Menyayangimu adalah hal paling menyenangkan yang pernah aku lakukan, hingga suatu ketika kita saling merasa kecewa dan memutuskan untuk pergi begitu saja..


Sayang, aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa atas keadaan ini, perihal hubungan kita yang harus berakhir tanpa perpisahan yang baik. Aku yakin kita punya alasan sendiri untuk menyerah begitu saja dan berhenti berjuang untuk masa depan kita. Kamu dengan alasanmu, dan aku dengan segala pertimbanganku. Mungkin hanya waktu yang akan menjawab segala kesalahpahaman ini, mungkin kita memang sedang butuh waktu untuk introspeksi diri. Toh kalau Tuhan memang menghendaki, kita akan tetap menemukan jalan untuk kembali.

Advertisement


Aku kalah, bahkan sebelum aku benar-benar memperjuangkan segala rasa untukmu.


Kamu tahu, saat kau tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar, aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apa aku punya kesalahan yang membuatmu pergi? Atau aku bukan seseorang yang baik di matamu saat ini? Karena kau pergi tanpa memberiku penjelasan yang bisa aku mengerti, kau diam tanpa kata, membuatku tak henti-hentinya menerka tanpa jawab yang memuaskan segala tanya. Aku hancur, tapi kau sepertinya tak tahu atau mungkin tak pernah sedikitpun ingin tahu. Terkadang, aku merasa kalau hanya aku yang mencintaimu, dan kau hanya mencintai ambisimu. Aku kalah, bahkan sebelum aku benar-benar memperjuangkan segala rasaku untukmu.


Seharusnya jika memang aku berarti, kau tak akan tega membuatku menunggu tanpa kabar yang pasti.


Advertisement

Bagiku, komunikasi adalah penguat sebuah hubungan, karena jika tanpa komunikasi, hubungan akan terasa hambar. Tapi sepertinya kita punya prinsip yang berbeda. Kau dengan sifat cuekmu, dan aku dengan prinsipku. Kita tidak pernah benar-benar menyatu, dan pada akhirnya membuat satu sama lain merasa tak utuh. Aku terluka, apa kau merasa? Maaf jika selama bersamaku, kau pun merasakan hal yang sama. Kita hanya akan saling menyakiti kalau tetap bertahan pada ego kita sendiri. Aku yang lelah menunggu, dan kau yang tak pernah menyadari kalau kabar adalah hal terpenting untukku.


Maaf jika aku bukan yang terbaik untukmu, maaf jika aku masih kurang memahamimu..


Mungkin dari awal kita memang terlalu buru-buru, berkomitmen untuk menjadi satu. Padahal perkenalan butuh waktu yang tidak sebentar, kita harus saling memahami kelebihan dan kekurangan. Agar kedepannya kita tidak saling menyakiti karena ego kita sendiri. Tapi sudah tak ada gunanya menyesali segala hal yang terjadi. Kini kita sudah memilih jalan kita sendiri, kamu dengan jalanmu, dan aku dengan jalanku. Maaf jika aku bukan yang terbaik untukmu, maaf jika aku masih kurang memahamimu. Ternyata kita sudah tak bisa memaksa hati untuk menjadi satu, karena perbedaan yang tak mungkin menjadi padu.

Biar waktu yang menyembuhkan luka kita masing-masing. Biar waktu juga yang akan meluruhkan dinding ego yang sekarang berdiri kokoh..

Aku tidak berharap kau akan kembali, aku juga tidak ingin berharap kau akan menoleh padaku lagi. Tapi setidaknya, kita bisa menyembuhkan luka karena hubungan ini. Agar segala kecewa dan harapan yang sirna bisa sembuh dalam waktu yang tidak lama. Agar kita bisa sama-sama melanjutkan hidup, agar kita bisa kembali membuka lembaran cerita dengan seseorang di masa depan yang mungkin sedang menunggu untuk dijemput.

Agar saat kita harus bertemu lagi, kita akan bisa saling menyapa tanpa dendam, ataupun tanya yang belum terjawab di masa lalu kita. Kini aku yakin kalau kita sudah benar-benar berakhir. Jaga dirimu baik-baik, dan semoga menemukan yang terbaik. Aku menyayangimu, dan maaf belum bisa menjadi seperti yang kau mau.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya