Setelah kami berpisah,
aku berusaha terlihat tegar dengan berusaha menjalani hal – hal yang dulu tidak pernah bisa aku lakukan bersamamu,

Setelah perpisahan baik – baik yang kami lakukan,
kami membuat beberapa perjanjian,
salah satunya adalah dia memintaku selalu mengijinkan atau meluangkan waktuku ketika dia ingin bertemu denganku,
dan ya aku jawab aku setuju dengan itu.

Kami sepakat untuk tidak mengganti nomer hape dan juga tidak memblokir social media satu sama lain,
jangan tanya soal perasaan ku karna sejujurnya aku masih tidak bisa terima dengan keputusan ini.

Sebelum kami memutuskan untuk berpisah,
kami sempat sama sama berjuang tapi hati ku sudah terlalu lelah dan tak bisa mempertahankan dia lagi,
dan akhirnya aku menyutujui perpisahan itu.

Dengan segala masalah yang pernah kami alami dari semenjak kami pacaran di bangku SMK,
dan sekarang kami sudah kerja sambil kuliah rasanya untuk segera pulih dari rasa sakit itu susah.
Karena hampir setiap hari aku bersamanya, dalam sebulan kami tidak bertemu hanya 1 – 2 kali.
Setiap harinya dari pagi sampai malam aku habiskan waktuku bersamanya,

Dia cewe manja yang akan marah bila aku membalas lama smsnya meski itu hanya telat 1 menit,
cewe manja yang tidak akan makan bila tidak ditemaniku,
cewe manja yang akan menangis bila aku tiba – tiba berubah menjadi pendiam,
cewe manja yang akan menelponku malam-malam hanya karna terbangun atau minta di temani ke kamar mandi lewat telepon,
cewe manja yang akan memintaku mengantarnya kemanapun dia ingin pergi, salah satunya adalah kamar mandi.

tapi dia juga cewe penuh perhatian,
cewe yang selalu membekaliku makanan, untuk aku makan di jam makan siang.
cewe yang menemaniku makan , menemaniku melakukan apapun.

Dia tidak pernah mengeluh ketika aku ajak motor – motoran siang hari,
meski aku harus menahan tawa melihat dandanannya yang super tertutup itu.
Dia memakai helm, masker, sarung tangan, baju panjang, celana panjang, kaos kaki, sepatu.

Dia tidak pernah mengeluh ketika kami sama – sama melamar pekerjaan ke daerah jakarta aku hanya bawa uang sedikit hanya bisa mentraktirnya gorengan, menaiki angkutan kendaraan umum yang pertama kalinya untuk kami seperti kereta dan metromini.
Dia tidak pernah mengeluh ketika aku hanya bisa mentraktir makanan pinggir jalan atau warteg , meski pernah sekali ternyata makanan di warteg itu ada yang basi sehingga akhirnya dia harus ke dokter dan di suntik karna keracunan.

Dia tidak pernah mengeluh ketika harus mendorong motorku yang kempes dan harus berjalan jauh mencari tukang tambal ban.
Dia tidak pernah mengeluh ketika harus merawatku di kantor karna aku sakit.
Dia juga orang sabar yang akan berusaha menyuapiku makanan ketika aku sedang tidak selera makan, membujukku minum obat ketika migrain ku kambuh.

Dia juga orang sabar yang akan mendengarkan keluh kesahku,
yang paling mengerti dan bisa membuat mood ku kembali baik.
Pelukannya juga adalah obat paling ampuh yang bisa membuatku tenang.

Baginya yang terpenting kami selalu bersama.

Tapi aku juga pernah kewalahan dengan sikap cemburuannya.
Dia akan marah hanya karna melihatku foto berdua dengan cewe lain meskipun itu temanku dan dia pun tahu.
Dia akan marah hanya karna aku berbicara atau ngobrol dengan teman cewe ku, aku hanya boleh mengobrol dengan dia dan orang – orang yang dia ijinkan untuk aku ajak bicara.
Dia akan marah hanya karna ada sms masuk dari orang yang tidak dia kenal, dia akan langsung menyita hapeku.
Dia akan marah hanya karna ada teman kerjaku yang menyapaku atau bercanda dengan ku.

Makanya tidak heran dikantor aku sering di ejek dan di ledek sebagai orang yang takut dengan pacar.

Lalu setelah perpisahan ini?
Bagaimana bisa aku baik – baik saja, bukan?
Dengan segala kebiasaan itu.

Sampai akhirnya aku berusaha melupakannya dengan pindah kerja dan kuliah.

Aku tidak lagi sekantor atau satu kampus lagi dengannya,
memulai dengan melakukan aktifitas yang dulu di larang olehnya,
mencari teman baru, main sosial media, apapun yang dulu tidak aku lakukan dengan dia.

Awalnya aku merasa bebas,
namun di saat tertentu aku masih suka merindukannya,
merindukan segala hal yang dulu pernah terjadi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya