Hai kamu yang sebentar lagi sudah akan kembali lagi berkumpul dengan luasnya lautan diluar sana. Rindu ini muncul lagi. Malam ini, entah mengapa semua seakan memutar kenangan kita sejak pertama kita dekat. Organisasi kampus itu yang membuat kita saling tau, saling kenal, dan kemudian dekat.

Senyum itu mekar dibulan april dua tahun lalu yang bisa mengalihkan duniaku. Ketika kita dikumpulkan dalam suatu kegiatan, kamu duduk dibangku dengan penerangan yang minim bersama dengan teman-temanmu, dan aku duduk bersama teman-teman lainnya dengan beralaskan tikar. Beberapa kali aku mencoba mencuri-curi untuk melihatmu tanpa kamu sadari. Lucu sekali rasanya.

Advertisement

Ingin aku mengulang masa-masa ketika kita baru saja berkenalan. Bulan Mei, ya kala itu kamu pertama kali chat via BBM. Mengajak untuk bergabung jalan-jalan ke salah satu tempat wisata di Yogyakarta. Setelah chat pertama itu, muncul chat-chat selanjutnya yang mungkin dari bangun tidur hingga akan tidur tidak pernah putus.

Bulan Juni, Juli kita semakin dekat. Sering jalan-jalan bareng. Kepantai yang paling sering kita kunjungi, hanya untuk menemaniku melihat sunset. Rasa itu, makin lama makin tumbuh berkembang bahkan mengakar. Aku mencoba untuk melupakan rasa itu, karena kala itu, beberapa wanita mendekatimu. Minder? Ya.. apalah aku ini? Aku memutuskan untuk memendamnya. Aku selalu memastikan rasa disudut itu aman, tanpa kamu ketahui. Aku terus bersikap biasa saja. Hingga akhirnya ada pesan masuk yang awalnya aku hanya membawa perasaanku dengan bercanda, dan kamu menanggapinya dengan mengatakan rasamu. Astaga ! Sungguhkah ini?

Terkadang hal-hal bodoh yang pernah terjadi menjadi sebuah kenangan yang selalu membuat rindu.

Advertisement

Hmm..Kenangan ini. Aku sedang mencoba untuk merelakan. Tapi seakan tidak ingin melupakan begitu saja. Semua itu, cerita itu, kini benar-benar hanya menjadi sebuah kenangan. Aku dan kamu kini bukan lagi kita. Kisah manis itu akhirnya berakhir.

Ketika aku dan kamu berakhir pun, kamu masih memberikan kenangan manis sebelum kamu pergi. Entah aku yang salah mengartikan sikap manismu itu atau bagaiamana. Tapi sikap itu membuatku berharap adanya kesempatan kedua darimu. Dan kini tinggal menghitung hari sebelum kamu kembali di tanah rantaumu. Dan nantinya kamu akan benar-benar menghilang dengan menyisakan kenangan-kenangan kita disini.

Entah bagaimana caranya perasaan ini akan berubah. Setelah melalui ratusan hari apakah mungkin akan dengan cepatnya aku melupakanmu? Ntah sampai detik ini pun aku masih melihatmu sebagai sesuatu yang begitu bersinar. Sadar bahwa aku bukan siapa-siapa lagi untukmu dan kenyataan bahwa kau akan pergi mengejar mimpimu, menguraikan jarak yang begitu nyata dari sebelumnya. Aku tahu mungkin jarak akan mampu menghapus rasa dihatimu. Namun bagiku jarak akan selalu mengundang rindu, rindu akan segalanya tentangmu dan kenangan tentang kita.

Kamu. Kamu tak akan tau dan mungkin tak akan tau, bagaiamana aku bertahan disituasi ini tapi tetap bersikap biasa seakan-akan aku dan kamu masih menjadi kita. Aku selalu mencoba untuk tetap menjadi aku yang kamu tau, meskipun didalamnya hatiku hancur. Hancur karena harus dekat denganmu yang tidak lagi dapat aku raih.


Bagaimana esok aku harus melayukan rinduku padamu? Sedangkan esok mungkin kau sudah tidak memperdulikan aku lagi?

Bagaimana cara agar esok aku dapat mengambil hatimu lagi? Sedangkan esok mungkin kau sudah bersama bidadarimu yang lain?

Bagaimana aku bisa melupakanmu? Sedangkan kamu selalu ada dipikiranku?


Aku akan mencoba untuk merelakanmu. Namun, aku akan usahakan agar kamu kembali lagi. Sampai nanti akhirnya aku akan berhenti mengharapkanmu dan berusaha melupakanmu, ketika senyummu itu terlukis dengan dia penggantiku dihatimu.


Salamku dari kota budaya, kota romantis, kota kenangan aku dan kamu, Yogyakarta untukmu yang sedang merintis mimpi dinegara orang. Doaku menyertaimu selalu.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya