Judul ini sangat menyinggung perasaan saya pribadi. Kerja penulis macam saya taruhannya adu jotos dengan istri. Bayangkan saja, ketika otak saya sedang meluap-luap dan saya harus menuliskannya saat itu, istri ngajak keluar rumah atau ngajak makan atau ngajak masuk kamar. Ini sungguh menyebalkan. Ide penulis kadang bisa cepat hilang kalau tidak langsung dituliskan. Eh, hilang sih tidak, mungkin mood-nya saja yang akan berkurang.

Tipe macam saya tidak bisa diganggu ketika sedang menulis. Kata saya hari itu selesai, ya harus selesai meskipun ada kerjaan lain. Ini memang bahaya. Makanya, kenapa pekerjaan saya selalu tertunda. Kadang kebutuhan menulis yang hadir dalam batin saya lebih saya utamakan daripada kebutuhan harta, tahta, atau wanita. Padahal sebagian tulisan saya tidak dapat honor atau gaji. Ya, kayak menulis catatan ini saja. Tapi, yang dituju adalah katarsis. Klimaks.

Advertisement

Ketika saya menulis catatan ini, saya harus menunggu anak-istri saya tidur terlelap dulu. Kalau bangun, pasti saya dicari-cari. Padahal saya ada di samping istri saya. Saya memang merasa tidak pernah menerima ada panggilan apa pun ketika istri saya memanggil. Pada saat itulah istri saya mencari-cari jiwa saya yang hilang, sedang autis dengan gadget-nya, sampai-sampai istri ngoceh pakai toa pun tak terdengar. Setelah digampar, barulah saya sadar.

Saya terlalu autis dengan dunia saya. Jangankan kerjaan di luar sana atau apa, wong anak-istri saja sering saya abaikan begini demi eksistensi kepenulisan saya. Ini sungguh bahaya. Sekali lagi bahaya. Saya lebih mementingkan urusan batin saya pribadi daripada anak-istri. Kalau sudah begini salah siapa?

Ya, salah saya. Kenapa menulis di saat anak-istri sedang butuh sandaran. Kenapa menulis di saat anak-istri ingin hiburan. Kenapa menulis di saat orang-orang sekitar sedang ingin bercanda dengan saya. Sejauh ini, barangkali penulis macam saya harus mengerti dan memahami kondisi semacam itu. Saya harus segera taubat. Tapi, rasanya saya pernah. Dan, gagal!

Advertisement

Suatu kali istri saya ruwet melihat suaminya 24 jam tak pernah lepas dari gadget. Pandangan dan fokusnya terus pada benda mati itu. Lalu, istri saya marah-marah: "HP terus! Laptop terus!" Saya berhenti sejenak.Tarik napas. Lalu langsung menutup laptop tanpa di-shutt down. Atau kalau saya sedang menulis di HP, saya langsung lempar benda itu.

Tapi, saya lempar ke kasur. Sayang kalau dilantai bisa hancur. Kalau hancur saya tidak bisa menulis. Saya termasuk penulis yang tempramental. Mudah emosi. Karena, penulis tak bisa diganggu ketika otaknya sedang berjalan atau bekerja.

Beberapa bulan lalu, HP saya hilang, saya pun sadar. Saya taubat. Taubat terpaksa karena mau tidak mau saya tidak punya android. Hidup saya tenang. Saya tidak menulis. Saya tidak sibuk ngurusin komunitas menulis saya. Saya menghirup dunia nyata. Bermain non-stop dengan anak istri. Memandangi wajah mereka dari segenap jurusan. Saya merasa bahagia. Saya merasa ini kehidupan nyata. Tanpa HP, tanpa laptop, tanpa menulis.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan saya merasa tersiksa tanpa HP, tanpa menulis, tanpa berinteraksi dengan teman-teman komunitas. Saya tertinggal dengan teman-teman yang sudah menulis ini dan itu. Padahal hanya kurun waktu tidak lebih dari tiga bulan. Barangkali begitulah kerja penulis. Batinnya harus terus hidup dan berjalan. Dengan menulis, hidup rasanya makin hidup. Jiwa seperti abadi. Ya, memang akan abadi.

Kerja penulis memang tak bisa diprediksi. Kadang malas, malas tujuh turunan. Kadang semangat, semangat tujuh tanjakan. Kadang sedang-sedang saja. Tinggal bagaimana menyempatkan. Terkadang memang peluang "menyempatkan" yang kebablasan itu yang berbahaya. Andai kata sudah azan, seharusnya penulis yang baik ya tunda dulu menulisnya, lalu lekas mengambil air wudu dan salat.

Andai kata anak-istri sedang ingin diperhatikan, ya tunda dulu. Padahal mudah. Tapi, praktiknya yang sangat sulit. Apalagi kerjaan menulis itu tersangkut dengan honor dan deadline. Anak-istri kadang dinomor tigakan. Apakah kau tipe semacam itu?

Penulis macam saya sering kebablasan. Mungkin saya pikir waktu yang saya tempuh untuk menghabiskan tulisan ini adalah lima menit, eh ternyata lima jam. Lima jam bagi penulis tak ada apa-apanya. Barangkali seperti bangkit dari laptop, lalu buang air kecil ke toilet, lalu duduk lagi menghadap laptopnya. Sesingkat itu. Saya tak habis pikir, sudah berapa jam waktu yang sudah saya sia-siakan untuk menulis. Maksud saya menyia-nyiakan kepentingan lain demi menulis.

Eh, apa iya kerja penulis untuk kepentingan pribadi? Ketika saya menulis memang itu urusan pribadi saya dengan tulisan saya. Tapi, ketika tulisan itu lahir, semuanya akan berbalik arah. Tulisan itu bisa dibaca oleh banyak orang. Tulisan saya mungkin bisa dikirim ke koran atau jadi buku lalu dapat uang. Tentu kerja semacam ini, selain katarsis, juga menambahi kebutuhan keluarga (bahkan mungkin kebutuhan utama).

Ah, saya rasa curhatan saya ini tidak mewakili penulis secara keseluruhan. Seperti apa kata Chairil, "Hidup adalah kesunyian masing-masing". Saya dan Anda mungkin memiliki banyak perbedaan. Kalau pun ada yang sama pada tulisan saya ini, ya mungkin hanya kebetulan saja. Pesan saya diakhir tulisan ini.

Eh, sudah ya, anak saya nangis. Istri saya juga sudah memangil-manggil. Kali ini kuping saya sedang normal. Alhamdulillah.

Kiara, Ruang Sunyi, 15 Mei 2018 (Pkl. 01.01)

*Encep Abdullah, penulis yang terus memaksa diri mencintai dangdut.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya