Membaca yang Tak Tertulis di Balik Pandemi Corona

Sebenarnya corona apakah benar-benar ada?


Jane corona iki onok tenan ta?


Tuturan khas Jawa Timur diatas hanyalah satu dari sekian banyak ungkapan bahasa daerah untuk corona, yang tanpa sengaja saya jumpai di salah satu sudut desa di Kabupaten Banyuwangi. Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan diksi hits-jaksel, maka ungkapan tersebut menjadi seperti ini: “sebenernya nih corona beneran ada ga sih anjir?”.

Tanpa bermaksud mensimplifikasi, asumsi yang terbangun dari proses pemaknaan singkat di kepala saya adalah, pertama si penutur sedang berusaha mempertanyakan keabsahan berbagai informasi mengenai wabah virus corona dengan segenap regulasi dan pelarangan yang direpresikan dari hulu hingga ke hilir. Bukan sekedar mempertanyakan, kedua, si penutur terkesan meragukan infografis yang menyajikan angka ODP, PDP, Positif, hingga total kematian akibat corona, meski fluktuasinya kian meningkat tajam dari hari ke hari.

Si penutur juga tampak sangat terheran-heran, mengapa aturan social & pshycal distancing yang disiarkan Pak Yuri (jubir pemerintah untuk covid-19) begitu massif tersiar hingga ke lapisan akar rumput. Bandingkan, misalnya saja dengan instruksi presiden mengenai program PKH (Program Keluarga harapan) harus tepat sasaran, yang pada kenyataannya banyak orang ber-uang juga dapat jatah kok. Sungguh jauh panggang dari api. Tapi corona berbeda.

Aturan diberlakukan secara gebyah uyah. Tak ada lagi istilah pusat, daerah, atau pelosok desa. Semua dipaksa tunduk terhadap instruksi. Kali ini set by design nya adalah entah bagaimanapun caranya, panggang harus presisi di atas api. Dari sini saja terlihat bahwa isu corona ini sungguh fakta empiris yang tak biasa. Di pelosok desa, warung kopi mbok ijah dilarang buka, sholat jumat ditiadakan, penyelenggara hajat nikahan yang ngeyel bahkan dihadiahi dresscode biru khas tahanan. Hey Bung, di pelosok desa ini bahkan tak ada satupun ODP. Jane corona iki onok tenan ta?           

Lalu, justifikasi macam apa yang coba anda tuduhkan kepada si penutur di atas? Jika terburu melayangkan negative labelling, berarti anda sedang berada di seberang jalan sambil menikmati nyanyian bully-ing bersama koloni sumbu pendek anda lainnya. Begitulah memang budaya masyarakat kita, yang coba mengafirmasi racun post-modernisasi. Maka menjauhlah, karena ketika irrasionalitas telah menjangkiti pikiran, anda tak akan pernah nyaman menjadikan naskah ini sebagai koleksi bacaan.

Terus terang saja, sebagai pengagum neo-marxian, saya ingin membawa alur pembahasan kali ini menggunakan paradigma kritis-transformatif, yang menurut Goerge Ritzer, salah satu utilitas teori kritis adalah mengkritik kebudayaan yang dianggap hanya menghancurkan otentisitas kemanusiaan. Hal ini penting sebagai langkah interpretasi realitas sosial. Terlebih ketika dihadapkan dengan belenggu pandemi corona beserta serangkaian instruksi #dirumahsaja yang represif nan hegemonik.           

Baiklah, untuk memulai pembacaan transformatif kali ini, saya akan meminjam prespektif Rolland Barthes, bahwa teks bukan suatu objek yang tetap, ia selalu berada ditengah-tengah interaksi dengan teks lain, Barthes menyebutnya dengan intertektualitas. Secara semiotik, istilah intertekstual bahkan merujuk pada arti yang lebih luas, dimana kebudayaan, poitik, ekonomi, dll. turut andil menjadi bagian dari ‘teks lain’ yang memiliki keterkaitan. Ya, saya akan mengajak anda semua untuk membaca ‘teks lain’ yang tidak tertulis.

Asumsi teoretis di atas bisa saja dituduh terlalu kiri. Tetapi perlu anda ketahui, di sudut kanan, Syeikh M Nursamad Kamba  dalam antologi singkatnya di laman caknun.com berujar “Kanjeng nabi diperintahkan membaca, padahal tak ada naskah tertulis saat itu. Tetapi yang jelas pembacaan naskah tak tertulis menghantarkan beliau pada kegemaran berkhalwat, merenung, dan merasakan kehadiran tuhan”. Maka candradimuka mana lagi yang kau dustakan?           

Setelah cukup panjang bermain-main di ruang ontologi dan epistemologi, tak lengkap rasanya jika naskah ini tidak memberikan suguhan aksiologi. Ini tentang bagaimana mengungkap ‘teks lain’ yang beredar disekitar si penutur. Asumsi awal yang bisa saya berikan adalah, dibalik narasi ‘jane corona iki onok tenan ta?’ terdapat suatu kondisi masyarakat desa yang sangat survive di tengah musim pandemi. Para akademisi menyebutnya dengan konsepsi rural community.

Bagaimana tidak, di tengah isu lock down yang secara ekonomi berimbas pada pengurangan tenaga kerja, masyarakat desa yang cenderung agraris masih menikmati hasil panennya seperti biasa. Anjuran work form home tak berlaku bagi mereka.  Hal lain dari cara hidup pak Tani yang juga krusial ditengah pandemi adalah penggunaan sistem lumbung padi sebagai upaya ketahanan pangan keluarga. Pak Tani akan menyimpan sebagian hasil panennya untuk jatah makan keluarga hingga tiba musim panen yang akan datang.

Logika semacam ini jelas sangat berbeda dengan prespektif konsumerisme yang banyak dianut masyarakat saat ini, dimana uang bukan lagi nilai tukar untuk memenuhi kebutuhan. Melainkan uang tersebutlah kehidupan sekarang ini. Seolah-olah segalanya bisa dilakukan dengan uang. Tak heran ketika corona mewabah, fenomena panic buying terjadi dimana-mana. Hal ini sekali lagi menunjukkan bagaimana pak Tani sebagai representasi masyarakat desa jauh lebih berdaulat.           

Kehidupan masyarakat desa tak melulu soal bertani. Yang juga menarik ditengah pandemi, adalah mekanisme survival pak Guru. Saat mas menteri menginstruksikan  pembelajaran secara daring, pernahkah terpikir bagaimana nasib pendidikan di desa? Tak semua siswa di desa melek teknologi, terkoneksi internet, dan memahami peggunaan aplikasi.

Tapi pahlawan tanpa tanda jasa tetap menjajakan jasanya demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Berbekal masker seadanya, pak Guru dan bu Guru di desa mengantarkan soal-soal latihan kerumah siswa. Tak cukup di sini, masih ada ‘teks lain’ yang beredar di sekitar si penutur. Sebuah penelitian mengungkap tiga terminologi khas masyarakat desa yang menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari, yakni sambatan, rewang, & jimpitan.

Sambatan adalah budaya mendengarkan keluh kesah antar masyarakat. Sedangkan rewang adalah memberikan bantuan baik secara moril maupun materiil kepada tetangga yang membutuhkan. Yang terakhir adalah jimpitan, yakni sumbangan sukarela yang digalang untuk menjamin kehidupan si fakir & miskin. Dari paparan singkat tersebut, masyarakat desa tak perlu menunggu posting di instagram atau membuat open donasi di change.org hanya untuk membantu tetangga mereka yang kelaparan akibat corona.            

Maka pembaca yang budiman, saya tidak berharap apapun selain anda mencoba memainkan intertekstualitas anda sendiri, kemudian berupaya menemukan si penutur, teks utama, dan teks lain anda sendiri. Sederhana saja, paling tidak agar kita semua tetap memanusiakan manusia di tengah pandemi corona yang melanda. Karena di luar sana, masih sangat banyak teks istimewa layaknya: ‘jane corona iki onok tenan ta?’

 

Daftar Pustaka

Barthes, Roland. 1981. “Theory of The Text” dalam Untying The Text: A Post-Structuralist Reader by Robert Young (Ed). Boston, London and Henley: Routledge & Kegan Paul.

Ritzer, George. 2015. Teori Sosiologi Modern. Prenada

 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

alumni FISIP UNAIR, Founder Literate Millenial Movement