Belajar Ikhlas: Ikhlas tersakiti untuk sehat

By: Putri Al Fatih

Sakit, kata yang pasti pernah dirasakan semua manusia di muka bumi ini. Rasa yang terdengar menyedihkan dan selalu berkaitan dengan luka, kecelakaan dan kejadian buruk lainnya. Sakit, menurutku adalah rasa sederhana yang Tuhan ciptakan sama dengan sehat. Sama dengan sebuah kesembuhan yang selalu didambakan semua manusia sakit di luar sana.

Kenapa Tuhan menciptakan sakit, tidak lain karena Tuhan menyiapkan sehat untuk kita. Tanpa sakit kita tidak tahu sehat, bahkan saat sakit pun masih juga terkadang kita tidak menyadari betapa berharganya sebuah kesehatan. Tuhan selalu menciptakan suatu hal berpasangan. Tidak itu benda mati, apalagi yang hidup. Pasangan sakit yang dibahas kali ini adalah sehat atau sebuah kesembuhan. Rasa yang tidak akan ternilai harganya.

Bagaimana menghargai sehat? Bagaimana menjaga kesehatan? Bagaimana caranya agar kita senantiasa bersyukur dengan kesehatan yang kita nikmati setiap saat? Ikhlas, cara sederhana. Ikhlas saat sakit mendera, ikhlas saat cedera menyiksa dan ikhlas dalam hal apa pun yang menciptakan sakit itu terasa. Karena hanya dengan merasakan sakit kita bisa menghargai sehat, dengan merasakan siksaan kita bisa menjaga kesehatan. Semua itu tidak mudah, semua butuh mental yang kuat dan sebuah keyakinan dalam menjaga rasa dan sikap syukur yang dalam.

Advertisement

Karena manusia tidak pernah luput dari lupa dan salah, jangan selalu merasa benar saat benar bisa jadi saat itulah anda salah besar. Percayalah, sakit itu nikmat kawan. Karena Tuhan menciptakan pasangan yang berbeda tetapi melengkapi. Tidak ada sehat yang nikmat tanpa merasa sakit, sama halnya dengan sakit yang juga harus di nikmati seperti kita menikmati sehat. Karena Tuhan selalu menyediakan hadiah di setiap perjalanan hidup kita.

Sakit, banyak manusia termasuk aku. Selalu mengeluh dengan keadaan yang menyiksa. Dengan ujian yang tidak kunjung terselesaikan. Dengan persoalan yang membelitkan mental, dan banyak hal lainnya yang seakan meyudutkan kita dalam masalah yang berakhir dengan kematian. Padahal untuk mereka, manusia hebat yang memandang masalah, sakit dan hal lainnya sebagai perjalanan yang menyenangkan selalu berkata jikalau mereka sedang menjemput bahagia. Tanpa keluhan bahkan selalu bersyukur.

Menurutku semua itu tidak realistis, tetapi benar adanya. Mereka selalu mengandalkan Tuhan, dan Kuasa-Nya untu menuntun mereka keluar dengan damai dari masalah yang memebelit, sakit yang menyiksa. Itu hal hebat yang pernah aku lihat dan juga pernah aku rasakan dalam ketidakpercayaan. Mengeluh itu tidak ada gunanya. Iya, aku menyadari itu. Tetapi ketika saat itu aku harus merasakan sakit aku hanya bisa mengeluh, aku tidak mengenal Tuhan dan bahkan aku sangat membenci ketidak adilan yang memelukku dengan erat.

Keluarga yang seakan memaksa aku bahagia dalam kehidupan yang bisa di bilang seperti neraka dan keadaan yang selalu memaksa aku tersenyum dalam ketidakyakinanku terhadap kata bahagia itu sendiri. Aku mulai membenci kehidupanku. Membenci keduaorangtuaku bahkan aku membenci teman, serta lingkunganku. Aku ingi hidupku sendiri, tanpa teman, keluarga, bahkan orangtua. Aku ingin bebas, sendirian dan menikmati alam dengan caraku. Dengan semua yang aku inginkan, aku ingin dunia mengertiku.

Ketika semua sakit itu memelukku, aku memang hanya bisa mengeluh, tidak bisa melihat hadiah yang Tuhan sediakan untukku bahkan aku tidak menyadarinya. Ya, saat suram saat sakit, rasa yang menyiksa itu membuat aku menjadi wanita yang tumbuh dengan kekuatan mental yang hebat. Kini aku bisa melihat diriku dengan jutaan keluhan di masa lalu. Kini aku bisa bersyukur dan kini aku sedang belajar untuk ikhlas.

Sakit, beberapa tahun lalu aku adalah gadis yang tumbuh dengan siksaan batin. Sikap mengeluh, tidak bersyukur, asing dengan kata Tuhan dan membenci kehidupanku sendiri. Saat ini, saat aku bisa melihat hadiah yang Tuhan sediakan untukku. Saat aku bisa tersenyum dengan apa yang terjadi. Saat aku bisa merasakan kasih sayang lingkunganku. Saat aku bisa merasakan persahabatan yang sesungguhnya. Saat orangtuaku menjadi sangat berarti dan selalu aku cintai. Aku tumbuh menjadi pribadi yang selalu optimis dan ingin menang dalam hal apapun.

Aku tumbuh dengan ke egoisan masa depan yang lebih baik. Aku tumbuh dengan jiwa yang lebih menerima dari beberapa tahun yang lalu. Aku melihat diriku seperti emas permata yang harus di jaga, di sayang dan di hargai. Kini aku bisa lebih mencintai diriku sendiri. Dengan bersyukur dan selalu bersikap ikhlas dengan apapun yang terjadi, dengan apapun yang Tuhan hadirkan dalam kehidupanku saat ini. Dan ternyata, sikap ikhlas itu indah kawan. Senyumanku kini lebih tulus dan ikhlas.

Aku bisa menerima kekurangan dengan rasa syukur dan melengkapinya dengan hal lain. Aku bisa mencintai diriku sendiri, mencintai apa yang seharusnya aku cintai dari dulu. Memang, perubahan ini tidak luput dari sakit yang menghadirkan sehat. Tidak luput dari pelukan sakit yang sangat menyiksa dan kehidupan yang menyeramkan menurutku. Tetapi sakit ini juga banyak mengajarkan aku kepada sikap ikhlas menerima. Ikhlas menjaga, ikhlas menyayangi, ikhlas mencintai.

Karena belajar ikhlas itu lebih mudah daripada belajar mengeluhkan semua yang terjadi dalam hidup ini. Tuhan memberikan aku satu kepercayaan baru dalam hidup ini, aku percaya Tuhan tidak akan meninggalkanku dalam keadaan apapun. Hanya saja terkadang aku yang meninggalkannya dan berjalan sendiri seolah aku bisa menghadapi sakitnya ujian itu sendirian. Dan kini, aku belajar tetap bersama Tuhan. Belajar ikhlas, selalu bersyukur dan menjadikan sakit itu sama seperti sehat.

Sakit, yang mengajarkan aku memahami keadilan yang dulu selalu aku pertanyakan. Kedamaikan yang selalu aku dambakan dan bahagia yang selalu aku impikan. Sakit itu juga yang mengajari aku melihat impian yang sebenarnya ada, hanya saja aku belum bangun untuk mewujudkannya. Dan saat ini, saat aku menuliskan rangkaian kata sederhana ini aku sedang membangunkan diriku sendiri.

Mencintai diriku dengan semua yang Tuhan berikan kepadaku. Menghargai apapun yang terjadi dalam kehidupanku adalah cara sederhana namun luar biasa hasilnya yang Tuhan ajarkan kepadaku untuk maju lebih baik lagi. Dalam langkah perbaikanku saat ini, aku selalu bersyukur dengan pemberian Tuhan kepada hidupku. Sakit yang selalu aku nikmati sama seperti aku menikmati hidup. Siksaan yang selalu aku hadapi dengan senyuman. Dan sebuah kekurangan yang selalu aku lengkapi dengan keikhlasan menerima.

Karena dengan itu, aku bisa menata masa depan yang lebih baik. Hanya dengan bersyukur dan ikhlas menerima sakit untuk sebuah kesembuhan yang abadi. Hanya dengan senyuman aku bisa merasakan keadilan di dunia ini. Dan untuk semua yang pernah terjadi di masa laluku, aku jadikan pelajaran berharga dalam pencarian jati diriku. Pelajaran yang saat ini sedang aku perjuangkan kelulusannya. Bila diibaratkan saat ini aku sedang menyusun skripsi dari semua pelajaran dan ujian yang telah aku hadapi di masa lalu.

Sakit, tidak ada sakit yang tidak luka dan menitikan airmata. Tidak ada rasa yang tidak memiliki sebab akibat. Jika dahulu aku hanya mengeluh. Maka kini aku bersyukur. Jika dulu aku membenci maka kini aku lebih mengerti untuk menyayangi. Jika dulu aku selalu mempertanyaan keadilan, kenapa bisa, bagaimana bisa dan sebagainya. Maka kini aku akan menjawab pertanyaanku sendiri. Menjawabnya dengan sebuah senyuman, sikap ikhlas dan ucapan syukur. Keyakinanku dengan adanya Tuhan yang tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambaNya adalah pedangku untuk bertempur dengan masalah besar.

Di sebuah film aku belajar tentang satu hal yang memperlihatkan kemampuan dahsyat keyakinan terhadap Tuhan. “jika masalah besar menerpa, katakanlah : hai masalah besar, aku punya Tuhan yang lebih besar! Maka masalah itu akan terlihat kecil untuk segera terselesaikan.” Tetaplah bersyukur, karena sakit telah mengajarkan aku bagaimana ikhlas menerima dan menikmati sakit seperti aku menikmati sehat. Bagaimana denganmu? Sudahkan bijak menyikapi sakit, siksaan dan ujian dalam hidup? Learn!