Setelah memilih untuk berhenti mendo'akanmu, hampa terasa yang aku rasanya, mungkin mendoakanmu bukan sebuah kewajiban namun seperti kebisaan yang aku lakukan setelah melakukan ibadah yang aku yakini. Saat ini mungkin aku belum mau berhenti mendo'akanmu, walau aku terus berusaha mendoakanmu selama ini adalah rutinitas yang sering aku lakukan.


Kabarmu gimana sekarang ? Sudah belum skripsinya ? sudah belum wisudanya ? gimana perjalanan kamu ke negeri orang kemarin ? Aku juga kembali seperti dulu menjadi pengintit lagi dimedia sosialmu.


Advertisement

Terakhir aku melihat kau posting sebuah foto tentang status kesendirianmu di media sosial pribadimu, itu juga aku syukuri berati kau masih sendirikan ? bukan aku berharap kau akan denganku, namun apakah kau bisa denganku ? aku naif tidak mengakuimu kepada dunia, bukan karena aku malu namun aku takut kau yang malu mempunyai fans sepertiku.

Ada satu hal yang aku takutkan perihal kesehatanmu hatimu juga pergaulanmu disana, kau tahu aku tak pernah jatuh separah ini padahal pertemuan kita tidaklah sering seperti teman-temanmu, hanya lewat do'a aku sampaikan lewat hujan dan juga jarak yang semakin aku benci.


Kau tahu rindu ini sering kali mengusik ketenanganku, saat jam kerjaku saat jam kuliahku dan juga saat saat heningku, bolehkan aku tanya ? apa kau rasa ini ?


Advertisement

Aku masih bingung. Bagaimana mekanisme rindu sampai bisa membuat seseorang bahagia sekaligus terluka dan sekarat? Bagaimana bisa jiwa sedikit demi sedikit rela diperbudak hanya dengan satu kata? Lucu memang. Membiarkan otak dirasuki dengan kerelaan tanpa perlawanan. Memikirkan apa yang seharusnya ditanggapi biasa saja.


Tapi rindu itu licik. Seenaknya menyelinap tanpa suara, merasa berhak mengambil alih nyawa dan seutuhnya hanya untuk dia.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya