Ada jutaan pertemuan yang harus berujung dengan perpisahan. Seperti senja di ujung Desember, ia selalu surut dengan jingganya yang tak pernah lama. Perpisahan yang dimaki dan perpisahan yang dicerca. Bagiku, berpisah adalah cara untuk membuktikan bahwa aku masih mengingkan pertemuan. Selayaknya senja di awal tahun, datang tanpa diminta, muncul tanpa isyarat. Nyatanya, dimanapun senja berserak, ia selalu hadir bersama candu.

Berpisah itu lumrah. Burung akan rela meninggalkan sarang dan anak-anaknya demi sebiji padi yang dicuri di pematang sawah petani desa. Namun, janji untuk kembali adalah berujung bukti. Seperti halnya aku, mungkin perpisahan ini tak kuselipi janji untuk kembali.

Advertisement


Tapi, ada hal yang harus kau ingat, melihat matamu adalah kerinduan yang tak sanggup ku ucap.


Biarkan aku pergi ya? Kau tau, pengorbanan terbesar dalam hubungan adalah meninggalkan. Setuju atau tidak, pergi adalah bukti kesetiaan tertinggi. Bagaimana mungkin Romeo Juliet menjadi simbol kesetian jika nyatanya keduanya tak lagi bersama? Atau kisah cinta Laila Majnun yang yang tidak berakhir happy ending. Semuanya hanya soal menjaga, menjaga perasaan dan biarlah perasaan itu menjagamu.

Hey, aku sendiri memilih tertawa lepas. Karena aku sadar bahwa sebentar lagi kejamnya rindu akan membuatnya hilang begitu saja. Tapi aku bukan pria melankolis yang langkahnya tentang tangisan dan air mata saja. Ada banyak langkah yang harus kugapai demi melupa rindu. Salah satunya adalah, melupakanmu. Iya, aku akan melupakanmu untuk waktu yang sangat lama. Mencibir senja yang dulunya selalu menjadi juara di hati dan perasaan. Tapi, jutaan senja kumaki, itu adalah caraku agar bisa bertemu senja denganmu.

Advertisement


Sudahlah, percuma juga menangis. Toh perpisahan itu akan tetap terjadi. Oh maaf, menangis adalah caramu memeluk jarak kan?


Mulai besok, belajarlah untuk bangun pagi tanpa memikirkanku. Karena lusa, kau akan terbiasa dengan itu. Lalu minggu depan, kau akan benar-benar ahli dalam melupakanku. Aku tidak risau, karena dengan itu pertemuan kelak akan menjadi bagian yang tidak biasa dalam hidupmu.

Dan malam, berhentilah untuk tidak menyulam aksara dalam rindu. Karena kata Dilan, Rindu itu berat. Tapi aku juga tidak ingin menanggung itu sendiri. Nanti akan kutabung dalam masa depan dengan seseorang, entah dengan kamu, kau, atau anda.

Satu hal yang kau harus tau, aku tidak sabar untuk pergi. Itu tandanya, aku juga tidak sabar bertemu denganmu. Melihatmu dalam do’a saja tidak cukup buat aku meyakinkan Tuhan. Iya, meyakinkan bahwa aku pergi untuk kembali.


Sudah ya, capek nulis perihal pergi. Lebih baik kita jalani saja kesepian yang sudah terasa hawanya ini. Nanti lain kali kita sambung lagi jika jodoh.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya