Siang itu suasana kost memang ramai karena hari itu tanggal merah tepat di hari Jumat, banyak teman-teman kost menghabiskan weekend di kost. Entah tanggal merah karena hari besar apa aku kurang mengingatnya, tapi yang jelas tanggal tersebut antara tanggal 25 – 30, yaitu tanggal akhir bulan, tanggal dimana yang beberapa orang takuti termasuk aku. Waktu itu posisiku masih sebagai seorang mahasiswa semester akhir dan sebagai karyawan juga di sebuah perusahaan software house. Iya, aku adalah seorang mahasiswa yang menyambung hidup dan biaya kuliah dengan bekerja sendiri.

Ada sedikit kerisauan dihati siang itu, bukan karena sepi atau karena cinta. Risau itu karena melihat ATM yang tak ber-saldo sama sekali, dan isi dompet tinggal satu lembar biru bergambar I Gusti Ngurah Rai dan satu lembar coklat bergambar Tuanku Imam Bondjol, tepat di dompetku saat itu senilai Rp. 55.000,-. Bagaimana aku akan bisa bertahan dengan sisa uang segitu untuk beberapa hari lagi, tangal gajian masih lama jika dihitung dengan berapa kali beli makan. Hal itu yang benar-benar membuat siang di hari itu terasa berat, dan jarang sekali aku bercerita ke teman-teman tentang kondisi keuangan, karena meminjam bagiku adalah opsi terakhir. Bisa dibayangkan sendiri dengan sisa uang itu untuk hidup di kota besar seperti ini beberapa hari, hal yang tidak mudah.

Advertisement

Tepat pukul 11.40 terdengar suara adzan dzuhur mendayu-dayu dari sebelah, bergegaslah semua penghuni kost untuk menunaikan shalat Jumat. Sebelum berangkat aku buka kembali dompet warna hitam kumal yang tergeletak di atas meja itu, aku ambil lembar warna coklat dengan gambar bijaksananya wajah Tuanku Imam Bondjol itu. Kulipat lembar itu menjadi sangat kecil dan kuselipkan di ujung peci hitam. "Amal jariyah", itu tulisan yang ada di kotak kayu depan pintu masjid tersebut, aku paksa rasa ikhlasku untuk mengambil lipatan kecil di peci tadi dan memasukkan ke kotak amal dengan perlahan, Ya Tuhan….berilah hamba uang, itu yang aku ucapkan dalam hati sebelum masuk pintu masjid.

Selepas dari Masjid kembalilah aku ke kost yang sangat indah menawan itu, ya indah menawan karena memang tidak ada pilihan tempat tinggal lain. hehe. Hati sedikit tenang dan kurebahkan tubuh ini di kasur yang tak ber-dipan. Kring…kring….suara hape berbunyi di ujung meja, seketika itu langsung aku langsung berdiri dan mencari arah sumber bunyi itu. Nomor tidak dikenal memanggil, aku tekan icon telfon warna hijau untuk menjawabnya.

Saya : Halo selamat siang, dengan siapa?
Stranger : Selamat siang, betul ini dengan Jiyo?
Saya: Iya betul pak, dengan siapa ini?
Stranger : Saya Gatot(nama samaran), temannya Siti (nama samaran). Saya dapat kabar dari Ibu Siti kalau Mas bisa membuat website ya?
Saya : Betul sekali pak. (dengan nada yang sumringah dan bercampur bahagia meskipun beliau baru tanya seperti itu).
Stranger : Gini mas, saya pengen buat website untuk usaha saya. Boleh kita atur waktu untuk ketemu? Kapan sampean bisa?
Saya : Sekarang pun bisa pak. (saking semangatnya)
Stranger : Oh, saya sekarang lagi di bandara mas mau ke luar kota, gimana kalau senin depan kita ketemunya?
Saya : Oh iya pak, siap. Nanti saya dikabari lagi ya pak jam dan tempatnya.
Stranger : Oke, makasih mas..sampai ketemu senin.

Advertisement

Oke, percakapan singkat di telepon waktu itu cukup membuat aku pergi jauh dari gelisah karena uang saku menipis. Entahlah meskipun belum menerima uang sepeserpun dan belum tahu caranya hidup nanti sampai hari minggu, setidaknya ada semangat baru yang tiba-tiba muncul.

Hari Senin yang aku tunggu-tunggu datang juga, terima kasih Tuhan ternyata aku masih bisa hidup dengan sisa uang itu untuk hari sabtu-minggu. Siang itu berdering lagi hapeku dari Pak Gatot :

Pak Gatot : Halo Masjiyo, siang ini bisa ketemu di Excelso Tunjungan Plaza?
Saya : Hmmm, bisa-bisa pak. Jam berapa tepatnya? (dalam hati mikir, nanti ini bayar pakai apa Tuhan. hufft)
Pak Gatot : Oke, jam 12.30 saya tunggu ya Mas. Terima kasih
Saya : Baik pak, terima kasih kembali.

Oke, file presentasi sudah aku siapkan rapi di laptop. Dengan semangat dan penuh harap aku bawa motor Ducati Monster 600 CC eh salah maksudku Honda Kharisma 125 membelah panasnya Surabaya siang itu. Oke, sesampai di Tunjungan Plaza aku cari tempat itu. Sebisa mungkin aku setting wajah dan penampilan yang profesional dan jauh dari kata tidak punya uang siang itu. Setelah dia menerangkan ciri-cirinya dan memakai baju apa, aku lansung saja samperi seorang bapak-bapak chinese di ujung Kafe tersebut. "Halo Pak, selamat siang…saya Jiyo.", begitu sapaku sambil menyodorkan tangan. Setelah basa-basi ngobrol sana-sini kemudian beliau mulai menjelaskan apa yang akan dibuat. Dengan seksama aku menyimak dan mencatat apa yang disampaikan beliau siang itu.

Oke, setelah semua terangkum dimemory aku membuka laptop dan mempresentasikan sedetail dan sejelas mungkin jasa dan portofolioku ke beliau. Jika ada cctv yang merekam percakapanku siang itu, mungkin seperti marketing kartu kredit atau asuransi yang dengan wajah optimis akan produknya. Setelah menyimak beliau langsung tanya :

Pak Gatot : Oke mas, saya sangat senang mendengar presentasi sampean. Jadi harganya berapa mas untuk membuat website seperti yang saya jelaskan tadi?
Saya : Untuk kebutuhan bapak yang disampaikan tadi, bapak perlu membayar Rp. X.XXX.XXX pak.
Pak Gatot : Siap mas, sebentar ya tunggu disini sebentar.

Entah mau kemana beliau waktu itu, aku kira mau ke toilet atau menemui siaapa diluar sana. Ternyata….setelah kembali ke meja beliau langsung menyerahkan amplop warna putih.

Pak Gatot : Mas, saya percaya sampean. Ini saya langsung bayar tunai, silahkan dihitung ya mas.
Saya : Hmmm..pak, baik pak. (bingung). Iya pak sudah benar.
Pak Gatot : Oke mas, nanti kalau ada data yang kurang atau menginformasikan progressnya kita kontak by email saja ya. Sambil menyerahkan flashdisk beliau bilang seperti itu.
Saya: Baik pak, akan saya kerjakan secepat mungkin.
Pak Gatot : Oke mas, terima kasih banyak ya. Saya tunggu kabarnya.
Saya : Siap Pak, sambil jabat tangan dan pamitan.

Siang itu setelah keluar dari excelso hati ini seperti tanah tandus yang tiba-tiba disiram air, kemudian tumbuh dan bermekaran bunga, dan wanginya semerbak mengharumi ladang. Perlahan aku jalan kembali ke parkiran motor dan perasaan gembira dan bersyukur. Sungguh engkau menjawab doaku hari Jumat itu Tuhan, terima kasih. Nilai yang aku masukkan ke Masjid kalau itu Engkau balas seketika dengan ber 800x lipat. pikiranku melayang-layang, hatiku penuh haru, tak ku sadari air mata menetes diperjalanan pulang itu. Tuhan, terima kasih…Tuhan terima kasih atas nikmatmu.

Dari perkenalan menggarap proyek dari Pak Gatot itulah aku mempunyai banyak koneksi dan mendapat proyek-proyek lainnya yang nilainya jauh lebih besar. Lalu, nikmat Tuhan mana yang harus kita dustakan? Jangan berhenti untuk memberi, karena rejeki itu seperti kumis. Semakin kita sering mencukurnya, semakin lebat pula tumbuhnya. Amin

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya