terburu-buru, tetapi kupikir tidak ada salahnya memikirkan ini. Waktupun terus beranjak. Kusadari kita ternyata tak beranjak. Berpikir telah jauh  berjalan, nyatanya tidak kemana-mana. Berpijak di titik yang sama dan tak pernah mendobrak ruang yang akan kita tinggali bersama.

Sayang, bukannya memantapkan hati, kita malah memantapkan untuk berhenti. Jarak tiba-tiba memisahkan pandang kita dan kejenuhan menyia-nyiakan seluruh perjuangan yang kita lakukan bertahun-tahun sudah.


Pada akhirnya sesuatu yang telah menjadi canduku harus lepas begitu saja.


Hancur lebur harapku. Masa bodoh tentang jodoh atau tidak, kali ini aku benar-benar patah. Rasanya seperti habis berlelah-lelah untuk berkebun, tetapi mati duluan sebelum panen tiba. Yang paling menyayat: kita membangun komitmen bertahun-tahun namun hanya dalam sehari kita malah meruntuhkannya. Bak menampung tetes air hujan lalu setelah penuh menuangkannya ke tanah.

Sementara hati sedang rusak-rusaknya, semesta membawa masuk manusia lain. Kita menikah dan dia bukan kamu. 


Satu yang kusadari, entah seyakin dan selama apapun jika bukan jodoh, aku bisa apa?


Setelah ini kamu apa kabar? Mungkin semesta membiarkan ini terjadi agar kita masing-masing mendapatkan dan menjadi lebih baik. Mari sudahi ini, agar kita sama-sama membalut luka lama dan berani menatap ke depan.

Sampai berjumpa di kehidupan yang lebih baik walau tanpa ada kisah kita lagi di dalamnya.

Based on true strory: Lina

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya