Masih hangat-hangatnya di dunia maya, kehebohan yang terjadi setelah Apple mengumumkan deretan smartphone terbarunya yang baru tersedia di pasaran setidaknya November mendatang. Salah satunya bahkan dibanderol USD 999, atau kurang lebih hampir Rp 14 jutaan.

Bukan hanya itu saja, banyak yang memprediksi harga gadget tersebut akan melonjak hingga 20 persen setibanya di Indonesia. Menjadi sekitar Rp 17 jutaan! Jauh lebih mahal dibanding laptop standar yang bisa digunakan menyusun skripsi maupun bekerja, atau bahkan setara dengan satu unit sepeda motor.

Meskipun demikian tetap ada orang-orang yang berminat untuk membeli dan memilikinya, termasuk di Indonesia. Buktinya, sangat mudah bagi kita untuk menemukan para penjual online yang sudah membuka pemesanan atau Purchase Order (PO) smartphone-smartphone anyar tersebut. Entah kapan mulai dijual, dan tersedia di negara mana terlebih dahulu, mereka sudah aktif menawarkan jasa titip beli tersebut lewat media sosial.

Sejauh ini, skema yang mereka tawarkan untuk reservasi pembelian ada dua:


  1. Peminat bisa membayarkan tanda jadi atau down payment terlebih dahulu, untuk kemudian melunasinya menjelang pembelian. Hal ini dilakukan untuk mengamankan jatah atau slot kapasitas bawaan si penjual.

  2. Peminat bisa langsung mentransfer sejumlah uang sesuai harga jual yang telah ditentukan. Tinggal pandai-pandainya si peminat memilih, apakah harga yang ditawarkan masuk akal atau terlampau tinggi.

Advertisement

Bagi mereka yang sudah telanjur kaya sih tidak punya masalah untuk ikut dalam euforia ini. Sebab mereka memang memiliki keleluasaan untuk membelanjakan sejumlah uang tanpa merasa bangkrut kemudian. Berbeda dengan kebanyakan dari kita, yang harus susah payah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan menabung, itu pun dengan jumlah tabungan yang belum seberapa. Sehingga harus benar-benar cermat meladeni setiap keinginan yang muncul, dan tidak impulsif.

Berikut adalah beberapa pertimbangan yang diharapkan bisa menyadarkan setiap kali kita tergoda untuk membeli gadget baru.

Mengapa aku harus membelinya?

Apabila jawaban untuk pertanyaan ini adalah "Supaya aku kelihatan keren," atau "Supaya tampil kekinian," atau "Supaya aku nggak ketinggalan zaman," atau "Pengin, kayaknya bagus," atau alasan-alasan yang boleh dianggap sepele lainnya, maka silakan lupakan keinginan untuk membeli barang tersebut. Lebih memalukan lagi kalau sudah bela-belain beli gadget keren tapi enggak tahu cara pakainya alias gaptek!

Jawaban-jawaban di atas menunjukkan bahwa bahkan kita sendiri pun belum tahu pasti apa yang akan kita lakukan dengan barang tersebut, dan bagaimana kita akan mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dipastikan keinginan kita untuk membeli barang tersebut akan berujung pada kesia-siaan. Mubazir dan tidak berfaedah.

Apalagi benda ini adalah gadget, sesuatu yang pasti mengalami penurunan harga seiring berjalannya waktu. Saat ada varian baru diluncurkan, harga varian-varian sebelumnya pasti akan menurun. Setidaknya bakal diberikan diskon. Pada saat itu, keinginan kita untuk memiliki perangkat baru sudah tercapai. Tidak ada ceritanya seseorang harus buru-buru beli seri terbaru supaya harganya tidak naik.

Beda halnya dengan membeli objek-objek yang berdampak jangka panjang seperti tanah, rumah, apartemen, atau emas. Yang memang harus dibeli saat ini sebelum harganya makin meningkat.

Apa tujuannya?

Pertanyaan ini masih terkait dengan yang sebelumnya. Jika pertanyaan pertama berkaitan dengan urgensi atau seberapa mendesak, pertanyaan kali ini lebih kepada penggunaan, serta efektivitas dan efisiensinya. Kita pun bisa mempertimbangkan sejumlah alternatif demi hasil yang maksimal.

Di tahap ini, minimal kita tahu apa fungsi dan kegunaan khusus gadget idaman tersebut. Kita juga bisa membandingkan dengan jenis-jenis lainnya. Di sisi lain, seseorang yang benar-benar ingin membeli barang tersebut pasti sudah menghabiskan waktu untuk melakukan riset dan perbandingan, memastikan segala aspeknya, hingga punya pemahaman yang cukup terhadap gadget itu.

Sah-sah saja bila kita ingin membeli gadget atau tablet untuk menunjang aktivitas kita, lantaran memang memerlukannya. Akan tetapi dengan pemikiran yang matang, bisa dipastikan apakah pilihan tersebut sudah tepat, atau agak berlebihan.

Kita tidak menutup mata kok, banyak orang yang justru menjadi hebat dan terkenal berawal dari hobinya bermain-main dengan gadget. Salah satunya seperti Pinot (Wahyu Ichwandardi), yang bisa disebut seniman visual digital Indonesia. Kepiawaiannya memanfaatkan smartphone untuk bermain dengan gambar dan ilustrasi melalui Vine membuatnya "diundang" hijrah ke Amerika Serikat. Saat ini, Vine memang sudah dikalahkan oleh Snapchat maupun Instagram, namun Pinot sekeluarga tetap memiliki segudang peluang berkarya lebih jauh di Negeri Paman Sam sana.

Dalam kasus smartphone terbaru Apple yang harganya mencapai belasan juta tersebut, bila kita memang ingin belajar serius dengan dunia digital, bukankah lebih baik jika uangnya kita pakai membeli kamera atau laptop yang fiturnya lebih maksimal?

Ada duitnya, nggak?

Nah, ini merupakan filter pamungkas, sekaligus yang menyadarkan kita kembali ke kenyataan. Saat kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya dengan baik, maka permasalahan tentang uang menjadi pertimbangan paling akhir. Ketika benda yang kita inginkan memang sedemikian penting, kita pasti akan berusaha untuk bisa mencapainya. Terutama dengan menabung, atau bekerja lebih keras. Bukan dengan menggunakan kartu kredit (yang biasanya menawarkan cicilan 0%), atau berutang (dengan bunga). Terlebih untuk barang-barang konsumtif yang belum tentu memberikan imbal balik ke depannya.

Kalau rezeki nggak bakal ke mana-mana deh, tapi tetap harus diusahakan dengan sekuat tenaga dan karena kita sudah mengerahkan tenaga untuk bisa mencapainya, mbok ya jangan dihambur-hamburkan dengan percuma. Biarlah orang lain gonta-ganti HP, bikin yang lain kagum dan terperangah, lah uang-uangnya mereka sendiri. Kita harus tetap menjaga akal sehat. Jangan maunya ikut-ikutan melulu, jangan sampai sebegitunya haus pengakuan sosial yang fana dan cepat tergantikan itu.