Merasakan kehilangan lagi itu bukanlah suatu kemauanku, takdir ini yang menggiringku kesini. Entah untuk apa tujuannya. Aku yakin Allah tidak mengujiku diluar kemampuanku, tapi ini membuatku sakit untuk kesekian kalinya. Aku tau jika saat ini akan terjadi, resiko ini akan menghampiriku cepat atau lambat. Menyesal? Tentu tidak, aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu, dekat denganmu dalam waktu yang cukup ini. Namun, sepertinya Allah sedang cemburu denganmu, dan ingin aku kembali kepada-Nya sepenuh hatiku. Ya, Allah memberiku rasa yang sakit ini tapi aku tak bisa mengungkapkan rasa sakitnya ke siapapun juga kecuali Allah. Namun, apakah ada jawaban untukku sampai saat ini? Tentu belum, bahkan bisa jadi aku tidak menyadari jawaban atas segala keluh kesahku kepada-Nya.

Kamu tau, namamu selalu aku bicarakan diamanapun dan kapanpun dengan-Nya maupun dengan teman-temanku bahkan dengan kedua orang tuaku, hebat kan! Tapi kamu tau akhir – akhir ini banyak sekali perilakumu yang menyadarkan aku bahwa sepertinya aku terlalu berlebihan dalam mengartikan perasaanku terhadapmu (kembali). Ya, kembali aku mengulangi kesalahan yang sama, mencintai umat-Nya secara lebih, melebihi rasa syukurku terhadap Karunia-Nya yang setiap hari diberikan padaku. Semuanya seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak, seperti sikapku saat ini yang mungkin bagimu membingungkan. Aku tak kalah sama bingungnya seperti sikapmu.

Advertisement

Sikap mana yang harus diambil. Apakah aku harus menjadi perempuan biasa yang mempunyai perasaan sensitif atau aku menjadi wanita dengan pakaianku seperti ini (hijrah). Aku bingung, disatu sisi aku tak suka sikapmu (sangat), kamu tau aku perempuan dengan sejuta kesimpulan di otakku dengan segala fikiran cemburu terhadap semua perilakumu dengan temanku juga, aku juga punya rasa marah ketika tak ada pemberitahuan darimu untukku, dimana banyak temanku yang justru mengetahui keberadaanmu dibandingkan dengan aku yang notabene yaa you know lah orang melihatku apa denganmu. But, disatu sisi aku siapa, hubungan kita apa? Lagi lagi aku menanyakan hal itu pada diriku sendiri, aku memarahi diriku sendiri, aku seakan bodoh dan sampai sekarang aku hanya bisa diam, ya hanya diam. Kedua fikiran itu berkecamuk di dalam diriku, keduanya sangat berbeda, dan hanya diam yang aku ambil sebagai jalan tengah (kufikir).

Sampai saat ini aku masih diam hingga entahlah sampai kapan. Aku tau proses hijrah itu sulit, sangat sulit dijalani. Mencoba berfikir realistis namun hatimu tidak sejalan itu salah satu cobaan yang kualami selalu. Mencoba percaya bahwa mencintai dalam diam akan indah pada waktunya (ya aku mencoba). Mencoba percaya dengan kalimat itu, namamu selalu riuh dalam doaku hingga saat ini, sangat riuh bahkan terkadang diiringi dengan tangisan. Aku tak berharap apapun, karena berharap selain kepada-Nya terkadang akan ada kecewa didalamnya. Allah sedang cemburu (itu yang kupercayai, sehingga aku tidak menghakimimu). Aku tidak akan menggenggam erat tanganmu, namun jika aku yang kau pilih sebagai pilihan akhirmu, kamu tau aku dimana.

Semoga kamu selalu sehat, nama yang selalu dalam doaku!!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya