Jika ada yang mengatakan bahwa hidup wanita itu dipenuhi dengan banyak drama, mungkin memang itu ada benarnya. Misalnya saja aku ini. Kalau mau disebut contohnya, aku pernah menangis karena patah hati. Aku pernah tak bicara sama sekali dengan mantan kekasih. Pun aku juga pernah bersitegang dengan sesama kawan karena permasalahan sepele. Kalau sudah begini, mungkin tak ada yang sudi berasa di sekitarku.

Jangankan mendekat, sekedar mendengar curahan hati ini saja mereka menutup telinga. Atau bisa jadi mereka mendengar, namun tak benar-benar memahami dan berempati. Namun, gadis satu ini benar-benar berbeda. Dialah yang mampu mendengarkan segala drama-drama sepele atau remeh dalam hidupku, dengan hati yang ikhlas. Dialah yang kusebut sahabat sejati.

Tadinya, aku adalah wanita yang sering menyendiri di tempat baru ini. Sungguh, seperti tak ada yang ingin berkawan dengan diri ini.

Aku bukanlah gadis pemalu atau senang menyendiri. Tapi entah mengapa, di tempat baru ini, di perantauan, aku agak sulit mencari sahabat. Terlebih sahabat sejati. Aku jauh dari ayah dan ibu. Lelaki pun, aku masih sendiri. Sepertinya, aku perlu waktu cukup panjang agar aku bisa bersosialisasi dan beradaptasi di kota ini. Keyakinanku, semua orang di sini pastilah ramah dan mau berkawan sejati sampai waktu abadi.

Kamu adalah wanita pertama yang menghampiriku. Tanpa perlu canggung, kamu merangkulku seperti saudaramu.

Akhirnya hari pertamaku menuntut ilmu sebagai mahasiswa dimulai. Kupikir, inilah waktunya untuk mencari sahabat. Tapi, tanpa perlu kucari, kamu datang dengan sendiri. Kamu hadir dan menyapaku dengan senyum yang riang. Lantas, banyak pembicaraan terlontar darimu kepada aku yang masih kalem ini. Lama-kelamaan, aku pun banyak berbicara dan menunjukkan bahwa aku dapat bersosialisasi di negeri ini.

"Kamu memang pemantik obrolan yang luar biasa membuatku tak ada bosannya."

Sejak saat itu, aku tak pernah merasa sendiri. Segala drama kehidupan juga tak jadi bebanku seorang.

Advertisement

Aku sungguh berterimakasih kepada Tuhan karena kesempatan itu telah mempertemukan aku dan kamu. Kini, aku tak jemu lagi menganggapmu sebagai teman. Bahkan, kupanggil pula kamu selayaknya sahabat sejati. Kamu mulai mengenalkanku pada banyak hal di perantauan ini. Kamu mengajakku pergi ke sana ke mari dan membawaku pada tempat-tempat menarik di sela-sela kepenatan tugas kuliah.

Sahabat sejati memang tak hanya hadir saat senang menghampiri. Ketika kemurungan tiba-tiba mampir di wajah, kepekaanmu meninggi. Sekejap mata, kamu tak segan menanyakan apa yang terjadi. Jika orang lain menganggap permasalahanku terlalu sepele untuk dijadikan drama, lain halnya dengan kamu. Mulai dari masalah keluarga, kuliah, pacaran, pribadi, hingga sekedar tetek bengek ramah yang kubesar-besarkan, kamu mau turut menangani.

Sahabatku, maaf ya kalau aku sering mengganggu waktumu karena curhatanku. Tapi kamu adalah sahabat sejati yang akan selalu kupertahankan.

Usai permasalahan reda, yang juga karena bantuanmu pula, kadang aku tak habis pikir sendiri. Bukankah ini sebenarnya masalah sederhana yang bisa kutangani segera dan sendiri saja? Lalu, mengapa tadi aku harus mengambil banyak emosi atas segalanya? Maka, akulah yang merasa bersalah karena telah melibatkanmu. Aku merasa bersedih sebab kamu turut terlibat kesulitanku yang sesungguhnya konyol.

Maafkan, aku ya sahabatku! Maafkan atas semua drama yang sebenarnya tak perlu. Maafkan karena aku selalu merepotkanmu dengan membawamu ke dalam permasalahan lebih jauh. Tapi jika bukan karenamu, aku tak akan mengert bahwa sesungguhnya tak ada yang perlu ditangisi dan dikhawatirkan di hidup ini bila kamu bersama kawan sejati.