Lebarkan Mata, Peduli Sesama

Perginya Tegar menjadi pukulan sekaligus pengingat bagi kita semua

Baru-baru ini mahasiswa UGM ditemukan tak bernyawa dalam keadaan yang mengenaskan. Ia nekat mengakhiri hidupnya dengan terjun bebas dari lantai 11 pada sebuah hotel di Sleman, Yogyakarta. 

Ia adalah salah satu mahasiswa Fisipol yang sangat cerdas dan aktif dalam kegiatan perkuliahan. Tegar namanya, namun tak tegar hatinya. 

Tegar adalah sosok yang sangat ceria namun menyimpan sejuta luka. Ia merupakan korban dari perpisahan orang tua dan kekurangan kasih sayang dari mereka. Sepi dan sunyi ia rasakan setiap hari. 

Namun Tegar tetap bersembunyi, tanpa banyak orang ketahui. Sedih hatinya dan terluka psikisnya. Tanpa berkata ia akhiri hidupnya. Hanya secarik kertas berisi keadaan jiwanya yang tersisa. 

Tragis memang jika mengingat akan kepergiannya. Seorang yang banyak senyumnya ternyata lebih banyak tangisnya. Tak ada yang ingin mengakhiri hidupnya tanpa adanya peristiwa yang tak mengenakkan benaknya. 

Sekecil apa pun luka, tetaplah luka. Tegar menjadi cerminan, bahwa kasih sayang tak dapat diganti dengan uang. Banyak uang tak berarti banyak kebahagiaan.

Tegar dilimpahi fasilitas yang memadai tuk perkembangan otaknya, namun ia tak punya fasilitas dalam mendukung perkembangan psikisnya. 

Banyak orang yang tak menyangka akan kepergian Tegar. Betapa hebat ia berusaha sabar. Menjalani kehidupan lembar demi lembar dengan perasaan yang hambar.

Tak banyak orang yang tahu Tegar terluka pilu. Mereka hanya menyangka, seorang yang ceria itu pasti bahagia. Padahal mereka hanya menyimpan luka, agar tak banyak orang mengetahuinya.

Tak sedikit kisah dalam dunia nyata yang mencengangkan kita semua. Membuka mata kita akan pentingnya perhatian dengan sesama. Menohok hati yang tak peka terhadap apa yang terjadi pada seseorang di sekitarnya.

Tak semua manusia punya hati yang kuat. Banyak dari mereka yang enggan berbagi apa yang mereka rasakan. Namun, mereka tak sadar ada banyak mata yang mengamati dan ada banyak hati yang peduli.

Banyak dari mereka yang mengakhiri hidupnya hanya untuk keluar dari masalahnya. Namun naasnya mereka malah keluar dari kehidupan indahnya. 

Mereka sudah berusaha bersyukur, namun lagi-lagi tersungkur. Mereka setiap hari berperang dengan logika dan hati. Banyak cita yang ingin diraih namun hati terlanjur perih. 

Banyak luka yang ingin ditutupi tapi tak tahu yang mana lagi. Jangan ingatkan mereka yang banyak luka akan dosa yang mereka dapatkan ketika mencelakai hidupnya. 

Mereka sadar, mereka tahu apa konsekuensi yang akan mereka terima. Mereka hanya tak tahu bagaimana cara mereka keluar dari keadaan yang tengah mereka tempati. 

Sadar tak dapat banyak membantu mengatur kejiwaannya, namun kita mampu menciptakan kebahagiaan bagi mereka. 

Seperti yang kita ketahui, bahagia itu tak hanya datang dari diri sendiri, bahagia datang dari mana saja. Tak perlu materi, namun hati yang tulus pun mampu memberikan kebahagiaan bagi mereka.

Sapa, tawa, canda ringan yang kita lontarkan, kiranya menjadi penguat mental bagi mereka yang membutuhkan. Telinga yang kita siapkan, melegakan apa yang mereka pikirkan. Tak harus mulut berucap, namun hati yang beri semangat.

Jangan sampai saat mereka tengah mengadu akan isi kepala, malah kita mengadu dengan nasib yang kita rasa. Maka bungkam yang nantinya akan mereka lakukan. 

Jangan pula sepelekan aduan mereka, apalagi sampai berkata, Alah cuma kayak gitu tok, masa stress sih, lemah! Boom! Selamat anda telah memperkeruh perasaan yang mereka rasakan.

Memang, kita tak mungkin bisa tahu apa yang orang lain rasakan jika kita belum merasakan. Tapi coba renungkan, jika anda yang berada pada posisi mereka. 

Apa yang anda butuhkan dan apa yang anda inginkan? Bukannya pelukan hangat dan telinga yang sedia setiap saat ketika anda sedang terpuruk?

Tak perlu banyak solusi, mereka hanya butuh dimengerti. Terkadang kita tak harus berkata untuk menunjukkan kepedulian, cukup berbagi senyuman dan kebahagiaan.

Terlihat simple memang, namun sangat melegakan. Satu tawa menyelematkan satu jiwa. Simpan kata, cukup sediakan telinga.

Bagi kita yang sadar akan kesedihan sesama, berikan peluk hangat yang kuat. Berikan kata manis yang dapat meredakan tangis. Tak perlu beri mereka wejangan, cukup diam dan ikut rasakan.

Jangan biarkan mereka yang sedang terpuruk, malah berdiri sendiri hingga ambruk. Jadilah tiang bagi mereka yang sedang tak senang.

Kepedulian tak mengganggu hidupmu, jangan menunggu mereka meminta, namun kita yang harus siap sedia. Lihat kanan kiri, mungkin ada yang tengah menikmati lukanya sendiri.

Mungkin tak banyak yang dapat kita lakukan jika semua telah terjadi. Cukup jadikan pembelajaran agar tak ada korban lagi. Buka mata, buka hati, lebih peka demi sesama. 

Tangismu, tangisku, tangis kita, bersama meraih bahagia. Untuk anda semua yang tengah mengalami kewarasan yang goyah, setidaknya bertahanlah demi hal-hal kecil. 

Demi sunset yang indah di setiap sore, demi bau hujan yang menenangkan, bahkan demi Indomie yang lezat saat hawa dingin menyerang. 

Everything gonna be alright babe! Semangat!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini