Masih ku ingat dulu ketika kita masih bersama. Kala itu terukir canda dan tawa yang mewarnai hari-hari kita. Tiap waktu kita juga berbagi cerita tentang suka duka dikala jauh dari orang tua untuk memperjuangkan cita-cita. Sehingga kita saling menguatkan untuk terus memperjuangkan impian kita. Sungguh aku sangat bersyukur dipertemukan denganmu. seseorang yang ku harap suatu saat kan mendampingi perjalanan hidupku. Sungguh begitu tinggi harapku kala itu. Karena aku begitu yakin bahwa engkau memang telah di takdirkan untuk melengkapi hidupku.

Namun, ditengah perjalanan mulai ku sadari kalau rasaku tak sama dengan rasamu. Di kala aku mencoba untuk memperjuangkanmu tapi ternyata kau memperjuangkan orang lain. Ku rasakan pahit dan pedihnya mengharapkanmu. Mungkin ini bukan salahmu. Ku yakin selama ini tak ada niatan bagimu untuk mempermainkan hatiku. Mungkin aku saja yang terlalu berharap untuk bisa bersamamu. Aku yang terlalu tergesa-gesa menyimpulkan semua sikapmu kepadaku selama ini.

Advertisement

Sejak saat itu aku pun merasa begitu bodoh telah menghabiskan waktuku bertahun-tahun untuk berharap bisa memilikimu seutuhnya. Waktu pun terus berlalu. Dan masih ku pendam semua rasa cinta dan sakitku tanpa pernah ku katakan padamu. Namun, tiba saatnya aku tak mampu lagi untuk melihatmu dengannya. Kini ku sadari senyumanku saat melihat kedekatanmu dengannya tak mampu menutupi lukaku. Hingga ku putuskan untuk menjauh darimu secara perlahan-lahan agar kau tak terlalu terkejut melepas kepergianku. Dalam diamku selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu walaupun ku tahu kau tak akan pernah tahu dengan hal itu.

Detik demi detik kian berlalu dan aku mulai jarang bertemu bahkan hampir tidak pernah bertemu denganmu. Kaupun juga tak pernah lagi menghubungiku atau sekedar mencari tahu keberadaanku. Mungkin kini telah kau temukan bahagiamu bersamanya. Kau telah temukan seseorang yang mampu menggantikan aku yang dulu selalu berjuang untuk bisa membahagiakanmu. Dan kini pun telah hadir dirinya yang menghiasi hari-hariku. Dan perlahan-lahan dia pun menggantikan posisimu. Namun,entah mengapa dia begitu mirip denganmu. Kedekatanku dengan dirinya selalu membuatku teringat dengan semua yang pernah ku lewati bersamamu. Seolah dia adalah kembaranmu yang datang di masa kini.

Kini aku pun menjadi bingung antara tetap bersama dia dan melanjutkan kisah yang telah ku mulai bersamanya. Ataukah menjauhi dia yang selalu membuatku selalu teringat dengan dirimu. Dalam diamku aku selalu berdo'a :

Advertisement

“Tolong janganlah kau hidup lagi dalam dirinya. Janganlah membuatku semakin tak bisa melupakanmu. Karena hal itu akan membuatku semakin sulit untuk mengikhlaskanmu bersama dengan seseorang yang telah kau pilih menjadi pelengkap hidupmu”.

"Sekali lagi ku mohon padamu. Janganlah kau hidup lagi dalam dirinya. Biarlah aku hidup bahagia dalam memulai kisah baru dengan dirinya tanpa ada bayang-bayang masa lalu tentang aku dan dirimu".

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya