Bulan suci identik dengan kebersamaan, kan? Banyak orang memamerkan kebahagiaan mereka untuk berbagi waktu dengan orang terkasih. Tawaran buka puasa bersama membanjiri group chat di aplikasi chatting. Semua orang memanfaatkan bulan ini untuk bersenang-senang dengan orang yang disayangi. Kecuali aku.


Sejak lulus SMA, aku memutuskan untuk merantau ke ibukota demi menghidupkan orangtuaku yang tak lagi bekerja dan adik-adikku yang masih sekolah. Ya, harus aku yang berkorban meninggalkan surgaku dan zona nyamanku.


Advertisement

Di bulan ini semua terasa semakin berat. Aku tak memiliki siapapun. Tak ada teman yang bisa ku ajak makan bersama. Apalagi keluarga? Mereka duduk bersama di rumah kecil kami yang nyaman berbagi tawa, sedangkan aku di sini di kamar kos kecilku sendiri. Tak ada yang menemani. Sungguh miris.

Aku rindu kebersamaan itu. Aku ingin dikelilingi orang yang kusayang di bulan suci ini. Tapi tak ada yang bisa kulakukan kecuali mencari rejeki agar keluargaku tetap dapat tertawa bersama di kampung. Untung lah aku mendapat tambahan uang dari kompetisi menulis novel Next Top Writer. Tidak, aku tidak bisa menulis. Aku cuma menuliskan cerita hidup dari keluarga kecilku di kampung. Ternyata banyak orang yang menyukainya. Di situ lah aku mulai mencintai dunia tulis-menulis ini. Tak pernah kusangka aku bisa mendapat penghasilan dari tulisanku sendiri.

Untuk kamu yang bisa tinggal serumah dengan keluarga dan menghabiskan waktu dengan orang terkasih di bulan suci ini, bersenang-senanglah selagi bisa. Kuucapkan selamat atas itu. Kamu termasuk orang-orang beruntung. Bolehkah aku bilang bahwa aku sedikit iri? Tapi aku turut bahagia atas kebahagiaanmu.

Advertisement

Semoga Tuhan mempercepat waktuku untuk berkumpul kembali bersama keluarga kecilku. Aku rindu. Sungguh rindu..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya