Kini dia telah pergi, dengan membawa semua kisah singkat kita yang begitu indah. Rasanya aku ingin berlari mengejarnya, tapi aku bisa apa?

Ingin rasanya memaki pada semesta, kenapa mereka mempermainkan kita dengan mempertemukan kita begitu indah lalu memisahkan dengan luka. Terkadang dalam dia ku berdoa dan bertanya, “Tuhan masih bisakah aku menyapanya? “

Advertisement

“Masih bisakah aku tersenyum kepadanya?”

“Masih bisakan aku memandang erat wajahnya?”

“Masih bisakan aku menggenggam tangannya?”

Advertisement

“Masih bisakan kita berjalan beriringan?”

“Masih bisakah kita berbagi tawa kita?”

“Masih bisakah aku mendengar olokannya?”

Mengenai rindu, dia tidak pernah mau menyerah, tak pernah sedetik pun dia berhenti. Rasanya bibir ini ingin selalu memekik meneriakkan namamu. Tapi sekali lagi aku dan rindu ini bisa apa?

Perihal cinta dan sayang, sedikitpun dia tak mau memudar. Setiap waktunya rasa itu tetap tumbuh terjaga meski ku coba kutikam berkali kali, dan meski kucoba tuk berpaling mereka tetap kukuh selalu berpihak padamu lagi, dan lagi.

Apa kau tau setiap malamnya aku selalu mengingat perjalanan kita dahulu, tempat tempat yang kita datangi, dan detik detik waktu saat aku menunggu kau menjemputku, kita bercanda bersama, menghabiskan waktu bersama. Jujur saja aku sangat merindukan masa itu, dan jika boleh berharap aku ingin kembali mengulang masa itu.

Kumohon jangan kau suruh aku menghentikan rindu ini, karena rindu ini begitu indah. Hanya itu yang kupunya yang tersisa dari mu setelah kepergianmu yang tiba tiba. Biarkan aku menikmati candu akan rindumu ini.

Rasanya ada dinding penyekat yang tipis dan kuat di antara kita, Aku hanya bisa melihatmu berlalu lalang dan menyimpan sendiri semua rasa rindu dan semua perasaanku ini, selayaknya angin begitu cepat engkau pergi dan semakin jauh sampai tak bisa ku gapai lagi.  Malangnya, hingga saat ini pun kamu tetap jadi alasan ku menangis dan tersenyum.

Aku harus puas cukup menikmati senyummu dari kejauhan dan berharap rindu ini masih berbalas. Namun sepertinya kau sudah tak punya sedikitpun rasa yang tersisa kepadaku. Jika masih mempunyai kesempatan aku ingin menatapmu lebih lama dan mengungkapan segala rasa yang dulu belum sempat aku ungkapkan. Ya itu menjadi penyesalan tersebesar ku kenapa dulu saat masih bersama aku tidak mengungkapan betapa besarnya aku mencintaimu.

Yang perlu kau tau rasa ini tetap untukmu, Memori ini penuh dengan kenangan kita, dan hati ini selalu berpihak padamu, bibir ini juga selalu menyebut namamu dalam setiap sujudku. Seperti lirik lagu Saat kau disisiku , kembali dunia ceria. Tegaskan bahwa kamu Anugerah terindah yang pernah kumiliki “

Aku masih tetap sama seperti dulu, tetap berdiri disini menantimu dengan senyum ku jika sewaktu waktu kau ingin pulang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya