"Dia orang yang baik, Kak. Dia sayang banget sama saya, perhatian dan memperlakukan saya dengan baik. Tapi itu dulu, waktu kita masih pacaran. Saya yakin dia bisa kembali seperti dulu."

Entah apa yang dipikirkan perempuan cantik berambut lurus yang ada di depanku ini, dia masih mengelu-elukan suaminya setelah membiusku dengan rentetan cerita menyedihkan yang membuatku seketika membenci suaminya yang bahkan belum pernah kutemui. Tapi dia sendiri justru keras kepala. Perasaannya yang mengatasnamakan cinta benar-benar mampu menjajah logika, membuatnya semakin jauh dari kata merdeka. Dari sudut hati yang mana lagi dia bisa mentolerir kebejatan suaminya itu?

Advertisement

"Kalau menurut saya, lebih baik cerai, Mbak. Maaf sebelumnya," kataku dengan hati-hati.

"Enggak, Kak, kasihan anak saya jadi korban. Nanti dia nggak punya bapak."

Dia masih keras kepala. Korban, katanya. Apa dia tidak paham, justru dengan dia tetap bersama suaminya yang kasar itulah, yang membuat anaknya jadi korban. Suami yang tak segan-segan menghajarnya di depan sang anak malah semakin menjatuhkan mental anak itu sendiri.

Advertisement

Alinda. Sebut saja Alinda. Satu dari banyak potret kelam perempuan-perempuan tangguh yang layak untuk merdeka. Pertemuan pertamaku dengannya di sebuah tempat refleksi tak jauh dari rumah malah disambut dengan curahan hati penuh luka dari wajah lusuhnya.

"Selamat sore, pijat refleksi untuk seluruh badan dan totok muka ya, Kak?" sapanya ramah. Senyumnya mengembang lebar saat aku masuk ruangan, seolah semua dihidupnya baik-baik saja.

Beberapa menit berikutnya kami terlibat obrolan ringan sederhana sampai aku menyadari pipinya yang lebam, juga lengannya yang penuh bekas luka. Aku melihat beberapa bekas sundutan rokok dan garis-garis merah. Entah mendapat keberanian darimana, akhirnya aku bertanya.

Diluar dugaan, dia menjawab dengan tenang, "Kalau suami marah ya seperti ini, Kak."

Sontak aku sedikit terperangah, lalu mulai menanyakan apa-apa yang menjawab rasa penasaranku. Dia seolah nyaman untuk terus bercerita, mengalir seperti air. Sungguh, aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadinya. Hanya saja, hatiku ikut teriris mendengar jawaban pertamanya.

Cerita kekerasan rumah tangga yang biasanya hanya kusimak dari berita di televisi, sekarang kudengar sendiri dari korbannya. Dia masih muda, cantik, tangan-tangannya juga sangat terampil memijitku. Dia seharusnya di lindungi, dijaga dan diperlakukan dengan baik oleh suaminya sendiri, bukan malah sebaliknya.

"Dia berubah setahun semenjak kami menikah, semenjak saya hamil anak pertama."

Ya Tuhan, seperih apa rasanya dianiaya selagi hamil? Mengapa dia memilih tetap terkungkung dalam rumahnya sendiri?

"Terakhir kemarin, saya malah menemukan WhatsApp dari perempuan yang memanggil ‘sayang’ ke suami saya. Ketika saya menanyakan itu, suami malah menampar dan membenturkan kepala saya ke tembok. Mungkin saya yang salah, kurang merawat diri, sibuk bekerja dan merawat anak saja. Tapi jika tidak terus bekerja, kami makan apa? Dia kerjanya serabutan, tidak tentu."

Atas semua kesalahan suaminya, dia masih menyalahkan dirinya sendiri? Aku benar-benar tidak habis pikir.

"Mbak Alinda pantas mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari suami," kataku sesaat sebelum sesi pijat refleksi itu berakhir. Dia hanya tersenyum getir.

Aku tidak ingin memaksanya terlalu keras karena aku bukan siapa-siapa. Aku hanya sedikit membuka matanya lebih lebar, menunjukkan bahwa dia layak untuk merdeka sebagai perempuan tanpa bayang-bayang kekerasan dalam rumah tangga.

–oOo–

Hari ini, sekitar sepuluh bulan sejak terakhir aku mengunjungi tempat refleksi itu, aku kembali ke sana. Setelah menanyakan di bagian pendaftaran apakah Alinda masih bekerja sebagai terapis dan dijawab ‘iya’, aku meminta Alinda saja yang memijitku.

Mukanya tampak jauh lebih sumringah, wajahnya bersih tanpa bekas lebam atau kemerahan, dia tersenyum ramah.

"Saya sudah cerai, Kak. Waktu itu orangtua saya dari desa kebetulan main ke sini dan tahu suami saya sedang menyiksa saya seperti biasa. Ibu tidak terima dan langsung menyuruh saya bercerai. Saya sangat sedih karena masih mencintainya. Tapi semakin ke sini, saya malah merasa jauh lebih bahagia. Saya seperti bebas dari penjajah hidup saya," dia bercerita dengan semangat ketika aku menanyakan kabar suaminya.

Aku tersenyum ikut bahagia. Ada rasa lega yang menjalar meskipun dia bukan sanak saudara.

Untuk perempuan lain di luar sana yang mungkin punya nasib serupa, #MerdekaTapi terjajah oleh kekerasan dalam rumah tangga, semoga kalian punya kekuatan untuk bersuara. Jika memang dia tetap tidak bisa berubah dengan banyak kesempatan yang kalian berikan, hentikan dengan berpisah, karena kalian layak untuk bahagia.

Bekasi, Agustus 2018

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya