Untuk kau yang takkan pernah kutemukan lagi...


​Entah bisa dikatakan berapa lama perasaan itu mulai tumbuh. Kau yang membuat awal terasa lebih indah, hangat, dan s​ulit terlupakan hingga saat ini.


Aku mengenalmu lewat sebuah media sosial yang dirasa sudah dikenal banyak orang. Ya, kutatap sosok perawakanmu yang tidak begitu tinggi tapi terlihat humoris. Kucoba perlahan menanyakan tentangmu walau sekedar obrolan ringan tapi membuatku yakin untuk mengiyakan pertemuan denganmu di hari berikutnya.

Advertisement

Kamu ya cuek namun menggemaskan. Hati ini mungkin berkata lain untuk mengagumimu. Kutahu hobimu yang mungkin sangat banyak bertolak belakang denganku. Aku percaya kalau hobi bukanlah pemisah jalan untuk mencintai atau menyukai seseorang.

Dua bulan kemudian setelah kita berkenalan, tepat hari itu adalah hari spesialmu. Hari itu hujan deras namun tetap kupaksakan diriku untuk memesan kue karena berharap aku menjadi orang yang pertama mengucapkan dan memberikan kue. Benar kan? Aku berharap hari itu kau datang dengan melihat kejutan yang kubuat walau hati kecilku berkata ini sangatlah memalukan. Entah apakah kau menyukai kue itu atau tidak.

Di satu sisi kau mengajariku banyak hal. Lambat laun diriku yang awalnya kekanakan kini tumbuh menjadi dewasa berkat ajaranmu. Setidaknya kuyakin aku mulai menyukaimu. Di sisi lain aku pun membimbingmu untuk tetap sabar menghadapi kerasnya dunia.

Advertisement


Inilah dua kutub yang harus saling tarik-menarik.


Hari demi hari kujalani, perasaan ini perlahan terasa hambar saat kau berubah. Anehnya ku tetap ingin mempertahankan hubungan ini, hubungan yang tak ada pasti untuk ke depan harinya. Seringkali kau tak menganggapku ada, bahkan kala aku sakit, tak ada rasa peduli sedikitpun darimu. Yang ada di pikiranmu hanyalah bekerja dan bekerja tiada henti. Betapa panasnya pikiran dan hati ini. Tapi ku tetap menahan perasaan ini.

Seringkali juga kau hanya mementingkan dirimu sendiri tanpa berusaha memahami perasaan orang lain, apalagi kekasihnya. Apakah ini namanya hubungan? Hanya bergerak di satu sisi saja?


Ku renungkan diriku untuk pergi saja, ya pergi….


Apalagi yang aku inginkan setelah kau mengucapkan kata bubar?

Lebih baik seperti ini bukan, menghilang tanpa jejak, berpaling tanpa arti darimu. Cukup ucapan selamat tinggal dan terima kasih untuk ajaran suka maupun duka yang kau berikan ini. Selamat tinggal bukan berarti aku akan melupakanmu, ingatlah. Namun sebagai tanda kalau kau akan menemukan yang lebih baik dariku.


Terima kasih adalah tanda aku dengan segala kelemahan yang berusaha kau baluti agar terlihat samar. Dan itulah kamu.. yang selalu berusaha menemaniku hingga sekarang aku bisa berjalan dengan lincah.

Aku harap kau mengerti keputusanku, bukannya aku menjauh tapi kebahagiaanmu lebih penting dari segalanya.

Biarkan aku pergi mencari jalan terbaik.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya