Ayah dan Ibuku terlalu sibuk dengan urusan mereka. Aku banyak menghabiskan waktuku dengan Mbah. Beliau yang merawatku dengan penuh kasih sayang. Layaknya aku adalah cucu kesayangan, begitu kata mereka yang diperlakukan berbeda dariku.

Setiap pagi, Mbah selalu menyiapkan sarapan untukku. Entah itu nasi uduk ataupun roti disertai susu atau teh manis hangat agar di sekolah aku tidak kelaparan. Jarak sekolah dan rumah Mbahku sendiri tidak terlalu jauh hanya 500 meter. Aku terbiasa berjalan kaki menyusuri jalan yang begitu ramai dan memandangi lukisan Tuhan di langit.

Advertisement

Kasih sayangnya penuh terhadapku. Seusai aku pulang sekolah, Mbah selalu menyiapkan makan siang untukku. Khawatir, cucunya jatuh sakit. Bahkan setiap malam saat aku terlelap dalam tidur, Mbah selalu mengoleskan lotion anti nyamuk ke kulitku.

Aku adalah orang pertama yang selalu diingat olehnya. Mbah selalu mengajakku berpergian dan jajan ketika beliau mendapatkan uang pensiun. Mbah adalah perempuan tua yang sangat amat mencintaiku dengan tulus. Aku ingat ketika aku masih balita, Mbah sering menggendongku dengan penuh kehangatan.

Namun saat aku memasuki Sekolah Menengah Pertama, aku pindah ke rumah nenek dari ayahku. Aku jarang bertemu Mbah. Setiap Mbah jatuh sakit, aku datang menemuinya. Setiap itu pula, aku melihatnya kembali sehat.

Advertisement

Kala itu aku memasuki kelas 3 SMP, aku sedang sibuk mempersiapkan ujian sekolah. Aku mendengar kabar bahwa Mbah sakit dan aku sebagai cucunya menengoknya. Aku melihatnya berjalan walaupun perlahan dengan bantuan tembok. Dan Mbah ketika melihatku berkata “Ndok, kamu katanya besok ujian? Sudah belajar?” Tanpa aku sadari, airmataku menetes. Disaat beliau sakit, masih mengingatkanku untuk belajar.

Aku pun pergi kembali ke rumah Nenek.

Namun pada esok harinya…

“Katanya saudara kamu ada yang meninggal?” tanya salahsatu sepupu tiriku. Aku diam sejenak dan balik bertanya, “Siapa?” “Yang lagi sakit kemarin,”

Aku langsung lemas. Hari itu merupakan hari penyesalan terbesar dalam hidupku. Aku meninggalkan Mbah pada detik terakhirnya di dunia. Aku merasa begitu egois meninggalkannya demi ujian sekolahku. Ayahku langsung membawaku ke rumah Mbah. Aku melihat sesosok perempuan tua tersenyum. Wajahnya cerah bersinar. Aku penuh penyesalan memeluk jenazahnya.

“Semalam nama kamu disebut-sebut Mbah saat Mbah mau menghebuskan nafas terakhir lalu Mbah dibimbing menyebut La Illaha Illalah,” salahsatu bibiku berkata kepadaku.

Aku hanya lunglai dan berurai airmata. Mbah, maafkan aku sebagai cucumu belum sempat membahagiakanmu hingga ajal menjemputmu. Mbah, aku masih merasakan kasih sayangmu. Terkadang engkau hadir dalam mimpi-mimpi malamku. Dan gubuk tua itu menjadi tempat kita bertemu dalam mimpiku. Mbah, engkau selalu menyayangiku sampai detik terakhir hidupmu. Maafkan aku, Mbah…

Teruntuk para cucu-cucu lain, ini adalah kisah nyata yang aku alami. Ketika aku menuliskan kisah ini, airmataku pun masih terjatuh. Selama apapun kejadian itu terjadi, bagian dari hidupku itu masih menjadi penyesalan hingga kini dan jadikanlah pengalamanku untuk kalian yang masih memiliki Mbah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya