Semua orang punya mimpi. Mimpi indah yang mungkin tak satupun ingin mengakhirinya. Mungkin bagi kebanyakan wanita pernikahan adalah mimpi yang paling indah. Mempunyai pasangan, anak yang lucu dan keluarga bahagia. Tak ada yang ingin mimpi itu berakhir, apalagi berakhir dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, perceraian, termasuk aku. Aku mengawali mimpiku ketika aku bertemu dengan seseorang, yang kupikir dewasa, bisa mengalah dan membimbing aku menjadi lebih baik. Karena umurnya yang beda jauh dari ku. Pernikahan pun berlangsung dengan kilaunya. Gelak tawa dan senyum bahagia.

Pernikahanku dikaruniai satu orang anak. Anak yang tumbuh pintar dan lucu. Lama-lama pernikahan yang awalnya baik-baik saja mulai terjadi masalah. Suamiku tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga karena hutang yang berlipat, tidak perhatian bahkan terhadap anak, anak yang dari awal dia yang menginginkannya. Pernah ku memohon agar dia lebih perhatian terhadap anak, hanya perhatian tidak perlu materi yang berlebih. Pernah kucoba pergi bersama agar dia bisa dekat dengan anaknya. Tapi semua yang kulakukan sia-sia, bahkan usaha yang disertai air mata. Semua sia-sia. Lelah aku selalu mencoba tapi tak ada hasil. Dia semakin hari semakin tak peduli. Entah apa yang ada dipikirannya, aku tak pernah mengerti, Bahkan sampai 7 tahun pernikahan kami. Tak ada satupun di dunia ini yang menginginkan perpisahan. Siapapun itu. Apalagi untuk pasangan yang sudah menikah dan memiliki anak. Terkadang bertahan di atas perihnya kehidupan pernikahan adalah pilihan yang paling berat. Yang harus dijalani demi semuanya, anak, keluarga besar. Tapi rupanya karang yang begitu kokoh dan tegar berdiri hancur, hancur karena sikap tak peduli.

Advertisement

Sekarang semua sudah hancur. Hati sudah terlalu beku. Dia, dia yang dulu aku pertahankan malah berjanji akan berubah, sayang hati ini bahkan sudah mati untuk merasakan apapun. Apapun kata-katanya, apapun sikapnya, apapun itu, sudah tak bisa membuat hatiku goyah untuk berpisah. Karena yang kualami selama ini, yang terjadi bahkan sampai dia berjanji saat ini, tidak ada perubahan dari sikapnya, hanya kata-kata yang kulihat, hanya keegoisan memikirkan kenyamanannya sendiri.


Belajarlah untuk menghargai jika inging dihargai, belajarlah untuk mengormati jika ingin dihormati


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya