Aku pernah ingin menyamar sebagai jarum panjang yang bergerak detik demi detik. Lalu aku akan berpura-pura mati. Senyap dan membisu. Agar aku dapat membunuh waktu, yang membuat seseorang ragu untuk menunggu.

Di lain waktu, aku ingin menyamar sebagai batu. Lalu berpura-pura meringkuk di tengah jalan. Kemudian dengan sengaja melukai kaki seseorang yang dengan sengaja mengecewakan. Agar aku mampu menghentikan langkahnya sejenak. Yang bahkan janji seseorang di masa lalu, tak mampu untuk menghentikan langkahnya untuk tetap tinggal.

Advertisement

Namun sia-sia saja, detik demi detik terus berdetak. Tanggal tanggal di kalender terus berganti seenaknya. Dan beberapa orang sudah berubah. Menjadikan jarak sebagai alasan klasik untuk melukai orang lain. Kadang, aku ingin membunuh jarak. Sayang, seringnya, jarak sudah membunuhku lebih dulu. Ia bekerjasama dengan keraguan di hati seseorang yang tengah diperjuangkan.

Dulu,  aku pernah menganggap keraguan yang timbul di hati seseorang adalah ulah dari jarak dan kroni-kroninya yang sering membisikan alasan klasik bahwa yang jauh akan dikalahkan oleh yang selalu ada.  Padahal, seharusnya jarak yang bekerjasama dengan waktu berhasil membentuk kita menjadi penunggu ulung yang handal. Setiap sedang tidak bersamanya ada sekian banyak doa yang terus terapal.

Aku percaya bahwa  jarak terkadang diperlukan agar kita rajin menyusun harapan. Agar kita jadi sering berdoa. Dan Karena jarak kita jadi lebih menghargai waktu, perasaan dan kenangan. Terkadang jarak justru mampu menyelamatkan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tenanglah.  Jarak tak semenakutkan yang kau kira.  Bahkan kata-kata butuh jeda. Jarak memang memberikan jeda. Jeda untuk saling menuntut kesempurnaan satu sama lain, jeda untuk saling menuntut balas satu sama lain. Namun bukan berarti perasaan kita harus berjeda lalu sirna.

Advertisement


Nyatanya, jarak itu memberi arti.  Bukan membuat binasa.


Yang perlu kita lakukan hanya terus berdoa dan percaya bahwa kelak jarak akan terkikis inchi demi inchi dan bermuara menjadi satu hingga menjadi sejauh dua tatapan mata yang saling bertemu dan menghasilkan senyuman yang sama lebarnya.

Semoga jarak ini semakin membuat kita menjadi pribadi yang lebih menyayangi satu sama lain. Semoga jarak ini mampu membuat kita menghargai setiap momen pertemuan. Semoga jarak ini mampu menguatkan perasaan kita. Percayalah, jarak tak akan mengurangi perasanku, apalagi meruntuhkan rasa cintaku terhadapmu. Justru jarak selalu mengingatkan bahwa aku harus menjaga hati dan diriku untukmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya