Siapapun ingin menikah. Saya, kamu, dan atau bahkan hampir semua orang ingin menikah. Pernikahan adalah mimpi setiap insan. Menjalani proses hingga sampai pada puncak yang semestinya.

Banyak cara yang bisa ditempuh untuk sampai pada jenjang pernikahan. Mulai dari perjodohan antar orangtua, pacaran, ta'aruf (perkenalan), persahabatan, ketidaksengajaan, dan lain-lain. Proses itu pasti memiliki cerita dan kenikmatannya masing-masing. Berlangsung dan mencapai pada tahap lamaran dan menikah. Menyenangkan sekali bila membayangkan proses yang lurus dan lancar untuk sampai pada titik duduk di pelaminan sebagai pengantin yang utuh.

Advertisement


Yakin. Keyakinan adalah inti utama dari ikatan pernikahan. Restu orang tua pastinya. Keyakinan tidak hanya sebatas sampai pada lidah, tapi juga hati.


Setiap yang menikah pasti memiliki keyakinannya sendiri. Keyakinan tersebutlah yang membuat sepasang bersatu dengan rintangan yang singkat atau bahkan lebih lama berjuang. Tapi semua itu bagian dari proses, agar setiap pasangan bisa menghargai sebuah hubungan.

Cinta. Cinta memang tidak selalu terikat dengan pernikahan. Tapi sebagian besar orang yang menikah tentu saja dengan cinta. Atau bahkan setelah menikah akan tumbuh benih-benih cinta. Beruntunglah ketika cinta berhak hidup bersama tuannya, sebab tidak semua cinta bisa seberuntung itu. Bahagialah.

Advertisement


Menikah itu bukan tuntutan, tapi kenyataan di lapangan menikah telah berubah menjadi momok menakutkan bagi para lajang menghadapi kehidupan. "Kapan menikah?" pertanyaan tersebut secara langsung atau tidak telah menjadikan pernikahan sebagai tuntutan. Sementara sekali lagi, menikah bukan tuntutan.


Tapi menikah itu kan ibadah?

Ya, ibadah. Ibadah yang seharusnya dijalani dengan senang hati. Bukan menjadi sebuah tekanan ketika menuju jenjang tersebut. Bagaimana tidak menjadi sebuah tekanan, sementara lajang berusia sekian tahun harus memikirkan dengan keras bagaimana caranya beribadah melalui ikatan pernikahan. Hingga akhirnya menjadikan siapapun yang dianggapnya pantas dijadikan pasangan lantas ditunjuk buru-buru tanpa tahu lebih dalam.

Percayalah, sebagai lajang pun masih bisa beribadah lebih banyak. Berbakti pada orang tua misalnya, atau berbuat baik kepada siapapun. Sedekah dan puasa juga. Kalau masih kurang bisa perlakukan binatang dan tumbuhan dengan baik. Sederhana kan? Bukankah Tuhan sudah menjanjikan yang terbaik bagi setiap hamba? Usaha boleh, tapi bukan terkesan memaksa atau bahkan memerintah Tuhan perkara jodoh.


Tanyakan pada diri, sudah baik apa belum? Sudah pantas membangun rumah tangga apa belum?


Menikah itu bukan tuntutan. Jodoh akan datang tepat waktu, dengan seseorang yang tepat, keadaan yang tepat, kebahagiaan yang tepat. Santai saja. Terus perbaiki diri tidak ada salahnya kan? Siapapun tentu ingin menikah. Tapi jangan jadikan diri sebagai hamba yang rendah dengan tidak bercermin sementara banyak meminta.

Berdoa dan berusahalah terus. Tapi jangan lupakan titik pasrah, di mana segalanya merupakan sebuah penyerahan. Jalani segala yang begitu diyakini.

Tulisan ini adalah renungan bagi diri saya sendiri. Semoga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Terima kasih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya