Manusia yang Ternyata Dia Dibelenggu Algoritma

Google tidak akan selalu benar. Lagipula ini hanya kemungkinan-kemungkinan yang ada pada fitur-fiturnya. Namun, jika Google membuat keputusan yang cukup bagus, masyarakat akan memberikan otoritas semakin besar kepadanya. Seiring berjalannya waktu, database akan tumbuh, data statistik akan lebih akurat, algoritma akan terus membaik, dan keputusan pun akan lebih baik. Sistem itu memang tidak akan pernah tahu saya dan kalian sepenuhnya, dan tidak akan bebas dari kesalahan. Namun, itu tak perlu dirisaukan.

Advertisement

Liberalisme akan runtuh pada hari ketika sistem itu lebih tahu tentang saya dan kalian ketimbang saya dan kalian sendiri. Ini akan lebih sederhana ketimbang kerumitan yang bisa dibayangkan sekarang, mengingat sebagian besar orang memang tidak benar-benar mengenal diri mereka sendiri dengan baik.

Sebuah studi yang dilakukan oleh tandingan Google, yaitu Facebook sudah lebih baik dalam menilai kepribadian dan watak seseorang daripada teman, orangtua, dan pasangan orang itu. Studi itu dilakukan pada 86.220 relawan yang punya akun Facebook dan yang menyelesaikan 100 item kuisioner kepribadian. Algoritma Facebook memprediksi jawaban para relawan itu berdasarkan pemantauan aktivitas "Like" mereka di Facebook—mana laman web, gambar, dan video yang mereka berikan Like. Semakin banyak Like, semakin akurat prediksinya.

Prediksi algoritma itu dibandingkan dengan prediksi dari rekan kerja, teman, anggota keluarga, dan pasangan. Mengagumkan, algoritma hanya membutuhkan 10 Like untuk mengungguli prediksi rekan kerja. Sebanyak 70 Like dibutuhkan untuk mengungguli teman dekat, 150 Like  dibutuhkan untuk mengungguli anggota keluarga, dan 300 Like untuk mengungguli pasangan. Dengan kata lain, jika anda mengklik 300 Like di akun Facebook anda, algoritma Facebook bisa memprediksi opini dan keinginan anda lebih baik dari kekasih atau suami/istri anda!

Advertisement

Malah, dalam bidang-bidang tertentu, algoritma Facebook bisa lebih baik dari orang itu sendiri. Para partisipan diminta mengevaluasi hal-hal seperti tingkat penggunaan aplikasi. Penilaian mereka kurang akurat dibandingkan dengan algoritma. Riset menyimpulkan dengan prediksi berikut ini (dibuat oleh orang yang menulis artikel, bukan prediksi algoritma Facebook): "Orang mungkin meninggalkan penilaian psikologis  mereka sendiri dan mengandalkan komputer ketika membuat keputusan penting dalam hidup, seperti memilih aktivitas, jalur karier, atau bahkan pasangan. Boleh jadi, keputusan yang digerakkan oleh data semacam itu akan memperbaiki kehidupan orang."

Dalam catatan yang lebih menyeramkan, studi yang sama mengisyaratkan bahwa pada pemilihan umum presiden di seluruh negara pada masa mendatang, Facebook bisa tahu tidak hanya opini politik puluhan juta rakyat, tetapi juga siapa di antara mereka adalah pemilih mengambang (swing voter) yang menentukan, dan ke mana kelompok pemilih ini akan berlabuh. Facebook bisa memberitahu bahwa di kota X pertarungan antara kubu A dan B sangat ketat, mengidentifikasi ribuan pemilih yang masih belum mengambil keputusan, dan menentukan apa yang perlu dikatakan oleh masing-masing kandidat dalam rangka memenangkan persaingan. Bagaimana bisa Facebook mendapatkan data politik tak ternilai ini? Kitalah yang memberikannya secara gratis.

Pada masa kejayaan imperialisme Eropa, para penakluk dan saudagar membeli seluruh hasil bumi  dengan logam-logam gepeng berwarna. Pada abad ke-21, data pribadi kita mungkin menjadi sumber daya paling berharga yang masih bisa diberikan oleh sebagian besar manusia, dan kita memberikannya kepada raksasa-raksasa teknologi dengan imbalan layanan email, pelatihan daring untuk dimanfaatkan sertifikatnya atau melihat orang memberikan informasi sambil joget pinggul

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE