Aku ingin menceritakan kisah cintaku bersama dia yang sering ku sebut dalam setiap doaku, aku pernah mencintai seorang lelaki dan lelaki itu berbeda dari yang lainnya, baik sopan penyabar bahkan aku tak ingin mengiklaskannya. aku tau kami berdua salah, kami pernah mengatasnamakan cinta dalam perbedaa agama kami yang mungkin sangat sulit untuk di satukan.

Dia bahkan berbeda dengan laki-laki yang pernah bersamaku walaupun seagama. Dia seorang lelaki baik yang Tuhan hadirkan untukku belajar bagaiman beratnya berelakan.  Kami bodoh saling mencintai walaupun berbeda Tuhan.

Advertisement

Walaupun begitu,aku tak pernah lupa mengingatkannya tentang waktu sholat, dan dia tak pernah bosan menyuruhku ke gereja, Dia selalu bercerita bahwa dalam sujudnya selalu menyebut namaku, bercerita kepada Allahnya tentang Aku, dan sebaliknya aku tak pernah melupakan namanya dalam doaku, bahkan aku selalu bercerita dengan Tuhanku tentang perbedaan kami. Bahkan dengan keegoisanku aku pernah memaksa Tuhan menyatukan kami, walaupun aku tau yang aku pinta itu tak mungkin.

Hingga tiba waktunya  dimana aku  pernah bertanya kepada diriku, haruskah aku meninggalkan Tuhanku demi dia, atau haruskah aku memaksanya meninggalkan Allahnya demi aku? Dia dan Allahnya sudah bersama bertahun tahun haruska aku memisakan mereka? Sebaliknya aku bersama Tuhanku sudah bertahun tahun, haruskah Aku meninggalkan Tuhanku? haruskah aku menyakiti keluargaku atau sebaliknya dia menyakiti keluarganya demi aku? Harus sekejam itukah kami?

Cinta memang anugrah Tuhan, dan Tuhan tak pernah salah memberikan cinta, tapi yang aku tahu cinta tak pernah egois, cinta tak harus menyakiti Tuhan dan orang-orang terdekat kami, tapi bagiku cinta  harus iklas merelakan  dia bersama seseorang yang lebih pantas mendampinginya. Seperti ada pepatah, mengasihi itu mencintai hingga terluka.cinta bukan hanya tentang bagaimana saling memiliki, tapi juga tentang merelakan.

Advertisement

Akhirnya walau dengan berat hati, dengan kesedihan yang mendalam kami memilih mengakhirinya dengan baik baik. Kami tetap berelasi, saling medoakan walau tak saling memiliki bagi kami tidak mengapa. karena kelak Tuhan kami akan memberikan seseorang yan pantas untuk kami masing masing. Bukan kah Tuhan ahli membolak balik hati sesorang? Biarlah kami tetap saling mencintai walau tak harus bersama.

Aku bersyukur dengan kedewasan kami mengambil keputusan, aku berdoa semoga dia kelak bisa menemukan istri yang menemaninya sujud dan aku bisa menemukan pria yang bisa mencintai Tuhanku . jauh lebih dari pada itu, aku bersyukur untuk relasi kami. aku tau ada maksud Tuhan menempatkan  seseorang bersama aku, entah dia hanya sesaat atau harus tinggal selamanya, pasti ada pelajaran yang aku petik dari situ.

Aku bersyukur pernah bertemu dengan orang yang bisa mengarjarkanku menghargai perbedaan dan aku bersyukur dari kisah kami aku belajar bagaimana caranya merelakan, dan mencintai hingga terluka. Terima kasih untuk Tuhanku , semoga kelak dia menjadi imam yang baik yang mendekatkan istri dan anak anaknya dekat dengan Tuhannya. Untuk aku, aku tahu Tuhan telah mempersiapkannya, Aku tinggal menunggu waktunya saja. Amin

Terkadang kita perlu merelakan satu hati demi banyak hati.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya