HIDUP adalah PILIHAN.

Memilih yang baik atau yang buruk. Memilih dengan benar atau salah. Bahkan, kita sendiri sering berhadapan dengan situasi untuk MEMILIH atau DIPILIH. Ya, memang HIDUP adalah PILIHAN. Ada banyak pilihan-pilihan di sekitar kita. Walau bingung, linglung. Akhirnya, kita harus MEMILIH.

Lalu, apa yang harus kita lakukan di saat menghadapi PILIHAN?

Sulit, memang MEMILIH di beberapa PILIHAN yang untuk DIPILIH. Sangat manusiawi. Karena keadaan yang seperti itu. Satu yang pasti, kita harus tetap MEMILIH. Jangan pernah menghindar untuk tidak menentukan PILIHAN kita. Ini soal sikap kita dalam hidup. Sikap untuk memilih.

Advertisement

Hampir di setiap waktu, kita dipertemukan pada PILIHAN. Di setiap saat, kita harus siap untuk MEMILIH, menentukan PILIHAN. Untuk hidup, untuk apapun di sekitar kita. Karena pada setiap hitungan nafas, jika mau jujur, kita memang harus MEMILIH, DIPILIH, atau memutuskan PILIHAN.

Selebihnya, biarkan WAKTU yang akan membuktikan tepat atau tidaknya PILIHAN kita.

Ya MEMILIH, kita harus lakukan. Entah, MEMILIH dengan hati, pikiran, rasa, atau nafsu. Tapi, sepertinya akan lebih baik bila kita MEMILIH dengan HATI.

Advertisement

Mengapa kita harus MEMILIH?

Karena kita dihadapkan pada PILIHAN. Memang dalam memilih terkadang harus ada yang dikorbankan. Saat kita tentukan PILIHAN maka ada konsekuensinya. Kita tidak pernah bisa menyenangkan semua pihak atas pilihan kita. MEMILIH itu subjektif. Masalahnya, atas dasar apa kita MEMILIH ? Itu yang harus kita pikirkan dan pertimbangkan ….

Siapa di antara kita yang tidak mencintai IBU ? Sosok yang melahirkan, mendidik, mengayomi kita di waktu kecil. IBU yang memiliki cinta yang tak berbatas. Kita semua pasti cinta kepada IBU. Cinta yang sangat ! Sewaktu kecil, IBU yang mendidik dan membesarkan.

Penuh kasih sayang, penuh tulus, ikhlas dan penuh cinta. Dalam duka, duka, baru suka. IBU lebih banyak duka daripada suka saat membesarkan kita. Tapi kini, di saat IBU kita menua. Kulitnya sudah keriput. Rambutnya sudah memutih. Bahkan sedang terbaring sakit. Apakah kita berada di sampingnya?

Ingin kita membalas jasa IBU. Ingin kita membahagiakannya sekarang. Tapi, atas kondisi apapaun. Mungkin, sekarang kita tidak sedang bersama IBU. Tidak sedang merawat dan membahagiakannya. Karena kita tidak sedang dekat dengannya. Itulah contoh PILIHAN yang sulit. Tapi kita harus MEMILIH.

Lagi, kita harus MEMILIH? Mana PILIHAN kita?

1. Seorang gadis yang harus MEMILIH lelaki tampan dan soleh tapi pekerjaannya tidak menjanjikan kehidupan rumah tangga yang sejahtera? Atau lelaki yang tidak tampan, setengah soleh, tapi secara ekonomi mapan ?

2. Anda MEMILIH rumah yang dekat ke kantor dengan lingkungan yang buruk ? Atau rumah yang lingkungan baik tapi jauh dari kantor ?

3. Kita MEMILIH gaji setiap bulan dihabiskan untuk membiayai keinginan kita sekarang ? Atau menyisihkan gaji untuk masa pensiun kita agar tetap sejahtera ?

Tentu, masih banyak lagi momen dan keadaan yang mengharuskan kita untuk MEMILIH.

Sebentar lagi pun, kita harus MEMILIH. Saat PILKADA serentak. Di 163 provinsi, kota, dan kabupaten se-Indonesia. Ya, kita akan memilih calon pemimpin daerah masing-masing. Memang sulit, bahkan berat hati untuk menentukan PILIHAN. Apalagi jika kita, pemilih yang mendukung salah satu calon. Atau pemilih yang menolak calon yang lain.

Tapi kita harus MEMILIH. Lebih baik MEMILIH untuk menentukan “nasib” ke depan. MEMILIH pemimpin yang tepat. Pemimpin yang tidak menjadikan jabatan sebagai mahkota, tapi pemimpin yang mau bekerja untuk menyejahterakan rakyatnya.

MEMILIH pemimpin. Pemimpin yang bijak, amanat. Pemimpin yang punya kehormatan. Seperti kata Sunan Kalijaga di tahun 1400-an lewat lagu “Gundul-Gundul Pacul”. Lagu yang memiliki makna mulia, bagi pemimpin, bagi umat manusia. Gundul-gundul Pacul.

“Gundul”, yang artinya kepala tanpa rambut, sebuah kehormatan tanpa mahkota.

“Pacul”, yang artinya alat mencari nafkah petani, sebuah simbol wong cilik, rakyat.

“Gundul Pacul”, bukanlah pemimpin yang diberi mahkota melainkan pemimpin yang mampu “mencangkul”, mampu menyejahterakan rakyatnya.

Bahkan dalam filosofi Orang Jawa, “pacul” sering dianalogikan sebagai “Papat Kang Ucul”, empat yang hilang. Artinya, seorang pemimpin akan dihormati bila mampu menggunakan 4 indera dalam dirinya, yaitu MATA, HIDUNG, TELINGA, dan MULUT.

1. MATA yang digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.

2. HIDUNG yang digunakan untuk mencium aroma kebaikan.

3. TELINGA yang digunakan untuk mendengar nasihat atau saran.

4. MULUT yang digunakan untuk berkata-kata jujur dan adil.

Andai 4 hal itu hilang dalam diri pemimpin, maka hilanglah kehormatannya. Tak ada mahkota bagi pemimpin itu. Mengerikan. Karena pemimpin yang “kehilangan” 4 hal itu, akan sombong, tidak amanah, menyimpang, dan berantakan.

Rakyat tidak akan sejahtera. Seperti bait dalam lagu “Gundul-Gundul Pacul”, pemimpin yang kehilangan “pacul” akan menjadi gembelengan (congkak) dalam nyunggi-nyunggi wakul (menjunjung amanah orang banyak) maka gembelengan (sombong hati) sehingga wakul ngglimpang (amanahnya jatuh) dan akhirnya segane dadi sak latar (berantakan sia sia, tidak bermanfaat bagi orang banyak).

Bagaimana kita harus memilih?

MEMILIH-lah dengan HATI. Sekalipun PILIHAN SULIT, MEMILIH lebih baik daripada tidak memilih. Bukankah Tuhan sudah menjanjikan kita, "sesungguhnya sesudah kesulitan itu terdapat kemudahan". Dan “Jangan katakan pada Tuhan kita punya masalah besar, tapi katakan pada masalah kita punya Tuhan yang besar ".

Selamat MEMILIH, kawan !! #belajarDariOrangGoblok

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya