Mungkin banyak di luar sana yang mencomooh statusku sebagai jomblo, karena jomblo bagi mereka merupakan sebuah aib yang harus ditutupi segera dan bila perlu berpamer ria dengan pacarnya. Mulai dari makan bersama, jalan-jalan bersama dan nonton bersama harus selalu di-upload di media sosial demi sebuah eksistensi.


Kadang kuakui, aku merasa iri dengan kehidupan mereka yang pacaran, saling memberi perhatian dengan mesra, saling berbagi dalam suka dan duka dan saling mempercayai ketika semuanya baik-baik saja. Tapi kadang aku juga sangat kecewa melihat mereka ketika badai cinta mengujinya.


Advertisement

Mereka tak sungkan untuk saling membuka aib masing-masing, saling mencaci maki dan yang paling parahnya lagi saling membenci seumur hidup. Bukankah mereka pernah bahagia bersama meski pada akhirnya hanya bahagia yang semu karena tidak ada ikatan yang sah?

Memang. Sejauh ini, aku hanya sebatas mampu mengumpul buku, sesekali juga berguru pada guru ngajiku. Menyicil untuk mereguk ilmu dari setiap buku itu. Bertanya sambil tersipu malu pada guru ngaji. Aku juga suka bertanya pada Bapak. Semua itu kulakukan tentu dengan segenap keberanian dan kemauan yang kadang sulit untuk kukumpulkan. Dan aku juga punya prinsip bahwa status jomblo itu merupakan cara halus Tuhan untuk menjadikanku spesial untuk jodohku kelak.

Untuk itu pula, kukatakan bahwa perkara nyata tentang kehidupan berdua denganmu, seutuhnya belumlah aku tahu. Oleh karena itu, aku belum memiliki kemampuan sepenuhnya dalam hal menjanjikan kesiapanku yang maksimal kepadamu. Aku masih terus belajar. Mempelajari berbagai mata pelajaran yang pada umumnya tidak kupelajari saat kuliah atau pun ketika sekolah menengah dahulu.

Advertisement


Aku tertatih di tengah gelapnya malam. Sunyi. Kendati demikian, aku paham sepenuhnya bahwa ini adalah bekal untukku, untukmu, juga untuk anak-anak kita nanti


Aku sadari pula, meski terkadang sulit bagiku untuk mengalahkan rasa malas dan godaan-godaan lain, namun, dengan tekad kuat, kuhapus kembali air mataku yang luruh. Aku mencoba tegar dalam balutan nasihat Imam Syafi'i. Sungguh, katanya jika tak kuasa menahan lelah dan perih belajar, rasakanlah betapa menderita dalam kebodohan.

Di samping itu, aku juga berusaha untuk memahami bahwa segala yang kupilih ini adalah perjuangan di jalan-Nya dan pengorbanan karena-Nya. Untuk itu, aku berharap pada Allah akan satu hal. Bahwa dengan iringan air mata dan kemauan yang kuat, kudamba nanti saat berada di puncak kerinduan yang kutahankan di sela-sela fantastisnya perjalanan sendiri ini, hadir seorang yang juga telah berjuang sepenuh hati. Seorang yang bahkan perjuangannya jauh melebihi apa-apa yang telah kulalui.

Pada puncak itulah perjanjian mulia tumbuh. Aku dan kamu benar-benar berjanji akan memulainya bersama. Kita berusaha untuk siap dengan segala hal yang telah kita persiapkan di hari-hari sendiri. Di kumpulan hari lalu yang baru saja kita melangkah selangkah dari itu. Bahwa hari ini kita telah berhak melangkah kembali dengan genggaman penuh pahala. Berkat janji itu pula kita telah diperbolehkan untuk berupaya meraih rida dan surga-Nya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya