Apakah anda pernah berjalan-jalan atau mendengar tentang Paris Van Java? Nah, pasti kalian semua tidak asing lagi dengan kata tersebut, tetapi itu bukan mall yang seperti kalian pikirkan loh, melainkan sebuah tempat bersejarah di Kota Bandung. Yuk! Mari kita simak tentang Paris Van Java.

Paris Van Java adalah sebutan untuk Jalan Braga pada zaman dahulu. Jalan Braga adalah sebuah jalan yang cukup terkenal dan juga jalan ini sebagai maskot dari Kota Bandung, Jawa Barat. Banyak orang yang beranggapan jika tidak mendatangi jalan Braga berarti mereka belum pernah ke Bandung. Jalan ini pun sering dikatakan sebagai kota tua Bandung karena bangunannya yang masih memiliki gaya arsitektur kuno.

Advertisement

Berdasarkan informasi dari Sebandung.com, nama jalan Braga sendiri masih belum jelas asal usulnya, tetapi sekitar tahun 1920 hingga 1940 jalan ini dikenal sebagai pusat bisnis Kota Bandung. Jalan Braga ini menjadi kawasan pusat emas karena banyaknya wisatawan asing maupun lokal dating kesini. Tidak hanya sebagai pusat emas bahkan terdapat perjualan baju-baju hingga bar atau club malam.

Dulu saat saya pindah ke Bandung, teman-teman saya sering mengatakan bagusnya jalan Braga dan banyak tempat yang enak untuk bercengkrama dengan teman-teman. Tetapi, saat itu saya hanya pergi ke starbucks-nya saja, bangunan tempat tersebut pun masih dengan gaya arsitektur kuno yang membuat saya menarik. Kemarin saya pun memiliki kesempatan untuk mengelilingi indahnya jalan Braga.

Selama di Bandung saya menginap di Trans Luxury Hotel, hotel tersebut berada di jalan Gatat Subroto, Buahbatu, Bandung. Perjalanan dari hotel ke Jalan Braga tidak jauh hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit kalau tidak macet. Di sepanjang jalan ke Braga kalian akan menemukan banyak taman-taman yang dikelola oleh Gubernur Bandung, Ridwan Kamil hingga terdapat sebuah tempat yang cukup unik yang digunakan untuk bermain skateboard, tempatnya yang terdapat dibawah jembatan layang pasupati menambah keunikan tersebut, jadi jika kita bosan menunggu lampu merah, kita bisa melihat anak-anak remaja yang memainkan skateboardnya.

Advertisement

Saat saya sampai di Jalan Braga, saya begitu takjub akan bangunan-bangunannya yang masih mengikuti arsitektur kuno dan juga jalanannya yang masih seperti zaman dahulu. Di sepanjang Jalan Braga terdapat hal yang menarik perhatian saya yaitu adanya seperti hantu-hantu ditrotoar yang menakuti para pengemudi mobil maupun motor, dan juga terdapat lukisan-lukisan yang sangat bagus. Lukisan-lukisan tersebut dipajang disepanjang jalan agar para wisatawan dapat melihatnya dan membelinya jika tertarik, lukisannya pun sangat bagus sehingga mirip dengan yang aslinya. Para pelukis tersebut melukis tokoh-tokoh dan juga pemandangan.

Setelah itu saya memutuskan untuk beristirahat di starbucks dahulu karena teriknya matahari saat itu. Ada yang menarik perhatian mata saya yaitu terdapat sebuah gedung yang mungkin menurut saya itu dulu adalah bank karena di gedung tersebut terdapat tulisan OCBC NISP dan juga tulisan-tulisan di gedung tersebut masih menggunakan Bahasa Belanda. Saya pun penasaran dengan gedung tersebut akhirnya saya mencari tahu tentang gedung tersebut. Ternyata gedung tersebut bernama Gedung De Vries.

Seperti yang dilansir dari Pikiran-rakyat.com, awalnya Gedung De Vries ini digunkan untuk tempat-tempat orang Belanda berkumpul sekitar tahun 1879. Setelah itu perkumpulan tersbut pindah ke Gedung Merdeka. Lalu tahun 1895 dibukalah Toko De Vries dengan gaya arsitektur Oud Insdisch Stijl atau Klasik Indis. Gedung ini pun dulu dikenal sebagai toko serba da yang terletak di ujung selatan Jalan Braga. Toko-toko yang ada disitu menjual berbagai macam keperluan sehari-hari masyarakat sekitar dari pakaian, makanan, hingga peralatan dapur. Akhirnya pada tahun 2010, Ir. David Bambang Soediono, menggunakan bangunan ini yang kelak akan dipakai oleh Bank OCBC NISP

Setelah menyejukkan tubuh sejenak, saya pergi berkeliling mengitari Jalan Braga. Ada sebuah kereta yang menurut saya itu untuk wisatawan yang ingin mengelilingi Jalan Braga, tetapi saya tidak tahu jika itu harus bayar atau tidak, jikapun bayar kemungkinan besar akan murah. Kereta tersebut berukuran sedang dan bentuknya seperti kereta zaman dahulu.

Waktu sudah menunjukkan sekitar jam 3.30, dan itu adalah waktunya saya untuk menuju Masjid Raya Bandung. Di masjid ini disediakan tempat parkir untuk wisatawan. Menurut saya tempar parkir yang berada dibawah masjid tersebut sangat seram, karena basementnya kurang di bersihkan dan juga lantainya yang masih berupa tanah, dan banyak genangan air. Penerangannya pun kurang sehingga agak redup.

Masjid Raya Bandung pertama kali dibangun tahun 1810 dan sudah mengalami delapan kali perombakan sejak didirikannya. Saat ingin masuk masjid tersebut kita harus melepaskan alas kaki kita, dan jangan takut untuk kehilangan sepatu ataupun sandal kita karena kita bisa menitipkannya. Di tempat penitipan tersebut pun tidak dikenakan biaya karena gratis.

Setelah masuk ke dalam masjid, saya melihat banyaknya orang-orang yang sholat dan saat itu sedang ada dakwah oleh Ustad di daerah tersebut. Bangunan Masjid ini sangat megah yang bisa menampung ribuan orang. Tempat wudhu di masjid ini sama seperti di Mekkah berada di bawah, jadi kita harus turun dengan tangga. Di tempat wudhu tersebut menurut saya cukup seram, karena kurangnya penerangan. Setelah mengambil wudhu, saya mencari mukena, tetapi tidak ada. Jadi, bagi yang ingin sholat di Masjid ini kalian harus membawa mukena kalian sendiri.

Setelah saya selesai menunaikan ibadah, saya pergi keluar untuk melihat-melihat. Di depan Masjid Raya Bandung ini kalian bisa berkumpul dengan keluarga ataupun teman-teman karena lantainya dialasi dengan rumput-rumput.Di taman tersebut banyak anak kecil yang berlari-lari dan juga banyak penjual minuman yang berdagang di taman tersebut.

Jalan Braga adalah tempat yang harus dikunjungi bagi masyarakat dari luar Bandung, karena keunikan tempat tersebut dan banyak bangunan bersejarah. Tetapi jika berjalan-jalan di Jalan Braga kalian harus berhati-hati akan barang bawaan anda sendiri karena banyaknya pencopet maupun jambret di sini. Begitulah perjalanan saya di Jalan Braga yang merupakan salah satu dari tempat Bandoeng Tempoe Doeloe, pada bulan Januari lalu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya