Melirik Tradisi Nitik

Media Sosial yang Tak Melulu Virtual

NITIK sebenarnya bentuk dari tradisi ini adalah kegiatan jual-beli minuman toak. Seperti yang banyak kita tau toak merupakan salah satu minuman tradisional asal Tuban yang masih diproduksi dan dikonsumsi oleh masyarakatnya sampai saat ini. Dalam bahasa jawa nitik berarti menjemput. Para pembeli fanatik yang berkumpul untuk meminum toak bersama menjemput si penjual membawakan tuak yang itulah yang disebut sebagai tradisi nitik.

Advertisement

Ikatan emosional yang terbangun antara penjual-pembeli toak di Tuban menjadi ciri khas tersendiri dibandingkan dengan tradisi meminum toak daerah-daerah lain. Pembeli toak yang biasa disebut beduak mempunyai keterikatan tertentu dengan toak yang ditawarkan oleh penjual. Hal itu berkaitan dengan rasa dan suasana tempat yang ditawarkan oleh penjual. Selain itu, adanya ikatan sosial diantara beduak-beduak yang nitik toak bersama menjadi penguat ikatan batin yang semakin erat.

Kerukunan yang terjalin saat minum toak sangat terlihat jelas antara peminum toak. Dimana hal tersebut mempertebal keyakinan masyarakat akan manfaat dari toak yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Masyarakat sekitar meyakini toak merupakan akronim dari noto awak.

Tiap pagi dan sore hari, pelanggan yang umumnya kaum pria berbaur membentuk sebuah lingkaran mengitari si penjual toak, hingga membentuk satu kelompok. Mirip seperti jamaah yang melakukan ritual keagamaan tahlilan. Penjual akan menuangkan tuaknya di gelas centhak (gelas yang terbuat dari bambu) memutar secara bergiliran.

Advertisement

Pelaku Nitik tidak hanya mendambakan toak untuk sekedar dinikmati, namun dengan terciptanya ajang berkumpul malah menjadi suguhan yang benar-benar mereka nantikan setiap hari. Meski hanya duduk di tanah tanpa alas ataupun kursi, bagi peminum toak hal tersebut malah menjadi keistimewaan tersendiri, kesempatan untuk belajar kembali membumi.

Bukankah kesempatan untuk saling bertukar candaan dan tertawa bersama akan selalu menjadi hal yang kita rindukan?.

Advertisement

Tak ada lagi jarak, tak ada lagi sekat untuk mereka duduk bersama, meski kebanyakan pelaku nitik adalah golongan pekerja kasar, status sosial tidak pernah terdengar menjadi penghalang untuk menjalin kekeluargaan diantara mereka. Nitik adalah media berkumpul yang mereka sepakati untuk menenangkan hati.

Pola komunikasi dan kontak sosial dari pelaku nitik yang sengaja dibentuk bagaikan keluarga seringkali melibatkan rasa percaya di antara para pelakunya. Tak jarang nitik berubah bagaikan wadah untuk berbagi informasi maupun berbagi tawaran pekerjaan. Kebanyakan pelaku nitik yang berlatar belakang sebagai petani, kuli bangunan, tukang becak, buruh dan nelayan memanfaatkan kegiatan nitik sebagai media untuk saling berbagi manfaat.

Kebiasaan Nitik sebenernya kebanyakan dilakukan di pematang sawah, tegal atau pun di lapangan terbuka sebagai lokasi mereka untuk berkumpul. Tetapi tak jarang sekarang kita bisa melihatnya di pinggiran jalan. Terlihat sekumpulan  orang nongkrong untuk minum toak. Kebiasaan nitik yang dilakukan dipinggir jalan ini menjadi cikal bakal kedai minum saat ini.

Kehidupan tradisi nitik ngumpul sambil minum toak ini memang merupakan bentuk warisan historis yang masih dilestarikan oleh masyarakat berdasarkan pengalaman masa lalu para leluhur mereka, sebagai tradisi yang menjadi media mempererat hubungan sosial kemasyarakatan.

Menyimak Proses Pembuatan Toak, Warisan Kearifan Penyambung Rasa Kebersamaan

Toak, kita tau merupakan minuman tradisional yang berkadar alkohol cukup tinggi hingga bisa memabukkan jika dikonsumsi berlebihan. Meski begitu, banyak yang menyukai minuman ini, dan mengagungkannya sebagai warisan budaya dan kearifan lokal.

Banyak yang beranggapan jika Toak Tuban adalah fermentasi dari Legen, dan banyak yang beranggapan pula jika Toak Tuban dibuat dari getah atau cairan dari buah Siwalan. Mungkin ada juga anggapan yang lain. Lalu, mana yang benar?

Minuman toak memiliki warna putih seperti susu dan rasanya agak sedikit pahit. Minuman ini terbuat dari getah nira yang disadap dari bunga pohon Siwalan. Proses pembuatan Toak hampir sama dengan pembuatan Legen. Berbeda dengan Toak, legen memiliki rasa yang rasanya cukup nikmat dengan sensasi segarnya.

Warga Tuban lebih sering menyebut pohon Siwalan dengan wit Bogor. Pohon yang merupakan salah satu jenis tumbuhan palma yang daunnya seperti kipas dengan tinggi yang bisa mencapai hingga 30 meter.

Perlu diketahui sebelumnya, jika ada dua macam bunga yang dihasilkan dari Siwalan. Pertama, bunga jenis jantan yang berbentuk tongkol akan diproses sedemikian rupa sampai menghasilkan Legen dan Toak. Sedangkan yang kedua jenis betina bisa menjadi Ental (Siwalan). Warga setempat membedakan penyebutannya sebagai wit bogor lanang dan wit bogor wedok.

Proses Pertama Petani toak akan langsung memanjat wit bogor lanang melalui batang pohonnya yang telah ditatar. Tatar itu sebutan untuk pijakan dari sayatan pohon untuk petani Toak saat memanjat (menek).

Sesampainya diatas pohon, Petani akan mengiris bungan pohon siwalan atau disebut juga sebagai Wolo. Wolo akan diiris tipis-tipis seperti uang logam. Kemudian cairan nira yang keluar akan ditampung pada bethek yang sudah dibuat sebelumnya. Bethek ini adalah wadah untuk menampung nira yang menetes, berbentuk seperti tabung yang panjangnya berkisar 50 cm – 70 cm yang dibuat dari bambu yang telah dipotong menyesuaikan sekatnya.

Cairan nira yang keluar tidak akan jadi Toak tanpa dilakukan pembibitan Toak sebelumnya. Inilah kunci dari proses pembuatan Toak. Untuk menghasilkan Toak, bethek terlebih dulu diisi dengan bibit Toak. Bibit Toak ini adalah Toak yang sudah jadi. Biasanya bibit ini dicampurkan dengan takaran beberapa mili saja.

Setelah itu, cairan nira yang keluar akan secara otomatis mengalami fermentasi dengan bibit yang sudah dicampurkan tadi, dan akan menghasilkan Toak. Karena tanpa pembibitan Toak, cairan nira yang keluar hanya akan menjadi Legen.

Rasa Toak yang dihasilkan ini pun tergantung dengan babakan (ramuan) yang dicampurkannya. Babakan atau jatu yang dicampurkan biasanya menggunakan kulit buah juwet atau sepet (sabut kelapa). Ada pula yang menggunakan jenis-jenis tumbuhan tertentu.

Toak Tuban biasanya di ambil petani dua kali dalam sehari, pagi dan sore. Dalam satu harinya, satu pohon Bogor dapat menghasilkan 5-7 liter, sesuai dengan kualitas Bogor.

Jika ingin menikmati toak dengan sensasi yang berbeda, kalian bisa nitik toak di beberapa tempat. Orang-orang akan duduk melingkar di tanah tanpa alas, sambil berbincang dan tertawa bersama. Suasana keakraban yang muncul antar para peminumnya akan menjadikan sensasi minum toak menjadi lebih hangat.

Tertarik mencicipi Toak Tuban? Tak perlu khawatir akan mabuk, Toak tidak masalah asal tidak berlebihan. All Hail ToakTuban!

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE