Ketika itu saya sendirian berjalan jalan ria menyusuri jalanan kota. Menikmati lalu lintas dan bangunan bangunan di sekitarnya. Serta tak lupa memanjakan mata dengan pamandangan visual yang menghiasi ketenangan pagi. Meskipun juga tak bisa hindari baliho-baliho dan spanduk para caleg yang saya sendiri tak tahu siapa gerangan kiranya.

Advertisement

Beberapa saat kemudian di pinggiran jalan terdapat pemandangan yang sangat mengusik hati kecil saya. Sebuah janur kuning terpasang dengan bambu meneggakan singgasanya di tanah tersebut. Lalu tak jauh dari sana, sepasang foto pasangan berdandan rapi terpampang yang seolah mengatakan "hei, mblo kondangannya di sini".

Entah harus bahagia atau gundah gulana, tetapi mau bagaimana lagi rhoma, semua ini akan terjadi. Lalu saya teruskan perjalanan mencari arti kesendirian saya. Sore itu kota kami dilanda hujan yang deras. Tenang saja, yang nikahan bukan orang yang sempat berbagi cerita dengan saya hingga tengah malam.

Advertisement

Sepanjang jalan yang saya lewati setidaknya ada lima kondangan yang entah kenapa seolah saling bersahutan dari kiri dan kanan jalan. Itu minggu lalu, minggu ini setidaknya ada sekitar tiga kondangan yang saya temui dan tidak diundang di sekitar daerah kediaman saya.

Lantas apa arti dari semua ini? Artinya spesies manusia mulai menyadari bahwa kelangsungan hidup mereka terancam dikarenakan berbagai perubahan iklim secara global yang berdampak kepada degradasi sosial, finansial, kultural dan moral manusia dan mereka mesti menyelamatkan populasi manusia dari ancaman depopulasi eksplosif. Tentu saja bukan itu lah, gimana sih.

Entah saya yang kurang peka atau memang benar, bahwa terjadi peningkatan acara nikahan yang terjadi belakangan ini ketimbang bulan bulan sebelumnya. Seperti kata pepatah yang entah siapa yang memulainya "musim hujan musim kawin". Seolah menegaskan kepada para khalayak bahwa jika musim hujan tiba, segeralah cara pasangan.

Toh, laron aja bisa, meski mereka tidak berumur panjang. Setidaknya makhluk seperti kita dengan volume otak 1.350 cc jauh lebih baik hidupnya dari laron laron yang berterbangan dan mati mengitari cahaya itu. Mari kita kuak secara mendalam mengapa musim hujan ini selalu dikait-kaitkan dengan janji suci manusia.

Mengapa tidak musim duren? Padahal kan duren montok, justru lebih menggairahkan secara normal tentunya. Aspek cuaca secara psikis ternyata dapat mempengaruhi perilaku manusia. Pada musim hujan yang sering hujan, iya dong, memiliki dampak kepada psikologi manusia.

Menurut pakar psikologi bahwa hujan dapat menurunkan serotonin dalam tubuh manusia. Aduuh apalagi sih serotonin? serotonin itu mblo adalah suatu protein dalam otak kamu yang isinya cuma dia yang membawa sinyal dari sel syaraf ke sel target. Beliau ini juga punya otoritas dalam regulasi mood manusia mblo serta dalam hal hal yang menyangkut memori atau ingatan.

Ketika terjadi hujan yang mengakitbakan suasana terasa kelabu, maka serotonin juga menurun dan hal inilah yang membuat para produser musik mendapatkan inspirasi tentang orang yang menangis dan bersedih di samping jendela sambil meratapi tetesan hujan. Selain mengakibatkan makhluk fana seperti manusia menjadi lebih mellow a.k.a galau, juga memancing berbagai ingatan ingatan dan kenangan dari masa lampau untuk menyerang.

Ooooh mengapa kau tinggalkan aku ani!!. Lari ketengah hujan sambil berlutut.

"…kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku"

Itu dari aspek psikologinya ternyata hujan mempengaruhi perasaan galau seseorang. Dari sisi biologisnya sendiri ternyata hujan justru lebih cepat membuat kita menjadi lapar. Hal ini mungkin bisa menjadi alasan bagi para penggiat diet yang gagal. "Ini semua salah hujan!!, aku sebenarnya gak mau makan coklat itu, tapi daripada nanti basah kena air lebih baik aku makan. Satu kotak habis padahal kotak coklatnya ada di kulkas bukan di luar rumah.

Pada saat hujan turun ke muka bumi ini dan memberikan kehidupan kepada makhluk bumi, udara sekitar tentunya menjadi lebih dingin dari biasanya. Suhu yang lebih dingin ini mengakibatkan raga kita membakar energi lebih cepat dari biasanya. Dikarenakan untuk kembali menormalkan suhu tubuh.

Sebab energi yang berkurang itulah yang membuat kita cenderung ingin melahap makanan lagi, lagi dan lagi. Dalam berbagai sumber juga mengatakan si abang serotonin juga ikutan berperan dalam membuat kita nafsu makan.

Setelah panjang lebar kita mengupas tentang hujan dan kau yang dirindukan dari aspek kesehatannya, maka mari kita pandang dari aspek sosial budayanya. Musim hujan terjadi pada kisaran bulan September sampai April di Indonesia. Meskipun sekarang sudah tak bisa ditebak lagi kapan datangnya namun kutetap menunggumu tetapi pada bulan bulan itulah curah hujan lebih banyak terjadi.

Nah, bila kita bicara mengenai bulan yang baik untuk nikahan, pastinya umat islam disarankan sesuai sunnah yaitu bulan syawal. Tetapi bulan syawal tidak tentu terjadi pada bulan September hingga april. Tahun ini saja pada bulan Juni. Jadi sepertinya alasan ini bukan alasan utama.

Lalu kenapa masyarakat Indonesia kebanyakan memilih bulan bulan ini? apakah karena ramalan zodiac mengatakan bahwa pisces yang berpasangan dengan aquarius lebih berbahagia bersama ketika ada basah basahnya? atau karena anjuran primbon yang mengatakan kamu cocoknya di air? eh salah ding.

Kalaupun dilihat dari sudut pandang seorang jomblo seperti kita, iya kamu, pemilihan bulan bulan basah ini sulit untuk dipahami. Jikalau ada tanggal tanggal cantik yang menyertai pada bulan bulan tersebut. Nyatanya tanggal 11-11, 10-10, 9-9, dst tidak semuanya terjadi di Hari Minggu ceria. Padahal kondangan biasanya hari minggu kan ya. Kalaupun dipaksakan tanggal 25-November atau 25-11 tidaklah cantik rupanya.

Atau mungkin kali aja digabung kaya judul wiro sableng, jadinya 2511. Eh gak bagus juga. Jadi ini merupakan persoalan yang masih rumit untuk diselesaikan. Pengetahuan saya belum bisa memecahkan permasalahan kompeks seperti ini. Dari aspek psikologi dan biologi tidak ada yang mendorong untuk cepat cepat nikah.

Meskipun kegalauan tadi merupakan terduga faktor utamanya, tetapi mestinya rasa cinta kasih, aseek, yang justru melandasi sebuah pernikahan. Bukannya kenangan lama yang membelenggu kaki untuk melangkah maju mblo. Apalagi jika melihat masalah laparnya, apa iya kita nikah kelak, iya kamu dan aku, cuman ingin merasakan masakan telur dadarnya saja? ya nggak dong saya pencinta mata sapi.

Inilah yang menjadi misteri "musim hujan musim kawin" atau karena pepatah inilah yang justru mendoktrinisasi kawula kawula haus cinta untuk menghalalkan cintanya?

"Kau boleh berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa"

Itulah kata mbah tejo. Intinya adalah nikahilah orang yang mencintaimu dan kau mencintainya, sayang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya