Jika ingin pergi, pergi saja, pergilah. Tak perlu ada pamit atau apapun. Karena jika ada kata pamit itu akan membuat mataku kian sembab. Tercipta dalam waktu dan ruang yang berbeda, membuatku sedikit tak ingin menerima semua itu. Bukankah, banyak di dunia ini yang berada di ujung dunia pun mampu berjodoh? Mengapa kita tidak? Bicara tentang jodoh, hanya tulang rusuk yang samalah yang mampu disatukan, meski terpisah dan terhalang oleh apapun.

Kita pernah dekat, namun hanya teman. Mengakui itu bukan berarti aku ingin menahanmu di sini. Tahukah kau secangkir coklat, mulai dari panas berdiam hingga hangat, bahkan hingga dingin rasanya tetap manis. Aku sudah menanti, ah.. Kau tak pernah mengerti jika aku sudah memiliki rasa yang bukan hanya sekedar teman. Setiap aku bepergian, jika aku tahu aku akan menemuimu di tempat yang sama aku berharap kita memakai baju atau sesuatu yang sama, bila diperjelaskan seperti kontak batin mungkin.

Advertisement

Tapi ternyata apa yang aku inginkan itu tidak akan pernah terjadi. Saat aku terlelap, jika bertemu bertemu denganmu lewat mimpi, aku tidak ingin terjaga, aku ingin tetap terlelap, aku ingin lebih lama bertemu denganmu, meski hanya dalam mimpi. Aku mengerti, kau lebih memilih dia. Aku tidak akan memaksa kamu untuk tetap bertahan denganku. Kini aku hanya mampu tersenyum pedih saat kau benar-benar pergi. Tahukah kamu, saat kamu pergi aku terluka.

Aku tak mampu. Mungkin, kau memang tak akan pernah tahu apa yang kurasa. Aku berharap kau tak akan pernah tahu. Cukup, lembaran ini dan aku yang tahu, percayalah aku masih akan tetap melangkah, aku mengerti hidup bukan sebatas hari ini. Masih ada esok, lusa bahkan ada masa depan. Saat kau ada di dekatku aku banyak belajar.

Aku belajar, tersenyum lebih ringan tanpa harus memikirkan beban. Aku belajar, berlari sejenak saat aku tak mampu menahan beban. Aku belajar, tertawa lebih keras saat aku bersalah. Aku belajar, kuat saat ada yang menekanku. Aku belajar semua itu dari dirimu.

Advertisement

Kini kau sudah pergi, tahulah di bawah rembulan aku selalu menunggumu.

Setiap kulewati tempat-tempat yang kita kunjungi, aku tak mampu menatap, aku selalu menunduk

Aku berusaha untuk mampu berjalan, aku berusaha untuk berlari seperti biasanya. Aku mencoba lebur dalam keramaian.

Aku benci, semua itu tak berguna sama sekali. Aku tetap merasakan hal yang sama. Sepi dan pedih.

Tak pernah ku mengerti, arti dari semua ini.

Aku yang terlalu terpana atau aku yang hampir kehilangan akal sehat?

Hampir gila rasanya, saat kau pergi.

Aku sudah lelah, terus merasakan hal yang sama tiap kali.

Aku harap kau sudah bahagia saat, ada yang menggengam tanganmu.

Meski seperti itu, tak dapat aku pungkiri. Aku menyesal, menyesal tak pernah mengatakan sebenarnya perasaanku. Aku mencintaimu melebihi seorang teman. Aku ingin kau menjadi bagian di masa depanku. Tapi biarlah, aku ingin kau bahagia. Jadilah suami dan ayah yang baik kelak untuk istri dan anakmu. Aku percaya kau pasti mampu mengemban itu semua. Menyakitkan memang, aku kini tetap mencintaimu. Aku sudah tahu diri, aku sudah bukan gadis yang dulu, kini aku sudah beranjak lebih dewasa, karena cinta. Aku jatuh cinta tanpa kau tahu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya