Jika hujan turun, aku berharap kenangan bersamamu terhapus di dalamnya. Namun jika teriknya matahari yang datang, aku pun berharap segala kenangan tentangmu meleleh bersama peluh yang membasahi tubuhku.


Ini sungguh menyesakkan dada juga kepala. Aku kehilangan akal sehat ketika kau benar-benar tak lagi menginginkanku. Air mataku mengalir tanpa mampu aku kendalikan. Diriku hancur. Jiwaku melebur di antara kata perpisahan yang kau ucapkan.

Pertemuanku denganmu memang aku anggap sebagai anugrah, tetapi perpisahan yang terjadi di antara kita membuatku tergeletak tak berdaya. Begitu mudahnya kau ucapkan perpisahan, tanpa sedikit pun memikirkan dampak yang akan terjadi nantinya sepeninggal dirimu. Apa aku memang tampak seperti orang yang tak layak mendampingimu? Hingga sampai hati kau lakukan ini terhadapku.

Aku hanya bisa bertanya kepada diri sendiri, kenapa aku menjadi orang bodoh karena cinta? Selama ini kau hanya menjadikanku pelarian saja, yang aku kira kau benar-benar mencintaiku karena kesabaranku menunggumu. Ternyata aku salah. Cinta membuatku menjadi orang bodoh.

Kini, setelah aku pikirkan seharusnya kita tak saling mengenal jika pada akhirnya perpisahan yang aku hindari ini terjadi. Aku menyesal telah menerima pernyataanmu kala itu yang tidak ku ketahui berupa bom waktu bagiku sendiri.

Advertisement

Sudahlah, untuk apa aku memikirkan kejadian yang telah terjadi? Hanya menyiksa diriku kembali dengan mengingat kebahagiaan di masa itu, lalu kau lepehkan dengan pernyataan kau masih mencintainya dan kau tak bisa melanjutkan hubunganmu denganku. Aku hanya ingin sendiri kali ini, memahami setiap proses yang terjadi agar kelak hal seperti ini takkan terulang. Jika masih terulang, itu sama saja aku benar-benar bodoh harus jatuh kedua kalinya ke lubang yang sama.