Tumpukan tugas dan rentetan kegiatan sudah merupakan asupan sehari-hari para mahasiswa. Belum lagi tekanan faktor lain yang menambah beban mereka seakan-seakan siklus hidupnya tiada hari tanpa kesibukan. Gambaran seperti itulah yang pada akhirnya menjerumuskan mahasiswa menjadi deadliner. Tugas yang seabrek dengan tingkat kesulitan yang kian tinggi itu tidak ada habisnya mengambil waktu luang bahkan untuk tidur sekalipun. Maka sudah bukan keanehan lagi jika mahasiswa menjadi nokturnal yang hidup saat malam hari, meramaikan kafe-kafe untuk ngopi nyambi mengerjakan tugas kuliah atau si mahasiswa kura-kura yang kerjaannya rapat sepanjang hayat. Jadi, waktu tidur mereka adalah di sela-sela pergantian mata kuliah.
Akan menjadi sebuah kesulitan jika mahasiswa ini tidak mampu me-manage waktu dengan baik. Hal itu seringkali menjadi stereotype yang melekat pada deadliner. Iya, deadliner yang katanya sih ‘mageran, tukang nunda, gabisa bagi-bagi waktu’. Eitsss, emang bener? Selama ini deadliner selalu dicap negatif. Memang tidak bisa dipungkiri, terkadang soal hasil pekerjaan mereka kalah bagus dengan si rajin yang suka mengerjakan tugas lebih awal. Tapi yang menyelesaikan tugas sejak awal pun tidak menjamin tugasnya sempurna.
Tidak semua deadliner adalah pemalas, tapi seorang pemalas pasti deadliner. Para pengejar deadline itu bisa saja bukan tanpa alasan. Kemungkinan kondisi fisik yang tidak prima menghambatnya untuk mengerjakan tugas di waktu luang karena dipakai untuk istirahat. Menjadi seorang aktivis kampus terkadang mengharuskan mereka mendahulukan tugas organisasi. Mereka yang memiliki kesibukan tertentu menjadikan hal itu sebagai prioritas dibandingkan tugas kuliahnya.
Ya selama tugas atau pekerjaan itu adalah tanggung jawab individu, mengerjakannya menjelang deadline menjadi pilihan dan konsekuensi yang ditanggung masing-masing, tidak merugikan orang lain, dan mereka sudah menyiapkan diri untuk itu. Pada sebagian orang, ide muncul dan pikiran terbuka ketika menjelang batas akhir pengumpulan tugas. Ada beberapa sisi positif yang dirasakan oleh mereka para deadliner.
Efesiensi waktu
Tugas yang dikerjakan sejak awal terkadang mengalami beberapa kali revisi yang memakan cukup banyak waktu. Berbeda jika dikerjakan di akhir, kesalahan bisa diminimalisir karena kita memastikan instruksi tugas sudah jelas dan benar-benar dipahami. Bukan berarti mengahkhirkan tugas karena belum siap, justru mereka sudah melakukan riset atau persiapan sejak awal hingga akhirnya tugas dikerjakan ketika semua telah siap.
Melatih ketenangan
Ketika kabar tugas-tugas sudah selesai mulai menghantui, akan ada dorongan untuk mengendalikan diri agar tetap tenang. Terburu-buru mengerjakan tugas justru bisa membuat hasilnya tidak optimal. Ketika tidak terbawa resah dan gelisah, ketenangan akan hadir dan berdampak pada tugas yang dikerjakan secara mengalir.
Memfokuskan diri lebih maksimal
Karena waktu yang dimiliki tidak tersisa banyak, segala daya dan upaya akan dikerahkan agar tugas bisa terselesaikan. Maka para deadliner akan semaksimal mungkin tidak terdistraksi oleh hal apapun. Memusatkan pikiran dan semua anggota badan hanya pada satu pekerjaan.
Terbiasa di bawah tekanan
Tuntutan untuk menyelesaikan tugas dalam waktu singkat memacu untuk mengatasi diri dari kepanikan-kepanikan yang ditimbulkan dari luar. Dengan sistem kebut semalam itu, mereka terasah untuk berpikir cepat. Segala macam sindiran teman dan hitung mundur batas waktu pengumpulan tidak menggentarkan mereka untuk tetap santuy dan yakin bisa menyelesaikan tugas pada waktunya.
Pada intinya, realita buruk yang terlihat tidak bisa melabeli para deadliner yang sebenarnya. Meskipun mepet deadline mereka tetap disiplin. Jiwa deadliner tetap tenang di tengah badai tekanan. Tidak selamanya asumsi buruk harus diberikan kepada mereka yang mengejar deadline.
ADVERTISEMENTS
Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”