"Kapan lulus?"

"Nggak lanjut kuliah ya?"

Advertisement

"Kok udah lulus masih nganggur?"

"Lihat temen-temen udah pada nimang anak, kapan kamu nikah?"

Sebagian kita yang sudah melewati jenjang usia tertentu, pastinya sudah sangat akrab dengan beberapa jenis pertanyaan di atas. Bahkan ketika kita sudah berhasil menjawab semua pertanyaan di atas dengan aksi nyata, yaitu, dengan berhasil lulus sekolah, akhirnya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, berhasil mendapat pekerjaan, bahkan melangkah ke pelaminan, masih ada saja pertanyaan-pertanyaan susulannya. Seperti, kapan punya anak? Kapan menambah anak? Kenapa sekolahkan anak di sekolah murah? Kok kelihatannya pernikahannya tidak bahagia? dan seterusnya.

Advertisement

Hm. Tidak ada habisnya jika kita harus menjawab semua komentar, pernyataan, ataupun pertanyaan-pertanyaan orang. Jangan sampai kita termakan semua omongan orang ini yang akhirnya membuat kita hidup uring-uringan, penuh pertengkaran, dan tidak bahagia. Atau kalau dalam hubungan rumah tangga kita nanti, akhirnya, sampai pada kita meminta mengakhiri hubungan pernikahan. Amit-amit, jangan sampai! Karena, (kalau menurut kepercayaan saya), pernikahan itu hanya untuk sekali seumur hidup. Jadi harus benar-benar diperjuangkan.

Jadi, pada kenyataannya, banyak sebab yang punya akibat pada naiknya seseorang ke pelaminan. Ada yang karena dijodohkan, karena balas budi membayar hutang, karena sahabat jadi cinta, karena kebiasaan bersama dalam satu lingkungan tertentu, bahkan ada yang disebabkan oleh sosial media (FB, Twitter, IG, Youtube, dsb), atau (mungkin) karena punya hobi yang sama, seperti bermain ML (Mobile Legend) hehehe.

Sekalipun asal muasal sebuah pernikahan antara satu orang dengan orang lainnya (memang) berbeda-beda, dan sekalipun juga, hari-hari ini lingkungan tempat kita berkembang biak dan beradaptasi semakin toxic. Yakni, ketika banyak orang kini semakin suka melemparkan batu secara sembarangan (baca: suka nyinyir, ngomongin, menanyakan pertanyaan-pertanyaan bernada sindirian, keingintahuan, memojokkan, merendahkan dan lain sebagainya), tapi yasudahlah. Iya, benar, yasudahlah, itu bukan alasan untuk kita akhirnya tidak mencintai hidup kita, pernikahan kita, terlebih, mulai tidak mencintai sang buah hati yang (nantinya) sudah diizinkan hadir dalam kehidupan kita.

Tidak mudah memang menjalani kehidupan ini, tapi bukan berarti tidak bisa dijalani. Apalagi, jika kasusnya, (nantinya) kita menikah karena dijodohkan atau karena paksaan untuk sebuah "balas budi" (ya seperti kisah Siti Nurbaya gitu lah hehehe), pasti tantangannya tidak semudah pernikahan yang terjadi karena berawal dari sahabat dan berakhir pada rasa cinta. Tapi, tetaplah memperjuangkannya.

Jangan pernah berpikir untuk melampiaskan ketidakberdayaan kita untuk memiliki pernikahan yang ideal kepada buah hati kita di masa depan. Sebaiknya, jangan! Karena dia tidak pernah meminta lahir dari seorang ayah dan ibu yang (mungkin) tidak saling mencintai, yang (mungkin) penuh masalah dan selalu dibayang-bayangi lingkungan yang toxic.

Mungkin, awalnya, belum ada efeknya, karena mereka (nantinya) masih sangat kecil untuk mengerti bahwa mereka lahir bukan karena cinta, tapi, karena ketidaksengajaan, paksaan atau lain sebagainya. Tapi waktu akan terus berlalu, dan mereka yang bertumbuh makin besar juga sebanding dengan usia kita yang semakin tua. Mereka yang merasa tidak pernah diingkan dan punya hubungan yang dekat denga kita di masa kecil, akan secara alamiah juga ikutan tidak terlalu mempedulikan dan mengasihi kita yang semakin tua. Dan penyesalan yang selalu datang di akhir, tidak akan pernah bisa diperbaiki.

Jadi, sebaiknya sebelum itu terjadi dan berujung penyesalan. Pilihlah untuk berketetapan merawat dan mengasihi buah hati kita di masa depan dengan segenap hati. Tidak peduli seberapa berat pernikahan kita nantinya, salah atau tidaknya kita memilih pasangan nikah, atau punya atau tidak punyanya pilihan kita dalam menentukan siapa pasangan nikah kita nanti, tapi sekarang, kita masih punya pilihan.

Ya, kita punya pilihan untuk mengubah cara berpikir kita, untuk akhirnya di masa tua kita, anak-anak kita mengasihi dan merawat kita dengan baik seperti masa mereka masih kecil, kita merawat dan mengasihi mereka dengan segenap hati kita. Have a nice day :)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya