Pada liburan pergantian tahun sekolah kemarin, aku dan keluargaku berwisata roadtrip dari Jakarta sampai Jogja! Beberapa jam di mobil itu memang sangat membuat bagian belakangku kram dan pegal, tapi sangat menyenangkan untuk melihat bermacam-macam pemandangan dari kaca mobil, mulai dari sawah-sawah yang sedang panen sampai air laut dair ujung tebing! Sangat indah!

Namun, salah satu tempat pemberhentian kami sangat mengesankan bagiku. Saat kami tiba di Magelang, mama mengajak aku dan adik-adik melihat sebuah candi kecil yang berlokasi sangat unik. Beda dari Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang terletak di daerah yang lumayan luas dan terbuka, Candi Ngawen–nama candi yang kami hampiri–terletak di sebuah jalanan raya kecil dan dikelilingi jalan perempatan bak dalam sebuah komplek perumahan.

Advertisement

Selain lokasinya, kondisi Candi Ngawen juga berbeda dari candi-candi lainnya. Saat kami mengahmpiri candinya, kondisinya sudah terlihat sangat tua dan rentan akan cuaca buruk. Yang seharusnya ada lima candi, hanya empat yang terlihat masih lumayan sedangkan yang satunya hanya tinggal pondasi! Sedih ya? Namun di sisi lain, candi itu terlihat sangat menawan dengan pemandangan sawah di sekitarnya serta terlihat memeluk sejarah yang menarik.

Omong-omong soal sejarah, Candi Ngawen ini pertama diteliti oleh seorang peneliti asal Belanda bernama Van Erp pada tahun 1920. Karena dikelilingi sawah yang lumayan luas, Van Erp harus memulai ekskavasinya dengan mengeringkan lahan sawah candi ini ditemukan. Candi Ngawen ini berlatar belakang agama Buddha dan terbuktikan dengan temuan arca Dhyani Buddha Ratnasambhawa di Candi II dan arca Dhyani Buddha Amithaba di Candi IV. Berdasarkan gaya arsitekturnya, diperkirakan bahwa candi ini dibangun sekitar abad IX-X Masehi.

Hal menarik yang kami dapat lihat dalam candi ini adalah adanya hiasan patung-patung singa di sekitar empat sudut Candi II dan Candi IV. Singa-singa ini bisa dibilang mirip dengan singa merlion yang di Singapura itu! Gaya ukiran dalam singa-singa ini berfungsi mengaliri air hujan yang keluar lewat mulu arca.

Advertisement

Kompleks Candi Ngawen, seperti yang sudah aku sebutkan, terdiri dari lima  buah candi yang berderet sejejer dari utara ke selatan. Bangunan candi-candi ini mengahadap ke arah timur dan berturut dari arah selatan Candi Ngawen I, II, III, IV,dan V dengan masing-masing berdenah bujur sangkar. Candi II dan IV memiliki ukuran dan bentuk konstruksi yang sama. Banyak dibilang para peneliti bahwa bentuk Candi Ngawen memiliki aspek konstruksi yang hamper sama dengan candi-candi Hindu. Ini dikatakan karena bangunan candi yang meruncing. Tetapi, jika dilihat dengan lebih jelas, Candi Ngawen memiliki stupa dan teras (undak-undak) yang menjadi symbol khas dalam candi-candi Buddha.

Dari kelima candi yang terdapat dalam kompleks Candi Ngawen ini, hany Candi II yang telah dipugar pada tahun 1927 sehingga candi in saja yang memiliki komponen yang komplit. Empat candi yang lainnya hanya tinggal Khaki. Sayang banget ya? Padahal jika masih memiliki komponen lengkap, pasti sudah terpecah misteri sejarah candi ini dengan akurat! Ini bisa menjadi pelajaran bagi semua warga yang tinggal dekat dengan tempat-tempat penemuan seperti Candi Ngawen ini, untuk dapat lebih berkontribusi dalam hal konservasi peninggalan abad-abad sebelumnya agar dapat menghasilkan buah pendidikan bagi abad-abad ke depan!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya