Sebuah perjalanan, trip, travelling atau apalah itu namanya, baik itu dekat ataupun jauh, lewati gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman berpetualang. Ya apalah itu yang jelas apa sih arti dari sebuah perjalanan itu? Apakah seperti yang tadi demikian hanya sebatas agar di cap sebagai anak hits?

Banyak orang yang menyerbu tempat baru yang lagi hits di suatu daerah. Kadang terlintas dalam pikiranku, apa sih sebenarnya yang mereka cari? Kepuasan, kekinian, ambil foto jepret lalu pamer ke berbagai macam media sosial, Instagramlah, Facebook, dan lain sebagainya sebagai bukti kalau mereka sudah pernah berpijak di sana. Disadari atau tidak, hal seperti itu kadang membuat orang menjadi ‘mupeng’. Nah yang jadi pertanyaan besar, apa sih esensi dari sebuah perjalanan itu?

Advertisement

Perjalanan demi perjalanan yang telah di jejaki tentunya memiliki sebuah makna tersendiri, tak melulu soal kata “cheese”. Bagi aku travelling itu ajang untuk memupuk sebuah pengalaman dan mengenal pribadi sendiri lebih dalam.

Travelling tidak hanya sekedar eksis, semua harus dengan izin dan ridho orang tua

Aku sering sekali memaknai travelling sebagai sesuatu yang masih ambigu, wajar aku bukan orang yang sering berpertualang seperti saudaraku. Aku hanya pengikut setia ketika aku diajak saudaraku menuju sebuah tempat yang menurutku itu baru, dan itu semua menjadi buta, tentang hal apa saja yang harus disiapkan.

Advertisement

Waktu itu saudaraku mengajak ku menuju hidden paradise of Muara Enim di Dusun Pagar Dewa, Kecamatan Tanjung Agung. Ya Air Terjun Lemutu, di sanalah tujuan kami. Kami pergi tanpa perencanaan yang begitu detail bahkan terkesan ala kadarnya dan dadakan. Nekat, mungkin itu kata yang pas, soalnya saudaraku sendiri belum pernah kesana sebelumnya, hanya bermodal maps.

Setelah terjadi perdebatan kusir antara saudara dengan orang tua, tentang perizinan mengajakku. Akhirnya orang tua pun luluh ketika saudaraku berusaha meyakinkan orang tua terutama ‘mamak’. Entah apa yang dia katakan kepada ‘mamak’ sehingga memberikan izin kepada kami bertiga.

Dari sini aku banyak sekali belajar tentang betapa pentingnya sebuah perizinan kepada orang tua saat bepergian atau pun travelling. Betul apa yang sering disampaikan kebanyakan ustad, ridho Tuhan itu tergantung ridho orang tua.

Travelling merupakan media pembelajaran untuk mengendalikan ego bagi diri sendiri dan orang lain

Sebuah perjalanan yang dilakukan bersama itu mengajarkanku arti kegoisan dan tau diri. Ego dan sombong sangat tidak berguna ketika kita travelling. Simpel saja, jika kita cidera ataupun kelelahan siapa lagi yang akan membantu kalau bukan mereka yang berada di dekat kita. Oleh sebab itu buang jauh-jauh keegoisan dan sombong yang sering ada pada diri kita.

Air Terjun Lemutu merupakan tempat yang belum terlalu terjamah banyak orang. Karena memang jalan untuk menuju kesana harus penuh dengan peluh dan perjuangan. Jalan yang menanjak dan menurun ditambah lagi medan lumpur (oh iya waktu itu aku kesana pas lagi musim hujan) membuatku serasa ingin pulang kerumah saja. Maklum ini pengalaman pertamaku dengan jalan-jalan yang seperti ini, beda dengan saudaraku yang hobinya memang ‘blusukan’ ke wilayah yang seperti itu.

Pada saat itu aku merasakan kelelahan yang sangat, belum lagi ditambah perut yang lapar karena sebelum berangkat aku hanya makan 2 butir pempek. Ini semua karena kesombongan dan terlalu menyepelakan sebuah perjalanan. Untung saudaraku dengan sabar menungguku berjalan, walaupun berjalan lima langkah berhenti, lima langkah berhenti. Jujur, kami ketika di rumah merupakan pribadi dengan ego yang kuat. Tak jarang kami berantem di rumah karena hal-hal sepele.

Travelling mengajarkan ada hal yang patut disyukuri, yaitu kesehatan dan keindahan

Bagi aku hal yang terpenting adalah rasa syukur. Syukur akan nikmat kesehatan dan syukur akan nikmat keindahan. Apalah artinya jika sebuah perjalanan tidak di barengi rasa syukur. Bisa-bisa di bilang orang yang kufur nantinya.

Saat suara Air Terjun Lemutu sudah mulai terdengar, saat itulah berkali-kali mulutku berkata Alhamdulillah. Karena rasanya sudah sangat lelah. Tapi, ketika pertama kali melihat air terjunnya, yang ada malah rasa kecewa. Dalam hatiku bergumam, "Jauh-jauh kok air terjunnya begini, beda dengan yang ada foto kebanyakan." Saat itu kakakku ‘nyeletuk’ yang aku lihat itu adalah air terjun yang paling bawah, yang indah justru ada di atas. Langsung saja tanpa istirahat lagi aku bergegas menaiki tanjakan untuk menuju hidden paradise itu.

Betul saja, guyuran air yang masih sejuk dengan bentuk bagaikan tirai alami membuat Air Terjun Lemutu tampak lebih indah dari apa yang dikatakan banyak orang. Inilah nikmat keindahan yang sengaja di peruntukkan bagi mereka yang mau bersusah-susah terlebih dahulu. Dan nikmat kesehatan yang tidak semua orang bisa rasakan.


Setiap perjalanan jelas ada pelajaran, jalan-jalan bukan soal kekinian, tapi berusaha untuk keluar dari zona nyaman, belajar akan hal yang tidak pernah didapatkan di sekolahan atau universitas.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya