Manusia memiliki pilihan, tidak sama dengan setan atau malaikat. Setan dan malaikat sama sekali tidak punya pilihan. Setan, mau tidak mau ya harus berada pada lajur yang berseberangan dengan kebajikan. Malaikat juga demikian, mau tidak mau harus berada digaris lurus kepatuhan dan kesiagaan. Lha manusia, ada diantara dua garis itu. Ia punya kemungkinan untuk berada dilajur yang segaris dengan setan, pun juga memiliki peluang untuk berada segaris dengan lajur malaikat. Begitu kata Sariman suatu ketika dalam obrolan yang sama sekali tidak penting di sebuah warung kopi di pinggiran kota.

Aku manggut-manggut saja dengar celotehan Sariman itu. Tapi ternyata aku tak sekedar manggut-manggut. Meskipun belum tentu (dan tidak berarti) sepenuhnya setuju dengan pernyataan Sariman, aku kepikiran juga, apa aku ini? Manusia jenis yang mana aku? Lalu aku seruput kopiku yang nyaris tinggal lethek-nya saja.

Advertisement

Ah iya, lethek. Mungkin itu isyaratnya. Aku ini jenis manusia lethek. Lethek itu sisa-sia bubuk kopi yang tidak larut, atau ampasnya kopi. Pada beberapa produk kopi pabrikan, tidak menawarkan sensasi lethek ini. Banyak produk kopi pabrikan yang ketika diseduh tidak meninggalkan lethek. Lethek tidak punya nilai guna, ia hanya sisa, tempat yang layak bagi lethek ya di pembuangan. Bagi sedikit orang masih ada guna, itupun hanya sedikit, lethek itu di dulit sedikit dan dioleskan pada batang rokok sebelum rokok disulut. Anda yang penggemar kopi dan penikmat rokok pasti paham sensasi lethek yang dioleskan pada batang rokok.

Tetapi esensinya, lethek adalah lethek. Sariman belum memberitahukanku filosofi lethek ini. Aku berharap suatu ketika Sariman ngoceh khusus tentang per-lethek­-an. Sebelum Sariman berfatwa tentang lethek, aku mengira-ngira sendiri, betapa lethek­-nya aku ini. Jatifikasi ini bukan tak berdasar. Tentu berkaitan juga dengan pernyataan Sariman di awal tadi. Aku agak kesulitas mengidentifikasi diriku sendiri. Padahal identifikasi itu penting untuk tahu bagaimana harus menempatkan diri, bersikap dan mengambil jarak pada sesuatu atau menentukan keputusan-keputusan. Salah identifikasi, bisa kurang pas keputusan kita. Semakin tepat identifikasinya, semakin presisi keputusan kita dengan kehendakNya.

Sekarang ini banyak orang yang malas melakukan identifikasi terhadap dirinya sendiri, termasuk saya. Iya.. saya, kata Sariman sambil telunjuknya menunjuk ke hidungnya sendiri. Kebanyakan orang tidak tahu apa yang dikatakannya, tidak paham dengan apa yang diperbuatnya, tidak mengerti bahkan terhadap dirinya sendiri pun tak paham. Saya agak mending, meskipun saya juga tidak paham-paham amat, tapi setidaknya saya paham bahwa saya tidak paham. Imbuhnya.

Advertisement

Kita percaya begitu saja pada informasi-informasi tanpa kita pernah melakukan investigasi terhadap informasi itu. Kita, tanpa kita sadari, telah dijadikan subjek, dan kita menikmatinya, merayakannya. Padahal semestinya kita bisa menjadi subjeknya. Kita dengan enteng meng-copy berita dan menyebarkannya karena ingin menunjukkan betapa kita ini paling update informasi, tidak ketinggalan berita, bahkan dengan alasan syi’ar dan sebagainya tanpa tahu siapa sumber informasinya, tanpa mengecek visibilitas dan keakurasian informasinya. Kita telah menjelma jadi manusia copas (copy-paste). Mbok ya nggak usah punya hoby copy-paste, bikin saja tulisan yang murni dari diri kita sendiri, dari penemuan dan pemikiran kita sendiri, dengan begitu kita tidak melulu jadi objek, sekali-sekali lah kita letakkan diri kita sebagai subjek. Kita ini sudah pada level yang cukup mengenaskan, mudah diprovokasi, mudah dikibuli, mudah disetir, seperti kerbau yang dicocok hidungnya dan dikasih tali pengikat. Bahkan kita tidak lagi bisa menentukan kebenaran bagi diri kita sendiri. Benar dan salahnya kita tergantung orang lain. Kitra krisis pemikiran dan pemahaman tentang segala hal. Coba kita lihat perilaku kita, juga orang-orang disekitar kita. Dimana mereka mendapatkan informasi tentang berbagai hal? Padahal ada informasi yang sumbernya dari yang Maha Benar, dan itu tidak pernah kita buka dan pelajari, dan serunya kita malah bangga karenanya, dan merasa yang paling benar dan suci, merasa sudah paling berakhlak mulia, merasa sudah paling arif dan bijaksana, dan karenanya kita berlomba-lomba menjadi yang paling rajin menasehati. Padahal mengajari dan menasehati diri sendiri saja kita belum mampu. Kata Sariman dengan sedikit berapi-api.

Aku merasa disentil oleh Sariman. Aku tahu Sariman tidak secara khusus membicarakan tentang aku memang, tapi aku rumongso ada dalam bagian orang-orang yang memiliki kecenderungan seperti yang dibicarakan Sariman itu. Jika aku manusia lethek mungkin ada satu cara agar tidak jadi lethek. Ini cara yang terlintas dipikiranku. Biarkan lethek itu mengendap dicangkir, lalu tungkan terus menerus air bening atau air apapun sesukamu yang menurutmu paling baik, terus tuang sampai meluber, nanti lethek-lethek itu akan tumpah dan tergantikan dengan air yang baru. Mungkin itu yang perlu aku lakukan.

31 Mei 2016

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya