Aku ingin menceritakan seorang murid yang istimewa. Sebenarnya, setiap murid yang pernah kutemui selalu meninggalkan kesan istimewa dihati. Namun, terhadap murid yang satu ini, harus kuakui, aku belajar banyak darinya.

Dia seorang gadis bali, berkasta tinggi. Usianya sekitar 18 tahun. Orangtuanya sangat berkecukupan karena memiliki villa dan penginapan di daerah Ubud. Rumahnya persis di sebelah Monkey Forest, Ubud. Aku mengajar ke tempatnya dua kali seminggu waktu itu. Sebenarnya perjalanan ke rumahnya cukup jauh, jika berkendara dengan motor akan menempuh waktu sekitar satu jam jika tidak macet. Tapi aku tidak pernah merasa rugi meskipun harus berkendara jauh kesana. Kenapa? Karena rute yang kulewati benar-benar menyenangkan. Biasanya aku berangkat dari rumah sekitar pukul setengah tujuh pagi, dimana udaranya masih bersih dan sejuk saat jam segitu. Tiupan angin di jalan cukup kencang karena aku melewati jalan by pass yang masih sepi. Otomatis tangan akan menjadi dingin bila aku tidak memakai sarung tangan. Sekitar setengah jam melewati jalan besar, aku akan melalui jalan kecil yang di kanan dan kirinya terhampar pemandangan sawah yang sangat indah. Rasanya senang sekali kalau sudah masuk ke jalan pedesaan itu. Udara yang kuhirup sangat bersih, embun yang tebal masih terlihat dibalik pepohonan, serta suara kicauan burung terasa sangat meneduhkan bagiku. Apalagi kalau aku berkendara sambil memakai headset dan mendengarkan musik. Sesekali aku akan berhenti sejenak di pinggir sawah dan menikmati sejuknya udara sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Advertisement

Begitu memasuki kawasan Ubud, aku akan melihat jejeran toko dan café yang masih sepi karena memang banyak yang belum buka pagi hari. Karena rumah muridku ini berada di dekat Monkey Forest, maka aku juga melewati jalanan sepi yang banyak dilalui oleh monyet-monyet kecil yang berlarian melintasi jalan. Sungguh suatu pemandangan yang unik. Terkadang aku juga melihat beberapa turis asing yang sedang duduk bersantai menikmati kopi di kedai kopi bersama monyet kecil yang duduk di sebelahnya, tanpa merasa terganggu satu dengan yang lainnya. Pemandangan seperti itu hanya bisa kudapatkan di Bali dan aku merasa bersyukur karenanya. Begitu sampai di rumahnya, aku sudah disambut olehnya yang sudah menungguku di bale bengong (bentuknya seperti gazebo) sejak pukul 07.30 pagi.

Dia nampak begitu siap. Buku dan tas sudah tersedia diatas meja. Setiap kali aku tiba, aku selalu mendapatkan dia sedang membaca bukunya lalu tersenyum menyambutku ketika aku duduk berhadapan di sisi bagian luar mejanya. Belum lagi ketika aku melihat kepulan asap yang muncul dari segelas teh manis hangat yang sudah tersedia di meja untukku. Hati siapa yang tidak senang bila disambut dengan kehangatan seperti itu? Makanya aku katakan tadi, aku tidak pernah merasa rugi datang mengajar kerumahnya. Apakah kehangatan itu aku rasakan sejak pertama kali aku datang kerumahnya? Tentu saja tidak. Dia tidak setenang itu pada awalnya. Dulu dia selalu menunduk. Dia tidak berani menatap wajahku saat berbicara. Tangan dan kakinya bergetar saat menulis, dan dia selalu terlihat sangat kikuk saat belajar. Ketika aku menanyakan alasannya, dia berkata kalau dia merasa takut, karena tidak bisa mengikuti pelajarannya. Waktu itu aku mengajar pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Apalagi dengan krisis kepercayaan diri yang dia alami karena tubuhnya tidak sama dengan gadis lainnya.

Ya, tangan dan kakinya kaku sehingga dia tidak bisa beraktivitas seperti orang-orang pada umumnya. Tangan kanannya kaku sehingga dia menggunakan tangan kirinya dengan susah payah untuk menulis dan menyeret badannya menggunakan tangannya jika ingin berpindah tempat serta memakai kursi roda jika hendak beraktivitas diluar rumah. Dia memang perlu mengejar banyak ketinggalan di bidang akademik karena sudah terlalu lama diabaikan di sekolah sebelumnya. Jadi alih-alih menggunakan silabus sebagai pegangan dalam mengajar, aku justru menghabiskan 2 jam pelajaran untuk mengajarinya tentang perkalian dan pembagian. Aku cukup kesulitan menghilangkan sikap kikuknya itu. Akhirnya aku membuat kesepakatan dengannya.

Advertisement

Aku memberikan PR untuk menghapal perkalian secara bertahap setiap minggu dan selalu mengujinya selama lima menit pertama sebelum mulai belajar. Satu hal yang membuatku kagum adalah dia selalu berjuang dengan sungguh-sungguh. Meskipun materi yang diberikan sangat banyak dan cukup menyulitkan, namun dia tidak pernah mengeluh dan selalu mengupayakan yang terbaik. Aku sungguh mengapresiasi upayanya menghapal perkalian dan pembagian sehingga dia mulai terampil berhitung dasar matematika di akhir semester satu di kelas 2 SMA. Demikian pula dengan pelajaran Bahasa Inggris. Dia berupaya menghapal 20-25 kata baru setiap hari sehingga dia mulai dapat memahami paragraf berbahasa inggris dan menjawab soal-soal yang menyertainya. Dia begitu giat belajar dan mengejar ketinggalannya di bangku SD dan SMP dahulu selama tahun pertamanya di tingkat SMA.

Sebagai hadiah, aku memberikannya sebuah coklat di pertemuanku yang terakhir di rumahnya (karena setelah itu, dia yang datang ke sekolah tiga kali seminggu untuk mengikuti try out persiapan ujian keseteraannya). Jerih payahnya berbuah manis, karena dia dapat menyelesaikan ujian kesetaraannya dengan baik. Aku mengingat kembali setiap upaya dan jerih payahnya ketika ia sedang membacakan sebuah puisi di acara malam pelepasan siswa-siswi. Saat itu aku melihatnya dari kursi penonton. Aku sangat terharu ketika dia datang menemuiku dengan kursi rodanya dan berkata “terima kasih” padaku.

Akulah yang seharusnya berterimakasih padamu nak. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menikmati pemandangan indah karenamu. Terimakasih telah mengajarkanku arti berjuang dengan sungguh-sungguh. Terimakasih karena telah menunjukkan kesederhanaan hati dibalik harta yang kamu miliki. Terimakasih karena kamu memilih untuk terus berjuang dan tidak menyerah meskipun memiliki banyak keterbatasan.

Semoga aku bisa terus menyikapi hidup dengan penuh syukur agar tidak kalah denganmu nak. Terima kasih.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya