Membuka Jalan Ketenangan: Menghadapi Keresahan dan Menemukan Rasa Damai

Kadang-kadang, hidup itu seperti mengemudi di tengah hujan lebat, dan pikiran yang gelisah adalah tetesan-tetesan air hujan yang mengaburkan pandangan. Aku tahu perasaan itu, kita semua tahu. Mungkin kamu pernah merasa seperti itu juga. Aku ingin bercerita tentang momen-momen itu dalam hidupku, tentang bagaimana aku berusaha melawan gelombang keresahan dengan segala yang aku miliki.

Advertisement

Ada saat-saat di mana keresahan datang begitu tiba-tiba, seperti seorang tamu tak diundang yang muncul tanpa kabar. Saat aku sedang fokus pada pekerjaanku atau berbicara dengan seseorang, tiba-tiba ada sesuatu yang terasa salah. Jantungku berdegup lebih cepat, dan kekhawatiran mulai merambat masuk ke dalam pikiranku. Aku merasa seolah-olah dunia di sekitarku sedang runtuh, dan aku hanya ingin menemukan tempat bersembunyi.

Dalam momen-momen seperti itu, aku merasa terperangkap dalam pusaran pikiranku sendiri. Aku membayangkan semua skenario buruk yang bisa saja terjadi, seperti menggambarkan film horor yang tak pernah berakhir. Aku mencoba untuk menepisnya, berbicara kepada diriku sendiri bahwa itu hanya pikiran negatif. Tapi rasanya seperti berbicara kepada dinding, karena keresahan itu terasa lebih kuat dari akal sehatku.

Seiring waktu, aku belajar bahwa menghadapi keresahan membutuhkan lebih dari sekadar mengusirnya. Aku mulai mencoba meditasi, yang awalnya terdengar seperti ide konyol bagiku. Namun, aku merasa terkejut oleh betapa membantunya berfokus pada napas dan melepaskan semua pikiran yang mengganggu. Itu bukan penyembuhan ajaib, tetapi itu memberiku napas singkat dalam badai keresahan.

Advertisement

Disela semua carut marut, aku pun menyadari menulis bisa jadi satu metode pelarian dari rasa gelisah. Ini seperti membuka pintu ke dalam kepalaku dan membiarkan semuanya keluar. Kadang-kadang, aku menemukan kebijaksanaan dalam kata-kata yang kubuat, atau sekadar merasa lega karena aku tidak lagi harus menyimpan semuanya di dalam. Menulis ibarat meneriakkan unek-unek, tapi tidak berisik dan tidak mengganggu waktu temanmu untuk hanya sekedar mendengarkan curhatanmu yang bahkan kadang kamu belum tentu terima jika dibalas nasihat.

Namun, ada satu hal yang paling berharga dalam perjalanan menghadapi keresahan ini: dukungan dari orang-orang terdekatku. Mereka yang berada di sana ketika keresahan itu melanda, meski kadang tak enak hati rasanya dan takut akan merusak hari mereka jika kuceritakan keresahanku yang bisa saja konyol bagi orang lain. Meskipun aku merasa terjebak dalam badai sendirian, mereka mengingatkanku bahwa aku tidak pernah sendiri.

Aku belajar bahwa keresahan adalah bagian alami dari hidup. Ia tidak bisa dihindari, tetapi aku bisa memilih untuk tidak membiarkannya mengendalikan diriku. Hidup itu adil, tidakkah kita akan hidup santai tanpa memikirkan hal dengan serius tanpa adanya keresahan? Dalam perjalanan pribadiku ini, aku menemukan sedikit ketenangan di tengah-tengah hujan keresahan. Aku masih belajar, masih berusaha, tetapi aku tidak lagi takut akan gelombang yang datang. Aku menyelami keresahan, membiarkannya mengalir, dan kemudian merengkuh ketenangan yang datang setelahnya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Obviously passionately in love with writing