Aku berkudik, merinding, kutimbang-timbang kembali, dengan apa yang kuharapkan selama ini. Aku tak mengerti, aku salah sangkah, aku hanya menunggu, diberi pengetahuan dan ilmu oleh guru sekolahku dulu. Aku terlalu berharap besar pada lingkunganku, sekolahku ataupun orang tuaku. Aku tak sadar, aku tak mendengar, aku tak memperhatikan, tak memahami apa yang selalu diajarkan oleh guru sekolahku dulu, awal masuk baik masa SMP ataupun SMA selalu berpesan Iqra’ bacalah, bismillahirrobbika dengan menyebut nama Tuhanmu.

Yang terbayang, yang terpikirkan olehku hanyalah membaca buku dengan baca bismillah. Ya sebuah awalan yang baik untuk mencari ilmu, pikirku juga ilmu itu hanya berkisar pada guru, sekolah dan buku-buku. Namun ternyata lingkup ilmu lebih luas dari pada itu. Dan sebaik-baiknya guru ialah dari pengajaran Allah kepada makhluk ciptaanNya dan itu dikenal sebagai mutiara hikmah.

Advertisement



Kata orang Minang ada istilah Alam takambang jadi guru, alam terkembang menjadi guru, alam adalah guru. Segala kejadian yang kita alami, yang kita rasakan, perihnya hidup, suka dan dukanya hidup merupakan guru bagi diri kita. Ada juga istilah yang mengatakan experince is the best teacher, pengalaman adalah guru terbaik. Bahkan di beberapa forum mengatakan semua guru, semua murid, maksudnya kita sama-sama belajar, walaupun ada profesi guru, guru juga hakikatnya belajar. Belajar dari ayunan hingga ke liang lahat, istilah ini cukup populer menggambarkan bahwa manusia betul-betul sejatinya terus belajar sampai dirinya tiada dari dunia. Maka di Jawa ada istilah yang juga populer yaitu "sinau bareng:, yang berarti belajar bareng, belajar bareng-bareng, belajar bersama, jangan sampai merasa paling pintar apalagi minteri.

Ya ternyata belajar ini pada dasarnya merupakan unsur yang sangat, sangat, sangat sekali penting bagi kehidupan manusia. Maka apakah kita salah belajar kepada adik kita? Apakah kita salah belajar kepada murid kita? Apakah salah belajar kepada orang bodoh? Apakah kita pintar merasa atau merasa pintar?



Langit cerah, matahari sipit-sipit tersenyum menyelimuti pagi dhuha ini. Dengan khidmat, dengan niat, dengan membawa rasa, semua berkumpul dalam ruangan ini, kuharap ini menjadi oase bagi kami. Di tengah atmosfir Indonesia bak gurun, semua hal menjadi panas, mudah tersinggung, dibanjiri pasir-pasir informasi yang menenggelamkan, memuakkan, membodohi terus menerus. Demi banyak views rela membuang jati diri, sisi kemanusian, dan merendahkkan dirinya. Era telah berganti, hari ini urusannya bukan sekadar sesuap nasi tapi lebih ke gengsi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya