Laut terlalu mengerikan untuk dinikmati sendirian di bawah langit abu-abu ditemani gemuruh angin di antara pasir yang basah. Tapi, aku tidak sendirian ketika waktu bergerak menanti lonceng gereja berbunyi dan suara azan yang sayup-sayup terdengar. Senja kali ini tanpa jingga karena surya dibalut mendung yang tak mau beranjak dari kemarin. Angin memilih berlomba dengan dahan-dahan pohon juga atap-atap rumah, siapa yang paling tangguh di senja kali ini. Senja yang kuhabiskan di rumah seorang pemuda yang menatap rindu pada gelombang laut pasang.

Bangku kayu bercat coklat tua adalah perhentian pertama. Aku, pemuda itu dan seorang lagi, duduk berdampingan, dengan pemuda itu sebagai pusatnya. Ketika mereka berdua sibuk bergumul dengan laptop putih dan aplikasi untuk tugas esok hari, yang kulakukan hanya menatap mereka berdua, lalu langit, lalu gunung lalu laut serta menggerutu mengapa aku harus berada disini bila menatap hanyalah apa yang dapat aku perbuat.

Advertisement

Waktu bergerak lambat. Angin berhembus di sela-sela daun dan di lekuk-lekuk tubuh. Mendung tetap membayang. Rintik terkadang turun untuk membasahi. Tiga roti tawar isi keju telah ludes. Aku menjadi jemu hanya dengan menempatkan diri di bangku kayu bercat cokelat tua. Mataku pun menangkap pagar kayu yang membasahi kami dengan lautan pasang yang sepi. Aku melangkah perlahan. Pagar kayu yang basah menjadi perhentian kedua.

Pagar kayu itu hampir menutupi tubuh mungilku. Dan yang ku dapati dibaliknya ialah laut pasang berombak, perjumpaan laut dan langit, kepiting-kepiting berlalu juga langit abu-abu di atasku. Satu tarikan napas dan satu hembusan melengkapi ketenangan yang membayangiku. Suasana ini adalah apa yang paling ingin kunikamti. Dan kesempatan itu baru datang ketika aku berada di sini. Di depan pagar basah.

Waktu bergerak lambat. Angin tetap berhembus di sela-sela daun dan di lekuk-lekuk tubuh. Mendung tetap membayang. Tapi hujan menahan diri. Mungkin saat ini dia tahu bahwa aku tidak terlindung seperti pemuda itu dan seorang lagi di bangku kayu. Hujan sungguh pengertian kali ini.

Advertisement

Perlahan pemuda itu meninggalkan bangku kayu bercat coklat tua dan seseorang yang sedang sibuk dengan laptop yang menyala. Pemuda itu melangkah mendekat dan bergabung bersamaku di balik pagar kayu yang basah. Seulas senyum merekah dengan tahu dan mau di wajahku. Alasan kehadiran senyum itu sederhana, aku tak perlu menikmati laut sendirian. Aku tidak perlu menjadi egois untuk sesuatu yang teramat luas untukku.

“Sore hari di tempat ini selalu indah,” pemuda itu membuka suara. Aku mematung. Sebuah sikap agar dia melanjutkan kata-kata itu.

“Terkadang aku suka duduk di tangga di balik pagar ini kalau laut tidak pasang. Senja dengan langit jingga tanpa mendung dan satu dua sampan yang lewat, membuat senja seperti itu adalah yang paling indah,” ujarnya.

Aku tersenyum, kemudian menutup mataku lima detik. Aku menatapnya dan kembali kepada laut dan langit.

“Tapi senja seperti ini cukup bagiku. Hal yang terlalu indah akan terasa memuakkan. Kamu boleh percaya, boleh tidak. Tapi, senja yang mendung adalah kesukaanku. Dan tempat ini, hari ini, secara resmi menjadi salah satu favoritku. Aku tidak tahu bahwa rumahmu menyimpan keindahan ini,” aku berkata sambil terus menatap langit, laut dan angin.

Pemuda itu enggan mengalah dengan cepat. Sesuatu yang sering terjadi diantara kami. Dia terus menerangkan betapa indahnya senja di balik pagar ini. Senja yang mana, lonceng gereja dan suara azan yang bersahutan terdengar begitu indah. Senja yang membuatmu betah berlama-lama. Pemuda itu membuatku iri padanya. Dia dapat menikmati senja yang indah setiap hari.

Waktu bergerak lambat. Angin masih berhembus di sela-sela daun dan di lekuk-lekuk tubuh. Mendung beranjak tapi berganti dengan yang lebih pekat. Rintik masih menahan diri. Aku dan pemuda itu masih di balik pagar kayu yang basah.

Banyak yang kami perbincangkan saat itu, dengan mata yang sesekali betatap, lebih banyak menatap sunyinya laut dengan sebuah sampan kecil yang berlalu bersama arus. Anggota keluarga yang memilih mengakhiri hidupnya, masa kecil yang samar-samar, kegilaan pada mendung, pemilik aura kegelapan, adalah apa yang kami perbincangkan.

Sayangnya semua itu tidak membuatku puas. Aku akui bahwa untuk yang satu ini aku ingin egois. Kadar sebuah kepuasan bagi masing-masing orang berbeda. Dia boleh saja puas dengan perbincangan ini, tapi aku belum puas bila apa yang mengusikku tidak dapat kuutarakan.

Senja tanpa jingga dan laut pasang yang sunyi akhirnya membangun kelu diantara kami, untuk tenggelam bersama petualangannya masing-masing. Dalam kebisuan aku dapat mendengar ritme napasku naik turun, detak jantung yang kuusahakan konstant dan juga gemerisik kakinya.

Baiklah. Aku menyerah. Rasa tidak puas bercampur rasa penasaranku sudah mencapai puncaknya. Akhirnya dengan segala keberanian yang mampu terkumpul di senja itu aku berucap, “Bagaimana kabarnya?” Untuk beberapa detik pemuda itu nampak bingung.

“Siapa?”tanyanya

“Gadis di ujung pulau dan di balik lautan,” jawabku.

Wajah bingungnya perlahan-lahan mengembangkan seulas senyum, hanya untuk kunikmati sepintas, kemudian wajah itu menjadi tanpa rasa. Datar. Hening.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Aku kembali memecah sunyi.

“Apa? Pertanyaan yang mana?” tanyanya menatapku heran.

“Pertanyaan akan kabar gadis di ujung pulau dan di balik lautan.”

“Oh itu…”

“Lalu?”

“Lalu apanya?”

“Kabarnya, tentu saja!”

“Aku tidak tahu.”

“Kenapa?”

“Karena kami sudah tidak lagi mencoba saling mengabari.”

Aku tersenyum masygul. Hening kembali tercipta.

“Kenapa tiba-tiba bertanya?” kali ini pemuda itu yang memecah sunyi, membuatku tersentak dan menoleh padanya di balik angin.

“Aku hanya ingin tahu. Sudah lama kami tidak saling menyapa. Aku kira kau tahu. Tapi sayang sekali, aku bertanya pada orang yang salah.”

“Kami sudah tidak bersama,” tegasnya.

“Sayangnya, aku tidak percaya,” ujarku tak mau kalah.

“Alasannya?”

“Karena wajahmu tidak membuat otak dan hatiku yakin akan hal itu. Terutama matamu. Kau tahu, mata tidak dapat berbohong.”

Senyum merekah di wajah pemuda itu. Senyum yang menjembatani kelelahan dan penjelasan. Dia seharusnya tahu bahwa aku tidak percaya perkataannya itu karena sebuah alasan yang kuat. Aku menangkap rindu di mata itu. Mata yang sedari tadi menatap laut. Dia mungkin mencoba untuk menyembunyikannya, tapi aku terlalu lihai untuk dikelabui. Ada rindu yang lewat dibalik tatapannya, rindu yang begitu jauh. Aku tahu siapa yang akan dikiriminya rindu itu.

“Kau merindukannya,” ucapku kepadanya sambil menatap pasir.

“Tidak,” jawabnya. Tapi wajahnya menampakkan sebaliknya. Matanya menyimpan terlalu banyak rindu yang tak mampu sirna hanya dengan mencoba berpaling.

Waktu terus bergerak menenggelamkan senja. Angin makin berhembus di sela-sela daun dan di lekuk-lekuk tubuh. Mendung bergabung dengan kelam. Rintik tetap menahan diri. Saatnya telah tiba, untukku melepaskan genggaman pada pagar basah dan memunggungi lautan.

Seseorang yang kami tinggalkan di bangku kayu itu memanggil kami untuk kembali. Dan memang sudah saatnya bagi kami untuk kembali. Laptop putih sudah dimatikan. Aplikasi untuk tugas esok hari sudah diselesaikan. Malam telah mengundang rembulan. Tak ada lagi alasan untuk tetap berada di rumah pemuda itu. Salam perpisahan untuk penghuni rumahpun bergema. Gerbang rumah menjadi perhentian terakhir sebelum beranjak.

Aku menatap pemuda itu dengan senyum pertemanan yang jenaka, seperti sebelum-sebelumnya. Kemudian, mengucap salam dan terima kasih yang sudah seharusnya. Saatnya pergi dari rumah yang menyimpan senja paling indah.

Ketika memunggungi pemuda itu aku berucap dalam relung hati:

Kamu boleh saja merindukan gadis itu setiap kali menatap lautan. Tapi kamu tidak pernah tahu bahwa aku selalu merindu bersama terang, kelam, hujan, angin, panas dan debu. Aku ingin sekali mengirim rindu ini padamu, pemuda di balik pagar basah. Aku merindukanmu, untuk alasan bodoh yang tak pernah gugur. Aku menyimpan rasa untukmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya