Malam bersama Al-Hikam

Malam yang resah aku duduk gamang bersama gelisah mungkin juga sesah. Pada deretan buku diatas meja yang sengaja kutata rapi kudaratkan pandanganku lalu berhenti pada satu buku tua yang mulai lusuh. Kitab klasik Al-Hikam dari sang sufi, muhadis dan fakih serta tokoh ketiga dalam tarekat al-Syadziliyyah, ialah Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari. Buku yang aku dapatkan dengan cuma-cuma ini berawal dari hanya ingin meminjamnya saja, tapi seorang lelaki baik hati kemudian memberikannya dengan satu pesan semoga buku ini bermanfaat untukku.

Maka untuk kebaikannya kuhaturkan terima kasih, dan buku njenengan membawa banyak manfaat. Tentu saja aku sudah membacanya dari sejak aku mendapatkannya, barangkali beberapa tahun yang lalu. Tapi tujuanku kali ini membukanya adalah barangkali akan kutemukan segala jawaban yang memenuhi kepalaku. Barangkali juga tentang hati yang sedikit terguncang oleh gamang yang tak menemui ujungnya. Kujajaki lembar demi lebar, hanya aku bolak balik tanda betapa tinggi egoku sambil berpikir aku telah lama membacanya.

Dan lucu sekali aku baru sadar bahwa dulu yang aku lakukan hanya membacanya dan ketika selesai maka selesai pula rasa penasaranku. Selain daripada itu tak kudapat apapun tentu saja. Aku masih menertawai kebodohanku sendiri kemudian mataku kembali terhenti pada bab Sukar Membawa Nikmat, ah.. klise apalagi ini, pikirku. Aku siap dengan segala bantahan dan saat lembar pertama dari bab itu kubuka mematunglah aku dan egoku. Aku membacanya perlahan dan berulang-ulang, lagi dan lagi, terus dan terus, aku berhenti pada halaman tersebut.

Ini seperti kembali mendapat pemahaman bahwa Allah itu dekat sekali, sangat dekat. Mungkin saja kita memang perlu memandang dari sisi lain, memangdang dari sudut pandang yang berbeda.

Advertisement

“Barangkali, pada saat sulit, engkau mendapatkan tambahan karunia

yang tidak kautemukan dalam puasa dan sholat”

kemudian untaian lainnya menyusul:

“Ragam ujian merupakan hamparan anugerah”

Juga tentang doa-doa yang tak segera diijabah bukan Tuhan tak mendengarnya atau karena cacat amalan serta ibadah kita, barangkali saja iya tetapi lebih dari itu kalau saja kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda berusaha untuk menerima bahwa bukankah keinginan kita tidak pernah istiqomah, doa kita tak pernah sama dari waktu ke waktu. Tentu saja demikian, sebab kita memang ditempatkan pada kondisi yang berbeda setiap waktu. Aku bergumul dengan peperangan sepihak sebenarnya, karena aku berdebat dengan diriku sendiri.

Aku menasehati diriku sendiri yang notabene tidak cukup mumpuni untuk menasehati tapi biarlah untuk kali ini. Belumlah selesai dengan bab ujian tersebut sudah kujejali lagi dengan tanya, bagaimana dengan “Dia yang menentukan rahmat-Nya untuk siapa yang Dia kehendaki” berarti bukankah ada golongan dimana meskipun ia berusaha sekuat tenaga untuk mendapat rahmat jika Allah tidak menghendaki bukankah percuma, ia juga akan tetap tidak akan mendapatkan rahmat tersebut.

Lalu mengapa setiap dari diri kita diminta untuk berusaha jika pada dasarnya semua memang sudah diatur dan ditentukan.

Maka aku punya dua jawaban untuk pertanyaanmu itu, yang pertama tentang rahmat tersebut. Karena Allah maha mengetahui kalau saja kita dibiarkan dengan pemahaman demikian maka barangkali akan terjadi kesia-siaan, maka tidakkah kau ingat firman Allah “inna rahmatallahi qoriibun minal muhsiniina” rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. Itulah petunjuknya supaya setiap dari kita berusaha untuk mendapatkan rahmat. Agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mendapat rahmat Allah. Dan yang kedua adalah, salah satu dari munajat Ibnu ‘Athaillah ini barangkali memberimu pencerahan

“Tuhanku, bagaimana aku akan bertekad sementara Engkau-lah yang menentukan? Tapi, bagaimana aku tak akan bertekad sementara Engkau-lah yang memberi perintah?”

Semuanya memang sudah digariskan tetapi bukan berarti tidak berusaha dan diam saja, untuk mencapai pemahaman bahwa seluruhnya termasuk pula perbuatan manusia adalah rekayasa Allah semata (ketentuan Allah) barangkali masihlah jauh. Untuk bisa menerima semua jamuan-Nya tanpa menanyakan ramuan-Nya barangkali kita masih terlalu nyinyir maka bersikap dan berbuatlah sesuai porsinya.

“Istirahatkan dirimu dan ikut mengatur (urusanmu), sebab apa yang telah diurus untukmu

oleh selainmu tak perlu lagi kau turut campur mengurusnya”

dan mengenai ketentuan Allah yang telah aku sebut sebelumnya sesuai dengan munajat Ibnu ‘Athaillah berikutnya, semoga ini memberimu pemahaman yang lebih luas lagi.

“Tuhanku, kalaulah muncul kebaikan dari diriku, itu karena anugerah-Mu,

dan adalah hak-Mu untuk memberkatiku.

Dan kalau muncul keburukan dari diriku, itu karena keadilan-Mu,

dan adalah hak-mu untuk menuntutku”

barangkali ini juga tentang berserah diri. Juga termasuk berserah terhadap segala doa yang dipanjatkan.

“Tertundanya pemberian setelah engkau mengulang-ulang permintaan,

janganlah membuatmu berpatah harapan. Allah menjamin pengabulan doa sesuai

dengan apa yang Dia pilih buatmu,

bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki,

bukan pada waktu yang engkau ingini”

sudahlah diri, belajarlah menerima dan sedikit bertanya. Lakukan saja apa yang menjadi kewajibanmu tanpa menanyakan hakmu karena yang dijanjikan kepadamu dari sisi Allah pasti akan kau dapatkan.

Gamang yang bergumul bingung mungkin masih belum selesai tapi ada hal lain yang datang sebagai penyejuk. Biarkan saja kebingungan menyergap, biarkan saja segala tanya tak terjawab tapi malam ini bukankah ada sedikit pemahaman lain yang hinggap. Lalu kusudahi acara malam ini dengan kitab klasik Ibnu ‘Athaillah. Bahwa Kau, Tuhan, menyayangi kami dengan cara yang berbeda-beda.

Begitu pula dengan rahmat serta rizqi yang tak pernah selesai. Anugerahi hati kami dengan ketenangan yang datang dari sisi-Mu. Untuk segala takdirMu biarlah kami mendewasa dengan pemahaman yang membawa manfaat untuk diri masing-masing juga segala makhluk jika Kau perkenankan. Semoga Kau selalu melimpahi kami dengan kebaikan-Mu.