Aku hanyalah seorang wanita biasa yang ingin dicintai apa adanya. Menemukan seseorang yang melihat semua kekurangan dan kelebihanku adalah hal yang bisa diterima. Semua perjalanan cinta yang telah ku lalui megukirkan kenangan yang tak bisa aku lupakan.

Mereka yang pernah kucintai sepenuh hati membuat kenangan itu, bukan kenangan yang indah melainkan kenangan yang tidak ingin aku ingat lagi. Entah apa yang ada dipikiran para pria yang pandai mengambil hati perempuan namun pandai pula mematahkannya berkali-kali.

Advertisement

Aku pernah terluka dan dikecewakan untuk sekian kalinya. Hal itu membuatku sangat berhati-hati untuk menjatuhkan hatiku lagi…

Saat itu hujan datang, menumpahkan semua air untuk menghapus semua luka. Aku berdiri di depan kedai kopi kesukaanku. Seorang pria berlari kecil sambil memayungkan tas di atas kepalanya. Pria itu berhenti tepat di sampingku sambil membersihkan sisa-sisa hujan di bajunya lalu dia tersenyum lebar ke arahku.

“La, sorry gue telat hehe banyak kerjaan banget nih dikantor, yuk masuk”

Advertisement

Ya pria itu adalah temanku, teman lamaku. Entah sudah berapa lama aku mengenalnya.

“Pesen kopi dulu deh, lo pasti mau caramel macchiato kan?”

Setelah memesan kopi kami duduk di paling pojok ruangan di situ terdapat jendela besar dengan pemandangan kolam ikan dan kebun ditambah hujan hari ini, semakin cantik.

“Jadi gimana skripsi lo? Kapan sidang?”

Dia membuka pertanyaan yang sangat sulit untuk kujawab

“Hmm doain aja deh ya supaya cepet hehehe, btw thesis lo udh jadi ya? Cie calon sarjana lagi dong?”

Dia hanya tersenyum lalu tertawa

“Hahaha deg-degan sih gue, datang ya kalo gue sidang thesis minggu depan”

Aku hanya memberi jawaban menganggukkan kepala. Tidak ada pembicaraan lagi. Kami hanya menikmati kopi dan sisa-sisa hujan sore itu. Entah apa yang ada dipikiran pria itu, aku ingin tahu apa isi kepala pria di depanku ini.

“La, hmm gimana kabar hati lo? Sudah terbuka belum?”, aku hanya tersenyum. “Kenapa emang? Mau masuk ke hati gue? Hahahaha”.

Tiba-tiba pria itu menatapku dengan serius

“Apa boleh?”, aku hanya tertawa.
“Hahahah becanda terus lo, tuh junior atau temen kerja lo pasti banyak yang naksir. Lo cakep, mapan, pendidikan dan karir juga bagus. Masa sama gue sih yang belom jadi apa-apa. Masih mahasiswa semester akhir”.

Tak ada jawaban lagi darinya, dia hanya menarik kedua tangannya ke arah dagu dan memandang ke luar jendela.

“Gue mau lamar lo La, gue mau lo jadi istri gue” aku terkejut mendengar perkataannya.

“Gue engga bisa, gue belum mau punya hubungan sama cowok lagi. Gue gamau disakitin lagi, capek rasanya buat mengulang kejadiaan patah hati lagi terus harus sembuh lagi dari patah hati.”

Dikecewakan adalah hal yang sangat aku hindari untuk saat ini, terlebih para masa laluku yang dengan senang hati memberikan pengalaman untuk mengecewakanku. Aku tak percaya pada cinta untuk saat ini entah nanti. Hatiku masih besuk, ruang hatiku kosong namun terkunci rapat. Tak akan kubiarkan siapapun masuk lagi, sudah cukup untukku dikecewakan berkali-kali.

“Selama bertahun-tahun gue mencoba untuk menjadi cowok yang pantas buat lo La, tapi lo engga pernah memandang gue lebih dari sekedar sahabat lo doing, lo malah memilih cowok-cowok berengsek yang memainkan hati lo. Lo tau gak saat lo dikecewain gue yang paling sedih La, perempuan seperti lo harus dikecewakan lagi” katanya.

“Kenapa baru bilang sekarang?” tanyaku heran.

“Karena gue mau menjadi pria yang pantes buat lo. Gue mau lo hidup dengan kebahagian. Makanya selama ini gue berusaha buat dapetin kerja yang mapan dulu dan selesain pendidikan gue karena itu demi lo, gue mau jadi yang terbaik buat lo. Walaupun gue harus menahan semua luka di saat lo berikan cinta lo buat cowok-cowok berengsek itu. Itu sulit La, sulit.”

Entah apa yang ada dipikiran pria ini. Apakah ia sedang meluapkan isi hatinya selama ini? Aku tak tahu kalau ternyata ia menyimpan rasa yang begitu besar untukku, yang aku tahu ia hanyalah temanku untuk berbagi keluh kesah. Aku memandangi wajahnya, menatap jauh kedalam matanya.

Aku tahu itu bukan kalimat  gombal, ia tidak pernah berbicara seserius ini. Tiba-tiba kenanganku bersama pria ini terlintas begitu saja, dimulai saat aku bertemu dengannya di halte bus saat hujan dan aku menangisi masa laluku yang kandas karena dihianati, semua kenangan yang pernah ia lakukan padaku hanya untuk memastikan aku baik-baik saja.

Aku tak menyangka sebesar itu pengorbanan pria ini.
Apa yang telah aku lakukan selama ini? Mengapa aku tak menyadari ada sesosok lak-laki yang selama ini berjuang untukku? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku membuka hatiku untuknya?

“La, mungkin kita memang pernah sama-sama terlukai oleh cinta. Tapi yang gue tahu pasti cinta jugalah yang bisa menyembuhkan. Semua luka butuh proses untuk sembuh, termasuk luka hati kita. Hari ini gue beranikan diri karena gue gamau cinta lo disia-siakan lagi dan gue gamau kehilangan lo lagi.”

Aku beranikan diri untuk menggenggam tangannya, hangat. Seperti ketulusan hatinya dan cara dia mencintaiku. Apa yang telah ia lakukan untukku mungkin tak terlihat dimataku, tetapi berkat dia yang selalu ada di sisiku aku merasa memunyai pundak untuk bersandar, tempatku untuk mencurahkan semua apa yang ada dialam hatiku.

“Bisa nunggu gue sampai gue berani buka hati ini buat lo? Bisakah lo berjuang sedikit lagi?”

Pria itu mengenggam tanganku dan menatap mataku, harapan yang ada di matanya seolah melunakkan hatiku untuk membuka hatiku padanya.

“Bisa, gue akan menunggu dan berjuang lagi buat lo.”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya