Sepertinya aku akan menyerah saja sebelum kau benar-benar memintaku menemanimu maju ke medan perang lainnya.

Lalu bagaimana bisa seorang ratu meninggalkan rajanya, katamu? Tidak, kurasa bukan ratu yang meninggalkan sang raja. Sebaliknya, rajalah yang tanpa sadar membuka jalan kepergian sang ratu. Sang ratulah yang bersusah payah dalam peperangan. Lagi-lagi sang ratulah yang harus dikorbankan untuk terhunus pedang sekedar untuk melindungi rajanya dari luka. Bukan sekali tapi berkali-kali, sang ratulah yang harus berceceran peluh menahan gejolak peperangan. Tidakkah itu menggelikan?

Sampai pada akhirnya sang ratu tersadar akan suatu hal dan memilih untuk tidak lagi tinggal. Tidakkah itu hal yang wajar? Bukankah orang yang berkali-kali terluka berhak mengambil keputusan akan hidupnya? Mendapatkan penawar untuk rasa sakitnya atau membiarkan rasa sakit itu perlahan membunuhnya.

Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya, dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Aku tahu kau akan protes, bagaimana mungkin? Kita bilang cinta itu sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbalik yang tidak pernah dipahami oleh pecinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya.”
Tere Liye, Rindu

Dengarlah! Tak jelas jelas mengapa, perlahan tapi pasti kurasa cinta yang sempat tertambat terlanjur menyelinap pergi entah kemana. Ini bukan sekedar lelucon, dan harus kuakui keberanian yang kuyakini pun sudah terhempas begitu saja oleh ketidakberdayaan. Lantas apa yang harus kulakukan dengan kekosongan ini?

Advertisement

Sekarang, masih tidak bisakah kau luangkan waktumu sekejap untuk memahami apa yang ingin coba kusampaikan? Sulit, lagi-lagi katamu hanya kau saja yang berhak memutuskan segala sesuatu dan masa bodoh dengan kehadiranku. Katamu kita harus saling melindungi, namun kenyataannya hanya kau saja yang harus dilindungi. Katamu kita harus saling memahami, namun lagi-lagi hanya kau saja yang harus dipahami. Kalau sudah begini bagaimana tidak muncul luka?

“Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus dimengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami pemahaman yang tulus.”
Tere Liye

Rindu? Jika ancamanmu sebatas itu, hanya ini yang akan aku sampaikan. Iya aku akan merindukanmu, namun semampuku aku akan bertahan untuk tetap menahannya. Bahkan rindu yang sebenarnya bukanlah rindu yang tercipta untukmu, tetapi rindu yang dirindukan oleh diriku sendiri. Kebahagiaan yang selalu kau kesampingkan. Kebahagiaan karena selalu dirindukan seseorang, aku merindukannya.

Hujan? Jika itu kata manis yang coba kau ingatkan, semua sudah tak berguna. Sekarang hujan tak lebih dari sekedar tetes-tetes air yang jatuh dari langit. Menunggu hujan reda dan menanti pelangi bersamamu seperti dulu bukan lagi dambaanku.

“Tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan.”
― Tere Liye, Rindu

Sejujurnya aku tak begitu terheran-heran, kerana kurasa di akhir cerita aku mulai menyadari semua. Kupikir aku tidak benar-benar merasakan apa yang kuyakini sempat kurasakan. Meskipun luka ini terlanjur ada, sudahlah itu tak mengapa. Mungkin perasaan dicintai hanya sebatas ilusi. Mungkin perasaan dibutuhkan hanya sebatas keyakinan yang dipaksakan. Mungkin semuanya hanya kemungkinan yang diada-adakan oleh keadaan, atau kebodohan?

Terima kasih untuk kesepian, ketersampingan, dan luka yang kau torehkan. Ku rasa cukup sampai sekian.