Tanggal 18 November 2016 adalah tanggal yang tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku. Masa itu adalah masa-masa paling indah untuk dikenang kembali. Aku bagaikan hidup di dunia kebahagian yang tiada hentinya. Semua yang ku lalui bersamamu waktu itu begitu indah. Apapun itu aku mengenang semuanya. Ketika aku baru datang ke sana dalam keadaan lapar dan kau mengajak makan di warung padang, ketika kita hujan-hujanan dalam rintik yang tak begitu deras. Semua aku mengenangnya. Tapi kau memberiku bekas luka yang teramat dalam setelah semua kejadian itu berlalu.


Jogja terlalu sayang untuk dilupakan,

Advertisement

Tapi teramat sakit untuk dikenang.


Waktu itu aku yang datang jauh dari Kota Lamongan menuju tempat di mana kau kuliah, ya, Jogja. Perjalan 12 jam rela aku tempuh hanya karena ingin bertemu denganmu. Dalam perjalan pun aku tak tau arah mana yang harus ku tuju. Aku hanya mengikuti saran dan petunjuk yang kau berikan. Aku buta dengan tempat, aku hanya ingin sekali bertemu denganmu. Sampai-sampai aku ditipu oleh penagih karcis bis, yang mana aku harus membayar dua kali dalam satu perjalanan. Tak peduli berapa uang yang aku keluarkan, dalam benakku hanyalah ada dirimu dan dirimu.

Aku pun sempat khawatir, sesampainya di suatu terminal, tempat yang kau suruh itu jauh dari sini dan aku salah naik bis ketika ku tanyakan kepada orang sekitar sana. Lalu pesanmu datang memberi petunjuk untuk melalui jalur yang berbeda. Waktu itu kita masih sangat mesra. Aku terlalu dibutakan oleh mu.

Advertisement

Sampailah aku di tempat dimana yang kau bilang kepadaku. Kau berjanji untuk menjemputku pada saat itu. Takutnya aku bertemu denganmu dengan muka jelek yang seharian berada di dalam bis. Aku pun mencari air di toko-toko yang ada dihadapanku. Ku basuhlah wajahku dengan air, berharap jika bertemu denganmu aku tidak terlalu buruk di matamu.

Waktu berlalu 30 menit setelah aku membasuh muka. Aku juga sesekali mencium bau badanku sebelum berjumpa denganmu, aku juga memberi sedikit parfum yang ku bawa kebadanku, berharap aku terlihat cukup baik saat berjumpa denganmu.

Ku rapikan baju dan celanaku serta tas yang aku bawa sembari berkata-kata sendiri, berharap ketika bertemu denganmu aku bisa menyapamu dengan manis. Muka yang kusam pun ku bersihkan dengan sedemikiannya. Aku ingin terlihat sempurana saat pertama bertemu denganmu.

Kau pun datang tak lama ketika aku bicara sendiri. Jantungku berdebar saat pertama melihatmu, aku bingung mau barbuat apa setelah menatapmu. Kurapikan ramput bentuk salah tingkahku dan aku menyapa "hai" kepadamu. Kau pun membalas dengan senyuman. Entah kenapa senyummu pada senja itu membuatku tak akan penah melupakannya. Kau terlihat begitu manis. Walau pun setiap waktu senja aku rabun, tapi saat itu aku dengan jelas melihat senyummu kepadaku. Pipimu yang sekarang bertambah tembem, matamu yang menunduk setelah melihatku. Semua itu tak akan pernah kulupakan.

Segera mungkin kau mengajakku ke tempat tinggalmu dengan mengendarai motor, karena waktu magrib hampir mengumandangkan suaranya. Kau turunkan aku langsung di depan masjid kampusmu dan ya, waktu itu sandalku putus. Maaf sebelumnya, karena aku lupa tidak membawa sepatu sehingga tidak bisa masuk kelas malam bersama dirimu.

Malam itu, setelah sholat magrib, kita langsung makan di warung padang. Aku ingat sekali ketika kamu masih gengsi di hadapanku. Kau mencoba makan dengan gaya manis dengan menggunakan sendok, sampai-sampai belepotan dan gak karuan semua, dan akhirnya kau menggunakan tangan sepertiku. Masih teringat jelas di benakku. Kau juga khawatir karena aku tidak mendapatkan tempat tidur. Tapi aku tak mengapa, aku tidur di masjid itu sudah cukup bagiku, asalkan aku bisa bertemu denganmu.

Acara yang kita rencanakan keesokan harinya pun tiba. Kita berangkat siang hari untuk menonton film Fantastic Beast and Where to Find Them di Hartono Mall. Kita naik Trans Jogja, ingat? dan kau melamun saat itu sampai kita tidak menaiki trans yang pertama datang. Kita habiskan waktu bersama di dalam mall. Beli pop corn yang ukuran jumbo sambil nonton film, berjalan mengelilingi mall, beli es coklat bersama, sampai waktu tiba menjelang adzan magrib. Kita harus segera pulang. Dan kau ingat, saat kita pulang menuju tempat kosmu dengan berjalan kaki samapi tiga jam? Itu adalah hal yang paling melelahkan dan paling menggembirakan dalam hidupku. Dalam perjalanan kita bicara mengenai semua hal, lalu sesekali berhenti dan membeli jus mangga.

Sesampai di depan kompleks kosmu, kita berhenti duduk bersama dan mengenang semua kejadian masa-masa indah yang kita alami pagi hari tadi. Saling tak menyangka jarak 13 km bisa ditempuh dengan jalan kaki. Bernyanyi bersama lagu yang sering kita nyanyikan. Sampai waktu berlarut malam dan kita memutuskan untuk pulang dan tidur. Itulah waktu yang paling menyakitkan dalam hidupku.

Aku tau kita tidak ada ikatan, kita hanya sahabat biasa. Aku tau kau juga menyukai seseorang yang lain. Tapi entah kenapa, hati ini akhirnya jatuh ketika berjumpa denganmu di kota itu. Aku juga menyadari kita hanya teman dan aku juga mencoba agar selalu jadi teman yang baik kepadamu. Tapi kenapa di setiap harinya kau memancing hati ini agar mencintaimu, dengan kecemburuanmu terhadapku karena aku bersikap acuh ketika kau menelfon orang lain. Aku bersikap cuek ketika kau kebingungan karena tugas kuliah. Aku malah sama sekali tidak peduli denganmu. Dulu kau hanya ku anggap teman biasa saja, kini saat tepat menginjakan kaki di Kota Jogja, aku sungguh jatuh cinta terhadapmu.

Akhirnya aku pegang tanganmu yang hendak pergi. Aku bilang bahwa aku ingin bicara serius kepadamu. Aku ungkapkan rasa aneh yang tiba-tiba muncul ini, bahwa aku mencintaimu. Tapi aku tidak ingin kau menjadi pacarku. Aku tidak ingin seperti mereka yang selalu memainkan hati wanita. Aku bilang suatu hal yang sebetulnya belum layak untuk kau dengar, karena kau baru saja masuk kuliah di semester pertama. Aku ingin melamarmu.

Setelah aku mengucapkan kata-kata itu, kau diam seribu bahasa. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut manismu, yang dulu menghiasi senyumku. Parahnya, besok hari aku pulang ke kota asalku. Kau pun cuek dan tak mau berkata banyak. Kau juga mengantarku tanpa ada kata perpisahan. SMS ku juga kau balas dengan singkat. Kenapa kau tiba-tiba jadi seperti ini? apa salahku yang ingin serius denganmu. Aku bilang akan melamarmu setelah kau selesai sarjana. Tapi kau menjadi sangat berbeda. Seolah-olah kita tak pernah mengenal satu sama lain.

Sampainya aku dirumah, malam harinya tiba-tiba kau mengirim SMS kepadaku yang berisi "lebih baik kita tidak pernah berhubungan lagi, maaf". Sungguh aku sangat terpukul membaca kata-kata itu. Kisah bahagia kita yang kemaren seketika menjadi cerita sedih dan tak pernah terjadi. Semua kejadian itu membuatku sakit. Hatiku bagai teriris dan menimbulkan luka yang sangat dalam. Aku heran, lalu jika kau tidak suka, kenapa kau memberi harapan kepadaku? Kau berharap aku cemburu kepadamu karena laki-laki lain, kau beri kata-kata manis kepadaku padahal aku tak pernah bersikap manis kepadamu. Kenapa kau begitu tega sehingga meninggalkanku seperti ini, tanpa penjelasan dan tanpa kata-kata.

Kau blok akun WA ku, Facebook, bahkan nomer telfon ku juga kau blokir. Kau membuatku sama sekali tak bisa menghubungimu. Bahkan hanya untuk meminta maaf pun aku tidak bisa. Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian yang menyakitkan ini. Hatiku sangat terluka. Bodohnya aku, siapa aku, hanya anak desa yang tak kuliah dan cuma anak jualan gorengan. Berharap mendapatkan wanita cantik sepertimu?

Hidupku hampa tanpa dirimu. Hari-hari kini kujalani tanpa ada dirimu. SMS darimu pun kini tak pernah muncul, yang bahkan sehari bisa lebih dari lima kali tanpa aku yang memulai. Kini hidupku entah harus bagaimana. Kau yang selalu memberi semangat di setiap hari sekarang sudah tiada. Kau tinggalkan aku begitu jahatnya.

Sampai sekarang aku masih memikirkanmu, aku tidak berharap lagi kau jadi milikiku, tapi setidaknya kembalilah seperti sahabat yang pernah ku kenal, Lafra.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya