Kehidupan ini tak pernah seirama begitu tepat dengan apa yang ada pada logika kita. Saat logika menerawang jauh tentang masa depan yang diidamkan, tentang perjalanan kehidupan yang begitu panjang. Selalu saja ada hal yang diluar nalar dan membutuhkan pemahaman di luar kesadaran logika kita.

Ya, logika memang mengajarkan kita untuk berpikir lurus, tepat dan teratur. Namun demikian, berpikir lurus, tepat dan teratur juga tidaklah bisa dibenarkan ketika menghadapi beberapa kenyataan hidup yang membutuhkan rasa, hati dan intuisi.

Advertisement

Karena menjalani kehidupan dengan percaya secara utuh pada logika tanpa mempertimbangkan aspek lainnya, akan cenderung membuat kita lupa bahwa perjalanan kehidupan yang sebenarnya selalu penuh dengan rangkaian scene kehidupan yang tak pernah seindah dan semulus bayangan yang hadir karena logika berpikir kita.

Ingat, kehidupan kita bukan film. Kalau salah bisa retake scene yang gagal. Hidup kita akan terus berjalan, takkan ada pengulangan yang sama persis sesuai dengan keinginan kita.

Begitu juga dengan kisah cinta setiap umat manusia. Tak akan selalu seperti apa yang ada pada logika berpikir kita. Saat kita berpasangan dengan wanita yang begitu cantik atau pria yang begitu tampan, kita akan bahagia. Begitu juga sebaliknya, ketika kita berpasangan dengan wanita jelek atau pria yang berwajah pas-pasan, kita akan menderita. Tidak, itu salah!

Advertisement

Terlebih lagi ketika berpikir bahwa berpasangan dengan pria atau wanita kaya, kita akan hidup sempurna. Begitu juga sebaliknya, akan sengsara. Atau ketika berpikir bahwa berpasangan dengan sosok yang begitu kita cintai, kita akan sangat bahagia. Itu gak bener juga! Karena banyak di luar sana yang hidup bersama tanpa cinta namun berakhir juga dengan kebahagiaan.

Artinya, sandarkan logika kita ketika berhadapan dengan sebuah perasaan cinta. Ikuti intuisi untuk membangun kisah cinta yang ada pada diri kita dengannya, sosok yang kita cintai, apa adanya tanpa bersyarat seperti yang sering didengung dengungkan oleh logika berpikir kita.

Namun ingat, tak serta merta kita juga harus mengabaikan logika, karena ciinta juga butuh itu.

Menuruti semua keinginan hati, membiarkan perasaan menjadi pengendali, dan akhirnya kita buta pada logika. Karena jika ini dilakukan sebagai bentuk melegalkan intuisi hati untuk sebuah hubungan, hubungan yang dibangun pun takkan pernah sempurna, karena akan banyak orang yang terluka.

Kita juga harus pahami bahwa kesempurnaan hubungan yang dibangun atas dasar cinta adalah gabungan antara logika, intuisi dan hati di dalamnya. Hanya saja, kita harus tau meramunya. Kapan saatnya untuk menggunakan logika atau intuisi hati, atau malah gabungan keduanya ketika dihadapkan pada satu atau banyaknya problematika cinta yang hadir pada dua insan manusia yang sedang berjuang untuk bisa bersama ke pelaminan hingga menua bersama sampai tutup usia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya