[CERPEN] Luka yang Meyayat Hati

Apa rasanya jika luka justru menjadi teman hidup bagi kita?

Sudah 3 jam aku berada di kamar ini. Kamar berukuran 3 X 3 meter yang sudah 4 tahun ini aku tempati. Kamar bercat putih tapi sudah kotor karena penuh bekas bercak kaki karena tendanganku, cipratan darah, coretan asal dari spidol warna-warni, dan noda-noda lainnya. Walaupun demikian, aku suka kamar ini karena hanya kamar inilah yang bisa menerimaku dan membuatku aman.

Advertisement

Aku hanya meringkuk di atas kasur selama 3 jam dengan masih berpakaian seragam office boy lengkap dengan sepatu yang masih belum dilepas. Tidak ada suara apa pun selain detik jam dan degup jantungku sendiri. Aku ketakutan setengah mati dan hanya di kamar inilah aku merasa aman. Selama 3 jam ini aku hanya diam memandang tembok dan sesekali langit-langit kamar.

Tanganku tidak berhenti bergetar karena menahan keinginan untuk menggigiti kuku sampai terkelupas ujung kulitnya atau menjambak rambutku sendiri atau mengambil silet dan membuat sayatan di paha. 

Aku pernah mencoba menyayat di lengan dekat nadi, tapi ternyata tidak seperih di paha dan itu kurang membuatku nikmat. Ditambah lagi, orang jadi tahu ada luka di lenganku dan aku tidak suka orang tahu hobiku. Napasku terengah-engah seperti habis berlari puluhan kilometer dan kepalaku rasanya akan pecah. 

Advertisement

Saat-saat seperti ini susah payah aku tidak berpikir akan minum cairan pembasmi nyamuk dan serangga atau seperti dulu aku lakukan, yaitu meminum cairan pembersih kerak lantai kamar mandi. Aku tahu rasanya tidak enak dan sensasi panas luar biasa dari perut dan menjalar ke dada serta tenggorokan, kemudian dunia rasanya meledak. Andai saja waktu itu ibu kos tidak menemukanku, maka aku …….. ah sudahlah!

Suara HP mengagetkanku. Kulihat layar HP dan benar saja satpam kantor meneleponku karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.16 menit, waktunya bersih-bersih kantor sore. Aku malas sekali mengangkat telepon karena tanganku masih gemetar, namun kalau tidak diangkat maka aku bisa kena surat peringatan lagi dan aku tidak mau dipecat. Kuangkat telepon dan meminta maaf terlambat datang ke kantor karena alasan ketiduran. 

Ah klise! Satpam menyuruhku segera ke kantor sebelum kantor ditutup. Dalam sehari aku memang diwajibkan membersihkan kantor 2 kali, yaitu pagi sebelum karyawan datang dan sore menjelang karyawan pulang. Satpam mengatakan kalau sampai aku belum ada di kantor sampai jam 18.00 maka aku akan diadukan ke bos besar dan diapun menutup telepon.

Susah payah aku akhirnya menggerakkan tubuhku dan bergegas ke kantor. Tanganku masih gemetar, tidak ada cara lain untuk bisa tenang! Maka aku mengambil cepat silet di atas rak dan mulai menikmati sensasi perih saat silet merobek kulit pahaku.

Tenang, aku tidak berniat bunuh diri kok, aku hanya menikmati rasa sakit dan perihnya….aku suka. Sekitar 2 menit sensasi itu dan tanganku sudah mulai tidak gemetar. Satu menit kemudian setelah aku membersihkan darah yang ada di paha dan lantai, kemudian aku menggulung celana panjangku kembali agar bekas luka itu tidak terlihat. Akupun berangkat ke kantor dengan ceria dan puas yang luar biasa.



*5 Jam yang lalu, 12.16*

Sebenarnya shift pagiku sudah berakhir sejak 2 jam yang lalu. Kantor sudah bersih dan para karyawan sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Walaupun demikian, aku masih belum ingin beranjak dari tempat ini, yaitu pos satpam kantor. Tempat ini adalah tempat favoritku di kantor karena selain aku bisa merokok sesuka hatiku, aku juga bisa menikmati melihat karyawan yang lalu lalang keluar masuk, melihat para satpam yang sok kerja padahal mereka hanya berdiri dan merokok serta menggoda SPG sesekali. Aku selalu suka mengamati tingkah laku orang karena memang aku tidak suka banyak bicara. Kata orang diam itu emas.

“Budi woi, cari makan yuk! Ngelamun aja daritadi,” kata salah satu satpam gendut bernama Roy. Aku selalu heran dengan Roy karena bisa lolos seleksi satpam padahal tubuhnya gendut dan jarang kantor mau menerima satpam gendut.

“Ke mana?” jawabku sambil menghembuskan asap rokok.

“Warteg pinggir jalan ajalah, gajian masih lama mau ngirit,” katanya sambil membuka dompetnya melihat sisa uang.

“Okelah….” Kataku sambil berdiri dari tempat dudukku. Kebetulan sebenarnya aku sudah lapar, tapi masih malas sebenarnya untuk meninggalkan tempat ini karena saat istirahat adalah saat paling asik melihat orang. Orang kalau lapar di jam istirahat itu lucu, mereka kelihatan sama. Ekspresi manusia yang lemah keluar karena kebutuhan dasar mereka belum terpenuhi, yaitu kebutuhan perut. Makan.

Kami berdua berjalan ke arah warteg yang jaraknya hanya 500 meter dari kantor. Sepanjang perjalanan Roy berbicara tentang isterinya yang suka marah-marah karena merasa gaji selama ini tidak pernah cukup untuk membiayai hidup. Ada satu kalimat dari Roy yang membuatku tertarik, “Enak ya jadi kamu Bud, kalau pulang nggak ada yang marah-marah, nggak nambah-nambahin pusing habis kerja. 

Kalau aku pulang sambutannya ya isteriku marah-marah itu, Bud. Kalau nggak inget aku punya 3 anak perempuan, udah kutinggal kawin lagi dia!” Kemudian Roy tertawa. Aku hanya menatapnya dengan senyum tipis. Iya memang jadi aku enak. Tahu nggak kenapa? Bukan karena aku tidak punya isteri tukang ngomel, tapi karena aku bebas. Bebas membawa hidupku ke manapun aku mau, mati pun boleh.

Sesampainya di warteg, aku melihat banyak orang sibuk dengan usaha memenuhi kebutuhan perut mereka. Manusia selalu ada limit, saat mereka lapar itu makin memperlihatkan kelemahan mereka. Aku makan nasi, telur balado, dan sayur oseng kacang panjang. Roy? Dia selalu ambil lauk kesukaannya yaitu ayam goreng serundeng dengan banyak sambal dan tanpa sayur.

“Aku kalau di rumah cuma dimasakin isteriku sayur, Bud. Bosan aku!” Roy kemudian makan dengan lahap. Aku kembali melanjutkan makan sambil sesekali melihat orang-orang di sekelilingku juga makan. Manusia macam Roy yang bertubuh gemuk ada beberapa di warteg ini dan aku perhatikan mereka makan dengan porsi banyak tapi cepat habis. Ada pula seperti sekelompok mahasiswa yang terlihat lama berpikir akan mengambil lauk apa. 

Kalau laki-laki rata-rata mereka mengambil lauk tanpa sayur dengan nasi segunung. Berbeda dengan perempuan, mereka hampir selalu meminta sayur dan hampir selalu meminta nasinya dikurangi. Mengapa tiap orang memiliki cara unik untuk menghilangkan kelemahannya? Tidak bisakah Tuhan memberikan satu cara yang bisa dipakai semua manusia?

Pandanganku kemudian teralih ke sudut ruangan warteg agak ke belakang dekat wastafel dan kamar mandi. Ada seorang ibu yang sedang menyuapi anak balitanya. Anak balita tersebut berusia sekitar 2 tahun dan terlihat menikmati makanan di mulutnya sambil bermain tisu serta sedotan. 

Terlihat piring di sebelah ibu masih penuh makanan, artinya si ibu belum makan dan memilih menyuapi anaknya dulu. Di depan si ibu dan anak itu terdapat piring yang sudah kotor, artinya ada seseorang di depan mereka tadi yang sudah makan duluan atau itu piring bekas pelanggan yang belum dibersihkan. 

Anak itu sudah membuat berantakan meja dengan tisu dan sedotan warteg. Si ibu membiarkan dan tetap menyuapi anaknya. Kemudian tiba-tiba anak itu menangis dan menumpahkan segelas teh hangat milik ibunya yang terlihat masih penuh. Aku melihat ke meja dan untungnya gelasnya tidak pecah, tapi meja itu semakin berantakan oleh tumpahan teh.

Aku memperkirakan akan segera terjadi luapan marah dari sang ibu. Ibu itu diam terlihat menahan amarah dan si anak masih terus menangis hingga terlihat sisa makanan dalam mulutnya. Kemudian muncul seorang laki-laki dari kamar mandi menuju meja si ibu dan anak.

Laki-laki itu melihat kericuhan yang ada di meja dan segera menggendong si anak. Dia berkata sesuatu pada wanita itu dan mengambil mangkok makanan anak. Sepertinya itu orang yang menghabiskan piring di depan ibu tersebut. Ia adalah ayah dari anak yang sedang menangis itu sekaligus suami dari ibu si anak. 

Si ibu kemudian memanggil pelayan warteg dan meminta tolong membersihkan meja serta meminta segelas teh hangat lagi. Selanjutnya si ayah bergantian menyuapi anak yang saat ini sudah berhenti menangis karena digendong. Di sisi lain, sang ibu bergantian makan.

Suasana di meja itu kembali tenang, tidak tampak lagi raut wajah marah sang ibu. Ibu makan, ayah menyuapi anak sambil sesekali bercanda dengan anak dan berbincang dengan ibu, sedangkan sang anak kembali bermain sedotan sambil makan.

Saat ini aku mulai merasakan dadaku berdegup kencang dan tanganku mulai terasa tidak nyaman. Aku tidak lagi selera makan dan pandanganku mulai kabur. Aku benci rasa ini! Aku benci dan ingin muntah! Lalu aku tidak bisa menahannya dan muntah tepat diatas piringku. Semua orang menatapku termasuk sepasang orang tua tadi.

“Kamu kenapa, Bud? Sakit?” tanya Roy sambil menjauhkan dirinya dariku, jijik melihat muntahanku sepertinya.

“Aa..aak…akuu..pul…pullaang…duluuuuh….yaa!” kataku sambil terbata-bata. Aku susah payah mengambil uang di sakuku karena tanganku sudah gemetar sekali. Setelah menyerahkan uang ke penjual, akupun segera lari kembali ke kos.

Sepanjang perjalanan pulang pikiranku kacau. Aku berusaha tetap fokus ke jalan walau pandangan mataku sudah agak kabur dan untung jarak kosku dengan warteg ini hanya beberapa meter karena aku memang sengaja memilih kos yang dekat dengan kantor. Aku selalu benci dengan momen keluarga. Keluarga yang bahagia dengan suami, isteri, anak saling memperlihatkan kehangatan. Aku benci sekali dan ingin rasanya kuhancurkan momen keluarga bahagia seperti itu. Ya Tuhan inilah kelemahanku.

Aku masih bisa membayangkan betapa interaksi keluarga di warteg tadi itu sangat indah. Suami yang mau membantu isterinya mengurus anak dan ibu yang bisa mengontrol emosinya dengan baik. Aku benci sekali! Kupercepat langkahku menuju kos dan kurasakan kepalaku semakin berat seakan membawa berton-ton karung beras. Tanganku jangan ditanya lagi, bergetar tidak karuan seperti akan lepas. Ah aku selalu benci momen ini. Kenapa waktu tungguku akan hilangnya rasa ini tidak pernah datang…..

*31 tahun yang lalu*

Seorang bayi laki-laki lahir dari rahim seorang wanita rapuh. Wanita itu menamainya Budi agar mudah diingat karena panggilan itu sangat umum di Indonesia. Wanita itu terlihat terus menangis semenjak menyaksikan anaknya lahir. Perasaannya campur aduk antara senang, sedih, dan marah. 

Senang karena akhirnya ia bisa melahirkan setelah 9 bulan menderita karena hamil tanpa dukungan suami. Sedih karena ia harus siap menjadi seorang ibu tanpa ia inginkan. Marah karena ia tahu kebebasannya semakin terbatasi dengan lahirnya anak ini dan semua ini gara-gara keluarga terlebih suaminya.

Wanita itu tidak pernah mencintai suaminya, begitupula sebaliknya. Mereka menikah karena dijodohkan dengan dalih usia yang hampir menginjak 25 tahun. Di sisi lain, sang suami mau dijodohkan karena ia takut dianggap penyuka sesama jenis karena sudah 39 tahun belum menikah. Semuanya karena terpaksa, pun ketika akhirnya sudah menikah dan wanita itu bersikeras menunda kehamilan, sang suami menolak berdalih takut kelamaan nanti dikira mandul. 

Benar saja, wanita itu langsung hamil tanpa sempat datang bulan setelah menikah. Seharusnya disambut dengan kebahagiaan bahwa Tuhan menitipkan buah cinta ke mereka, tapi masalahnya adalah tidak ada cinta diantara mereka. Jadi, ini buah apa?

Masa kehamilan dan pasca kehamilan tidak pernah mudah bagi mereka. Banyak sekali konflik karena tidak pernah ada rasa cinta. KDRT seperti sudah menjadi kebiasaan bukan hanya suami ke isteri tapi juga sebaliknya. Saat Budi kecil pun, ia sudah sering melihat orang tuanya saling mengancam bunuh diri dan bahkan akhirnya sang ibu benar-benar meninggal karena bunuh diri dengan menggantung di kamar mandi saat usianya 5 tahun. Sejak ibunya belum meninggal pun, Budi sudah sering pula dianiaya secara fisik dan verbal. Tubuhnya sering disulut rokok ayahnya atau ditampar ibunya saat kesal.

Saat usia Budi 15 tahun, ayahnya meninggal karena overdosis narkoba. Semenjak itu, Budi putus sekolah dan hidup sendiri dengan bekerja serabutan. Keluarga Budi tidak ada yang peduli dengannya karena Budi dikenal sebagai anak yang teramat pendiam dan dianggap tidak berguna. Ditambah dengan ayah dan ibu Budi yang tidak pernah mendekatkan diri ke keluarga masing-masing. Mereka sengaja membuat jarak dengan orang-orang agar aku semakin menderita karena sebegitu nistanya aku lahir ke dunia ini.

Budi bukanlah anak di keluarga itu, melainkan korban dari ketidaksiapan pasangan suami isteri untuk menikah dan memiliki anak. Ia tumbuh menjadi pribadi yang memiliki pengalaman traumatis luar biasa. Budi selalu trauma melihat interaksi keluarga bahagia karena ia memiliki rasa iri dan dendam luar biasa pada setiap ayah atau ibu di dunia ini.

Budi sadar penuh bahwa lukanya bisa sembuh asalkan ia mau memaafkan masa lalu, memaafkan dirinya sendiri, dan menerima kondisinya sekarang, namun begitu dalamnya luka itu hingga Budi lupa bagaimana caranya memaafkan.

Aku selalu menunggu saat-saat terbebas dari belenggu luka ini. Aku selalu menunggu diriku untuk bisa mengobati sedikit demi sedikit luka ini, tapi rasanya begitu perih….dan sekarang perih adalah hiburanku, obat laraku, teman hidupku.

Jadi, kapan waktu menungguku habis? Ya, aku tahu bahwa aku menunggu diriku bisa menerima dan memaafkan, tapi aku juga tahu bahwa itu mustahil karena aku tidak diberikan Tuhan jawaban bagaimana menghilangkan kelemahan semacam ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement
loading...

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Psychologist and Writer [Contact me on: [email protected], @ayuarchentari, @archanabiro]

CLOSE