Pandemi Bukan Alasan untuk Bermalasan, Bekerja Keraslah untuk Masa Depan!

Betapa indahnya masa-masa sebelum adanya Covid-19. Kota yang indah dengan pemandangan alam dan bawah lautnya seketika sirna saat pandemi melanda. Pandemi menghancurkan segalanya, kota yang sebelumnya ramai, sekarang seperti kota tua yang sudah lama tidak ditinggali oleh penduduknya.

Turis mancanegara yang sudah tidak berdatangan lagi menjadi salah satu alasan ditutupnya objek wisata. Hal ini menjadikan banyaknya pengangguran dadakan, karena sebagian besar mata pencaharian penduduk Labuan Bajo adalah nelayan dan tour guide wisata beserta wisata bahari lainnya. Itulah sedikit cerita tentang kampung halaman Saya sebelum pandemi melanda.

Perbedaan signifikan dari tempat asal dengan tempat menempuh pendidikan. Bisa dianalogikan dengan seperti melintasi samudera untuk berkuliah menimba ilmu. Menjadikan salah satu alasan untuk semangat demi masa depan. Bercerita tentang kehidupan sehari-hari Saya di Jogja sebagai anak rantau yang jauh dari keluarga, rumah, kerabat dan kata makmur tentunya. Dimana kehidupan anak kos seperti yang diketahui makan yang tak tentu, tidur yang tidak teratur dan tak ada tempat untuk mengadu.

Sudah kurang lebih 2 tahun Saya menjalani kehidupan seperti ini. Mau tidak mau harus mau demi menggapai cita-cita dan merealisasikan harapan orang tua. Kehidupan yang seperti ini akan menjadi cerita dan pengalaman. Sebagai mahasiswa baru pada tahun 2019 menjadi suatu kebanggaan bahwasanya sudah resmi menjadi mahasiswa yang  kurang lebih 8 bulan tatap muka berkuliah yang baru merasakan fasilitas kampus, bertemu orang-orang baru dan merasakan kembali belajar setelah Sekolah Menengah Atas.

Kegembiraan yang baru saja dirasakan perlahan mulai hilang, semenjak masuknya pandemi Covid-19 dan mengganggu segala aspek kegiatan lapisan masyarakat Indonesia termasuk bidang pendidikan dalam hal proses belajar mengajar. Sebagaimana awal masuknya pandemi ke Indonesia yang dimana berlokasi di kota Depok, provinsi Jawa Barat pada bulan Januari tahun 2020 lalu 1 bulan kemudian seluruh perguruan tinggi yang berada di Jogja menerapkan pembelajran daring, karena meningkatnya angka kasus penyebaran virus Covid-19. 

Pada saat itupun Saya sebagai mahasiswa yang masih berada di Jogja pada saat awal mula dimulainya pembelajaran daring yang diberlakukan, sangat merasakan bagaimana perbedaan yang signifikan terhadap kota Jogja. Dimana kota ini dikenal sebagai kota pelajar yang otomatis ramai oleh mahasiswa yang menuntut ilmu dan juga wisatawan domestik maupun internasional.

Sejak awal mula diberlakukannya WFH (Work From Home ) membuat jalanan Jogja yang dulunya dipenuhi kendaraan orang kantoran menjalani aktivitas mereka, bapak-bapak tukang becak yang menunggu penumpang, serta jajanan pinggir jalan sebagai pelengkap pemandangan khas yang ada dijogja, seketika hilang. Pada awal pandemi Covid-19 ini, saya masih mahasiswa semester 2 yang bisa dibilang masih sangat awam tentang perkuliahan. Pada saat menjelang UAS salah satu mata kuliah yang ada di semester 2 memberikan tugas berupa video Vlog, sebuah video tentang aktivitas sehari-hari.

Dimana seperti yang kita ketahui pada awal pandemi pemenrintah memberikan arahan bahwa seluruh aktivitas baik pekerjaan maupun pendidikan dilakukan di rumah, entah arahan ini yang kurang jelas atau dosen yang memberikan tugas ini tidak peduli akan arahan pemerintah. 

Tetapi saya sangat bersyukur diberikan tugas seperti ini, bisa menjadi alasan untuk keluar dari kostan. Berhari-hari bahkan  berminggu-minggu cuma menatap layar laptop dan tembok kamar seperti berada di dalam penjara tanpa penjaga lapas. Konsep video vlog pun saya susun dan sampailah dimana hari pengambilan video yang mengharuskan saya keluar kostan. Pada saat itu masker dan handsanitizer adalah barang langka yang sangat sulit didapat dan harganya pun melonjak drastis.

Dengan menerapkan protokol kesehatan, berhati-hati salam menyentuh ataupun bersender pada sesuatu menjadi sesuatu yang masih sangat sulit untuk dibiasakan. Sebelum mengendarai motorpun menyemprotkan handsanitizer terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan menuju Malioboro, Saya terheran-heran melihat jalanan Kota Jogja yang tadinya sangat ramai dan kadang macet juga menjadi jalanan yang kendaraannya bisa dihitung dengan jari. Seperti kota mati yang ditinggalkan penduduk seluruh aktivitas masyarakat, bahkan segala tempat keperluan sehari-hari tutup. 

Malioboro yang terkenal tidak pernah sepi bahkan 24 jam, menjadi sebuah tempat yang hanya terdapat Bangku-bangku kosong tanpa pengunjung yang berjejer. Karena pada saat itu rasa bingung dan kaget, saya sendiri sampai lupa tujuan utama saya yaitu membuat video vlog. Akhirnya sayapun mulai membuat video, berjalan sendiri sepanjang kawasan Malioboro, memperlihatkan pemandangan yang mungkin bisa dibilang langka di kawasan malioboro ini yang sangat sepi sampai-sampai tidak ada satupun pengunjung dan penjual yang duduk di sekitaran malioboro.

Namun menurut saya yang menjadikan sesuatu pemandangan yang sangat mengharukan, bapak-bapak tukang becak lansia yang umurnya sekitar 50an masih setia menunggu penumpang, padahal jelas-jelas Malioboro sangat sepi akan pengunjung. Sayapun sempat bertanya apa yang sedang dilakukan bapak itu. Karena saya berpikirnya bapak itu adalah warga sekitaran Malioboro yang sedang bosan dirumah dan ingin mencari angin saja, namun ternyata dugaan saya salah, bapak itu sedang mencari penumpang yang ingin menaiki becaknya tak peduli arahan pemerintah yang mewajibkan untuk tetap dirumah, bapak itupun berkata Mas, kalau saya dirumah, Istri saya tidak bisa makan, saya tidak punya anak, makanya diumur seperti ini saya masih bekerja. 

Menjadi sebuah tamparan yang sangat keras untuk saya sebagai Anak muda, walapun jauh dari orang tua, jauh dari kampung halaman tapi setidaknya saya masih bisa makan dengan layak di kota orang. Sedangkan bapak ini jika tidak keluar rumah maka belum tentu bisa makan, umur yang seharusnya bisa menikmati hari-hari tua dirumah tidak bisa dirasakannya. Masih terus bekerja keras untuk menyambung hidup.

Menjadi pesan untuk kita semua, terutama untuk mahasiswa yang masih menjalankan perkuliahan, jangan pernah mengecewakan orang tua, bekerja keraslah untuk masa depan, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, karena pada masa tua kita akan melihat hasil dari kerja keras kita, apakah kita bisa menikmati masa tua hanya dirumah saja atau seperti bapak tukang becak di atas yang masih terus bekerja untuk meyambung hidup.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Ahmad Dahlan